Islamisasi Pengetahuan, Sebuah Pendekatan Metodologis

 


Ketika mendengar istilah Islamisasi Ilmu pengetahuan, ada sebuah kesan bahwa ada sebagian ilmu yang tidak Islam sehingga perlu untuk diislamkan. Dan untuk mengislamkannya maka diberikanlah kepada ilmu-ilmu tersebut  label "Islam" sehingga kemudian muncullah istilah-istilah ekonomi Islam, kimia Islam, fisika Islam dan sebagainya. Bahkan ada sebagian orang yang ceroboh menganggap Islamisasi sebagai suatu proses yang berkaitan dengan objek-objek eksternal, kemudian mengaitkannya dengan komputer, kereta api, mobil bahkan bom Islam. 

Pengertian Islamisasi ilmu pengetahuan ini secara jelas diterangkan oleh al-Attas, yaitu: ”Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, budaya nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa. Islamisasi juga pembebasan akal manusia dari keraguan (shak), dugaan (dzan) dan argumentasi  kosong (mira’) menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible dan materi. Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekuler (Armas, 2009: 9-10). Dengan Islamisasi ilmu pengetahuan, umat Islam akan terbebaskan dari belenggu hal-hal yang bertentangan dengan Islam, sehingga timbul keharmonian dan kedamaian dalam dirinya, sesuai dengan fitrahnya.

Sejalan dengan itu Mulyadhi Kartanegara menyatakan bahwa kata  Islam dalam ”islamisasi” sains, tidak mesti dipahami secara ketat sebagai ajaran yang harus ditemukan rujukannya secara harfiah dalam al-Qur’an dan hadist, tetapi sebaiknya dilihat dari segi spiritnya yang tidak boleh bertentangan dengan ajaran-ajaran fundamental Islam (Kartanegara, 2003: 130).

Implementasi Islamisasi ilmu pengetahuan di dunia Islam,  mempunyai banyak ragam pendekatan. Setidaknya terdapat tiga  pendekatan dalam melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan yaitu : pendekatan labelisasi /ayatisasi, pendekatan aksiologis, dan pendekatan penerapan nilai-nilai Islam dan Konsep Tauhid.

 

Pendekatan Labelisasi / ayatisasi

Islamisasi dengan pendekatan demikian adalah memberikan label Islami pada suatu teori atau ilmu pengetahuan tertentu. Pendekatan labelisasi berdasarkan  pada asumsi bahwa Al Qur’an merupakan wahyu Allah yang bisa memberi penjelasan tentang segala sesuatu, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an Surat  an Nahl ayat 89

 

”.....dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (muslim)”            (An Nahl : 89).

 

Menurut Quraish Shihab, ayat ini menegaskan bahwa Al Qur’an tidak meninggalkan sedikit pun atau lengah dalam memberikan keterangan mengenai segala sesuatu (Shihab, 1992: 52).  Berangkat dari pemahaman ini, maka segala bidang ilmu pengetahuan dapat dicari informasinya dari Al Qur’an sehingga bisa dilakukan labelisasi terhadap suatu teori. Dalam pendekatan ini, ilmu pengetahuan dan Islam tidak bertentangan. Tokoh yang melakukan pendekatan demikian antara lain Maurice Bucaille, dengan karyanya antara lain Bibel, Qur’an, dan Sains modern. Bucaille, seorang dokter ahli bedah Perancis yang kemudian masuk Islam, menyatakan bahwa tidak ada satu ayat pun yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan sebaliknya semua teori ilmu pengetahuan dapat dicari rujukannya dalam Al Qur’an (Shihab, 1992: 66).

Dalam konteks membangun rasa percaya diri, sebagai hujjah kebenaran Islam dan untuk memantapkan keimanan,  pendekatan labelisasi, mungkin cukup bermanfaat. Tapi dalam kerangka menyusun bangunan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban pendekatan ini kurang memberi nilai guna. Untuk itu, Al-Attas menolak pandangan bahwa Islamisasi ilmu bisa tercapai dengan labelisasi sains dan prinsip Islam atas ilmu sekuler. Menurut beliau, usaha yang demikian hanya akan memperburuk keadaan dan tidak ada manfaatnya selama "virus"nya masih berada dalam tubuh ilmu itu sendiri sehingga ilmu yang dihasilkan pun jadi mengambang, Padahal tujuan dari Islamisasi itu sendiri adalah untuk melindungi umat Islam dari ilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan.

 

Pendekatan Aksiologis 

Pada pendekatan ini, Islamisasi dilakukan dengan cara menjadikan Islam sebagai landasan penggunaan ilmu pengetahuan (aksiologi), tanpa mempermasalahkan aspek ontologis dan  epistemologis ilmu pengetahuan tersebut. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak dipermasalahkan, yang dipermasalahkan adalah orang yang menggunakan ilmu pengetahuan tersebut (Nata, 2008: 420).

Pendekatan Islamisasi demikian, bertumpu pada aspek manusianya. Manusia sebagai pengguna ilmu pengetahuan akan menentukan ke arah mana ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan. Dalam pendekatan ini diasumsikan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah netral. Manusia, sebagai user-lah yang akan memberi nilai, dan akan menentukan apakah ilmu pengetahuan membawa manfaat atau sebaliknya membawa mudharat. Islamisasi dalam ranah ini dilakukan terhadap manusianya, agar memiliki komitmen yang tinggi untuk mengamalkan agama dengan teguh dan istiqomah serta menguasai bidang keahliannya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi bisa memberi manfaat besar bagi umat manusia, dan bukan sebaliknya membawa bencana bagi kemanusiaan (Suriasumantri, 2007: 252). 

Gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dengan pendekatan ini dianut antara lain oleh Fazlur Rahman dan Harun Nasution. Model pendekatan Islamisasi ilmu pengetahuan demikian, menyisakan permasalahan yang cukup mendasar. Ilmu pengetahuan dan teknologi pada kenyataannya tidak bisa dipisahkan antara epistemologis, ontologis dan aksiologisnya. Sehingga, melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan hanya dari sisi aksiologis, tanpa menyentuh aspek epistemologis dan ontologis merupakan suatu hal yang sulit kalau tidak bisa dikatakan tidak mungkin. Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berada di tangan manusia yang tidak Islami, sehingga mengisi sisi aksiologinya merupakan pekerjaan yang sangat berat.

 

Pendekatan Internalisasi Nilai-nilai Islam dan Konsep Tauhid

Dalam pendekatan ini, Islamisasi ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara memasukkan nilai-nilai Islam kedalam konsep ilmu pengetahuan dan teknologi. Asumsinya adalah ilmu pengetahuan tidaklah netral, tetapi penuh muatan-muatan nilai-nilai yang dimasukkan oleh orang yang merancangnya. Jadi Islamisasi ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri, bukan hanya pada sisi penggunaannya. Pendekatan model demikian cukup idealis, dan bisa memberi solusi bagi umat Islam dalam melepaskan diri dari belenggu ilmu pengetahuan modern yang didominasi barat. Gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dengan pendekatan ini antara lain dianut oleh Naquib al Attas, Ziaudin Sardar dan AM Syaefuddin. 

Pendekatan penerapan konsep Tauhid, merupakan penegasan dari pendekatan penerapan nilai-nilai Islam. Pada pendekatan ini, Islamisasi ilmu pengetahuan dilakukan dengan menjadikan konsep Tauhid sebagai paradigma bangunan Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Dalam konsepsi Tauhid, ilmu pengetahuan  pada hakekatnya adalah dari Allah, yang disebut ilmullah. Allah sebagai Al Kholiq, pencipta alam semesta ini,   Ia Maha Mengetahui segalanya dari yang paling kecil hingga yang paling besar, yang ghoib maupun yang nyata. Karena itu Allah merupakan sumber ilmu pengetahuan. Ia adalah Al’Aliim (Maha Mengetahui) (Prayitno, 2002: 150). Al Qur’an Surat Al Hadid ayat ayat 4, menegaskan hal ini.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya  dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (Al Hadid : 4).

 

Hal yang senada juga bisa dilihat dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr ayat 22.

 

“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al Hasyr : 22).

 

Karena Rahman dan Rahim-Nya,  pengetahuan yang dimiliki Allah diberikan kepada manusia. Ada dua jalan , yaitu melalui jalur resmi atau formal  (thoriqoh rusmiyyah) dan jalur tidak resmi / tidak formal  (thoriqoh ghoiro rusmiyah). Yunahar Ilyas dalam Kuliah Aqidah Islam menyatakan bahwa, Allah sebagai Dzat yang  mengetahui segala sesuatu, baik yang ghoib maupun nyata. Secara formal Allah memberikan pengetahuan-Nya kepada manusia melalui wahyu, yang diturunkan melalui Rasul. Ini merupakan ayat-ayat qauliyah. Ayat-ayat qauliyah  secara nash mempunyai kebenaran  mutlak, dan menjadi pedoman hidup (minhajul hayat) manusia dan tidak  berubah dari awal diturunkannya ayat Al Qur’an kepada Nabi SAW hingga hari kiamat (Ilyas, 1999: 65). Pemberian informasi melalui jalur tidak resmi adalah  dengan  mentafakuri, mentadaburi dan melakukan penelitian terhadap alam raya. Alam raya dan segala isinya berikut keajaiban-keajaibannya dinamai Al Qur’an sebagai  ayat atau ayat kauniyah atau tanda-tanda bagi keesaan dan kekuasaan Allah (Shihab, 1997: 21). Dengan informasi yang diterima, manusia memperoleh ilmu pengetahuan. Dan dengan informasi yang diperoleh, akan semakin mendalam ilmunya dan semakin meningkat pula keimanannya, seperti yang diisyaratkan dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 164.  

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Al Baqoroh : 164).

 

Deskripsi di atas dapat divisualisasikan dalam bagan berikut.

 

Bagan 1

Ilmu Allah

 

 

 

Gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dengan pendekatan tauhid  merupakan gagasan yang paling idealis dan banyak didukung banyak pihak. Ismail Raji al Faruqi merupakan tokoh utama pembawa gagasan ini. Menurut al-Faruqi, Islamisasi adalah usaha "untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikirkan kembali argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuantujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplindisiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cause (cita-cita)." Dan untuk menuangkan kembali keseluruhan khazanah pengetahuan umat manusia menurut wawasan Islam, bukanlah tugas yang ringan yang harus dihadapi oleh intelektual-intelektual dan pemimipin-pemimpin Islam saat ini. 

Untuk melandingkan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan, "prinsip tauhid"  merupakan prinsip yang digunakan sebagai kerangka pemikiran, metodologi dan cara hidup Islami. Prinsip tauhid ini dikembangkan oleh al-Faruqi menjadi lima macam kesatuan, yaitu (1) Kesatuan Tuhan, (2) Kesatuan ciptaan, (3) Kesatuan kebenaran dan Pengetahuan, (4) Kesatuan kehidupan, dan (5) Kesatuan kemanusiaan (Al Faruqi, 1984: 55).

Untuk merealisasikan Islamisasi ilmu pengetahuan al-Faruqi menggariskan satu kerangka kerja dengan lima tujuan dalam rangka Islamisasi ilmu, tujuan yang dimaksud adalah: (1) Penguasaan disiplin ilmu modern, (2) Penguasaan khazanah  Islam, (3)  Membangun relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ilmu modern, (4) Memadukan nilai-nilai dan khazanah warisan Islam secara kreatif dengan ilmu-ilmu modern, dan (5) Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah (Al Faruqi, 1984: 98).

Untuk merealisasikan  tujuan-tujuan tersebut, al-Faruqi menyusun 12 langkah yang harus ditempuh terlebih dahulu. Langkahlangkah tersebut adalah: (1) Penguasaan disiplin ilmu modern: prinsip, metodologi, masalah, tema dan perkembangannya, (2)  Survei disiplin ilmu, (3) Penguasaan khazanah Islam: sebuah  ontologi, (4) Penguasaan khazanah ilmiah Islam: tahap analisis, (5) Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu., (6) Penilaian secara kritis terhadap disiplin keilmuan modern dan tingkat perkembangannya di masa kini, (7) Penilaian secara kritis terhadap khazanah Islam dan tingkat perkembangannya dewasa ini, (8) Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam, (9) Survei permasalahan yang dihadapi manusia, (10) Analisis dan sintesis kreatif, (11) Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam, dan (12) Penyebarluasan ilmu yang sudah diislamkan (Al Faruqi, 1984: 118).

Model Islamisasi ilmu pengetahuan dengan pendekatan tauhid pernah dipraktekkan oleh umat Islam pada zaman klasik yang membawa kemajuan bagi peradaban manusia. Dengan pendekatan tauhid, lahir banyak sosok ilmuwan yang ensiklopedik dan integrated, yaitu sosok ilmuwan yang selain sebagai ulama ahli ilmu agama  (misalnya ahli fiqih), juga sebagai ahli dalam bidang filsafat, kedokteran atau matematika. Ini misalnya tampak pada sosok Ibnu Sina, Ibnu Rusyd atau Al Razi (Nata, 2008: 425).

Para ilmuwan pada masa itu melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan berangkat dari Al Qur’an dan pemahaman konsepsi Tauhid yang mendalam. Mereka adalah sosok ulul albab sejati yang mempunyai kemampuan memadu dzikir dan fikir secara komprehensif. Ibnu Sina, misalnya yang dikenal sebagai ahli kedokteran, adalah seorang yang sudah hafal Al Qur’an pada usia 9 tahun. Beliau menguasai tafsir Al Qur’an, ilmu kalam, filsafat dan kedokteran. Ilmu kedokteran yang dikembangkan, berdasarkan pada konsep dia tentang jiwa manusia yang terdiri dari unsur jiwa dan rohani. Konsep ini berpijak pada filsafatnya yang mengacu pada Al Qur’an. Maka pengobatan yang beliau kembangkan tidak hanya menggunakan pendekatan fisik, tetapi terpadu dengan konsep jiwa. Ilmu kedokteran yang dikembangkan bukan hanya terpaku pada analisis yang serba mekanis akademis, melainkan dengan pendekatan yang komprehensif.  

Model Islamisasi dengan pendekatan tauhid merupakan model yang sangat ideal dan banyak mendapat dukungan. Oleh sebagian kalangan model demikian dikatakan  terkesan utopis dan sulit dilaksanakan, tetapi sebagaian  banyak kalangan pula  beranggapan bahwa megaproyek ini merupakan suatu keniscayaan untuk direalisasikan. Tak dapat disangkal Islamisasi dengan pendekatan tauhid merupakan megaproyek dalam rangka membangun peradaban umat manusia rabbani yang lebih adil, harmonis, dan mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan  hakiki dunia dan akhirat.

Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.