Islamisasi Ilmu, Sebuah Tantangan Realisasi

 

I


de Islamisasi ilmu pengetahuan, memberi harapan untuk bangkitnya kembali peradaban Islam. Islamisasi ilmu pengetahuan  diharapkan menjadi semacam renasissance. Namun, ide Islamisasi ilmu pengetahuan tidak seluruhnya didukung semua kalangan umat Islam. Ada sebagian kalangan yang kurang sependapat atau bahkan menentang ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Pihak yang kurang sependapat dengan ide Islamisasi ilmu pengetahuan menganggap bahwa gerakan "Islamisasi" hanya sebuah euphoria sesaat untuk mengobati "sakit hati" dan inferiority complex karena ketertinggalan yang sangat jauh dari peradaban Barat, sehingga gerakan ini hanya membuang-buang waktu dan tenaga dan akan semakin melemah seiring perjalanan waktu dengan sendirinya. Mereka percaya bahwa semua ilmu itu sudah Islami, sebab yang menjadi sumber utamanya adalah Allah SWT sendiri. Sehingga mereka sangsi dengan pelabelan Islam atau bukan Islam pada segala ilmu. Pihak yang kurang sependapat dengan ide Islamisasi ilmu pengetahuan  antara lain:

Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdul Karim Soroush, Bassan Tibi, Hoodbhoy dan Abdul Salam (Nata, 2008: 419).

Menurut Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan karena tidak ada yang salah di dalam ilmu pengetahuan. Masalahnya hanya dalam penggunaan ilmu pengetahuan saja, atau dengan kata lain hanya dalam masalah aksiologi saja. Fazlur Rahman  bahkan berkesimpulan bahwa "kita tidak perlu bersusah payah membuat rencana dan bagan bagaimana menciptakan ilmu pengetahuan Islami. Lebih baik kita manfaatkan waktu, energi dan uang untuk berkreasi." Bagi Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan itu memiliki dua kualitas, “seperti senjata dua sisi yang harus dipegang dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab, ia sangat penting digunakan dan didapatkan secara benar.” Baik dan buruknya ilmu pengetahuan bergantung pada kualitas moral pemakainya (Nata, 208: 420).

Abdul Salam, pemenang anugerah Nobel fisika berpandangan bahwa “hanya ada satu ilmu universal yang problem-problem dan modalitasnya adalah internasional dan tidak ada sesuatu yang dinamakan ilmu Islam, seperti juga tidak ada ilmu Hindu, ilmu Yahudi, atau ilmu Kristen. Senada dengan Abdul Salam, Pervez Hoodbhoy, yang juga pernah meraih penghargaan Nobel, menyangsikan keberadaan sains Barat, sains Islam, sains Yunani atau peradaban lain dan berpandangan bahwa sains itu bersifat universal dan lintas bangsa, agama atau peradaban.  Menurutnya "tidak ada sains Islam tentang dunia fisik, dan usaha untuk menciptakan sains Islam dengan Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan pekerjaan sia-sia”.  

Penentang lain ide Islamisasi ilmu pengetahuan adalah Bassam Tibi , seorang sarjana Islam di Jerman berargumen tentang perlunya mewujudkan keserasian Islam dan sekularisme. Bassam Tibi menganggap bahwa Islamisasi merupakan suatu bentuk indegenisasi atau pribumisasi (indegenization) yang berhubungan secara integral dengan strategi kultural fundamentalisme Islam. Islamisasi dianggap sebagai penegasan kembali ilmu pengetahuan lokal untuk menghadapi ilmu pengetahuan global dan invansi kebudayaan yang berkaitan dengan itu, yakni “dewesternisasi”. Namun dalam pandangan Adnin Armas, pemahaman Bassam tibi ini tidaklah tepat. Menurutnya, Islamisasi bukanlah memisahkan antara lokal menentang universal ilmu pengetahuan Barat. Pandangan Bassam

Tibi ini lebih bermuatan politis dan sosiologis dikarenakan umat Islam hanya berada di dalam dunia berkembang, maka gagasannya pun bersifat gagasan lokal yang menentang gagasan global. Padahal, munculnya ide Islamisasi lebih disebabkan perbedaan worldview antara Islam dan agama atau budaya lain yang berbeda. Islamisasi bukan sekedar melakukan kritik terhadap budaya dan peradaban global Barat, tetapi juga mentransformasi bentuk-bentuk lokal supaya sesuai dengan worldview Islam (Armas, 2009: 11).

Kritik terhadap Islamisasi ini juga diajukan oleh Abdul Karim Soroush, ia menyimpulkan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan tidak logis atau tidak mungkin. Alasannya, realitas bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Oleh sebab itu, sains sebagai proposisi yang benar, bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Untuk itu secara ringkas Soroush mengargumentasikan bahwa; 1) Metode metafisis, empiris atau logis adalah independen dari Islam atau agama apa pun. Metode tidak bisa diislamkan; 2) Jawaban-jawaban yang benar tidak bisa diislamkan. Kebenaran adalah kebenaran dan kebenaran tidak bisa diislamkan; 3) Pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah yang diajukan adalah mencari kebenaran, sekalipun diajukan oleh nonmuslim; 4) Metode yang merupakan presupposisi dalam sains tidak bisa diislamkan. Dari keempat argumentasi ini terlihat Soroush memandang realitas sebagai sebuah perubahan dan ilmu pengetahuan dibatasi hanya terhadap fenomena yang berubah.

Seperti juga Abdul Salam dan Soroush, Muhsin Mahdi menolak ide ilmu Islam sebagai istilah yang telah dipakai sekarang. Mahdi beranggapan bahwa ide ilmu Islam adalah produk dari filsafat agama. Dan dia juga beranggapan bahwa ide kontemporer mengenai ilmu Islam adalah suatu usaha untuk mengaplikasikan formulasi filsafat khas Kristen neo-Thomist ke dalam Islam, yang tidak dapat dibenarkan karena, tidak seperti Kristen Katholik, Islam tidak memiliki apa yang disebut sebagai “induk dari segala ilmu” yang merupakan pokok dari seluruh diskursus dan aktivitas filsafat keilmuan.

Gagasan Islamisasi ini juga mendapat tantangan dari Usep Fathudin, karena menurutnya Islamisasi ilmu bukan termasuk kerja kreatif. Islamisasi ilmu tidak berbeda dengan pembajakan atau pengakuan terhadap karya orang lain. Sampai pada tingkat tertentu, Islamisasi tidak ubahnya kerja seorang tukang, jika ada seorang saintis berhasil menciptakan atau mengembangkan suatu ilmu, maka seorang Islam menangkap dan mengislamkannya.

Mulyadhi Kartanegara setuju dengan islamisasi ilmu pengetahuan, dengan beberapa catatan. Pertama, unsur Islam dalam dalam kata islamisasi tidak mesti dipahami secara ketat sebagai ajaran yang harus ditemukan rujukannya secara harfiah dalam Al-Qur’an dan hadis, tetapi sebaiknya dilihat dari spiritnya yang tidak boleh bertentangan dengan ajaran-ajaran fundamental Islam. Kedua, islamisasi ilmu pengetahuan tidak semata pelabelan ilmu pengetahuan dengan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis yang dipandang cocok dengan penemuan ilmiah, tetapi beroperasi pada level epistemologis. Ketiga, islamisasi ilmu pengetahuan didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah sama sekali bebas nilai (Kartanegara, 2003: 130-131)

Terlepas dari adanya pendapat kontra di atas, yang menjadi tantangan besar bagi kelanjutan proses Islamisasi dan merupakan the real challenge adalah sebagai berikut.

Komitmen Kaum Muslimin 

 Seperti diuraikan di depan, tidak semua kaum muslimin sepakat dengan ide Islamisasi ilmu pengetahuan, bahkan Naquib alAttas mengungkapkan bahwa tantangan terbesar terhadap perkembangan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan muncul dari kalangan umat Islam itu sendiri. Kalangan umat Islam yang tidak mendukung ide Islamisasi, antara lain akibat kedangkalan pengetahuan umat Islam terhadap agamanya sendiri (Nata, 2003: 126).

Komitmen  Sarjana Islam.

 Komitmen sarjana Islam masih perlu dipertanyakan. Tuntutan kehidupan yang memunculkan pola hidup materialisme, konsumerisme dan hedonisme menyebabkan mengikisnya semangat dan idealisme sarjana Islam untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan. Ilmu dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjualbelikan untuk meraih keuntungan. Akibatnya, orientasi dalam menuntut ilmu atau pun  dalam mengembangkan ilmu pengetahuan ikut berubah, tidak lagi untuk meraih “keridhaan Allah” tetapi untuk kepentingan diri sendiri

Komitmen Institusi pendidikan tinggi Islam 

 Permasalahan memudarnya idealisme juga terjadi pada institusi Pendidikan Tinggi. Perguruan Tinggi Islam yang seharusnya menjadi ujung tombak gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan, sering terjebak dalam sikap pragmatisme. Sebagian Perguruan Tinggi Islam hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pragmatis, menjadi pabrik industri tenaga kerja dan bukan lagi merupakan pusat pengembangan ide-ide ilmu pengetahuan.  

Tantangan Globalisasi.

 Tantangan globalisasi yang terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi semakin menyuburkan materialisme dan gaya hidup hedonisme dan konsumeristis. Hal ini berimplikasi pada memudarnya idealisme dan semangat mewujudkan Islamisasi ilmu pengetahuan. 


DAFTAR PUSTAKA

Abraha, Kamsul. 2006. Urgensi Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia dalam Rangka Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Sekolah Islam Terpadu. makalah. 

Al Attas, Ismail Fajrie. 2006. Sungai tak Bermuara, Risalah Konsep Ilmu dalam Islam, Sebuah Tinjauan Ihsani. Jakarta: Diwan. 

Al Maroghi, Ahmad Musthafa. 1993. Terjemah Tafsir Al Maraghi, Cetakan ke-2, Semarang: CV Thoha Putra.

Al Faruqi, Isma’il Raji. 1984. Islamisasi Pengetahuan. Penerjemah Anas Mahyidin. Bandung: Pustaka. 

Al-Qur’anulkarim. 2010. Syamil Quran Miracle The Reference. Bandung: Sygma Publising. 

Al Wasyli, Abdullah bin Qasim. 2001. Syarah Ushul ‘Isyrin, Menyelami Samudra 20 Prinsip Hasan Al Banna. Cetakan Pertama. Solo: Era Intermedia. 

Armas, Adnin. 2005. Westernisasi dan Islamisasi Ilmu, dalam Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam. Jakarta: 

INSIST. Thn II No.6/ Juli-September. 

____________. 2009. Westernisasi dan Islamisasi Ilmu. Adian Husaini: Islamic Worldview.

Daud, Wan Mohd Nor Wan. 1998. The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas. diterjemahkan oleh Hamid Fahmy dkk, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas. Bandung: Mizan. 

Faqih, Abdullah Fikri. 2004.  Urgensi  Penguasaan Iptek bagi Umat Islam, makalah dalam seminar Islam dan Ilmu Pengetahuan. Pekalongan: Remaja Masjid Al Karomah Pekalongan. 

Hafidhuddin, Didin,  Ibdalsyah dan Agus Setiawan, Silabus Doktor, Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor

Hasjmi, A  .1975. “Sejarah Kebudayaan Islam. cetakan pertama.  Jakarta”:  Bulan Bintang.

Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat, dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Insani. 

Indrayogi. 2011. “Megaproyek Islamisasi Peradaban Syed M. Naquib Al Attas”, http://indrayogi.multiply.com/reviews/item/10 May 23, '06 12:20 PM, diunduh 16 Mei.  

Ilyas, Yunahar. 1999.  Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: LPPI UMY. 

Kartanegara, Mulyadhi. 2005. Integrasi Ilmu Sebuah Rekonstruksi Holistik. Bandung: Arasy Mizan.

------------------. 2003. Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam,  Bandung: Mizan.

------------------. 2000. Mozaik Khazanah Islam. Jakarta: Paramadina. 

-------------------.2006. Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam. Jakarta: Baitul Ihsan Bank Indonesia. 

Kartanegara, Mulyadhi (et.al), 2011. Pengantar Studi Islam.  Jakarta: Ushul Press. 

Nasr, Seyyed Hossein. 1993. Spiritualitas dan Seni Islam. Bandung: Mizan. 

Nata, Abudin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: Angkasa. 

-----------------, Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Natsir, M., 1981. Dunia Islam dari Masa ke Masa. Bandung; Pustaka.   

Prayitno, Irwan. 2002. Ma’ritullah. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna. 

Quthub, Ali Muhammad. 1988. Fakta Pembantaian Muslimin di Andalusia. Jakarta: Pustaka Mantiq.

Quthb, Sayyid. 2004. Tafir Fi Zhilalil Qur’an,  Dibawah naungan Al Qur’an (Surah An Naml-Pengantar Al Ahzab) Jilid 17. Jakarta: Gema Insani. 

Rais, Amien. 1990. Kata Pengantar, dalam Salim Azzam. Beberapa Pandangan tentang Pemerintahan Islam. Cetakan ke-2. Bandung: Mizan. 

Shihab, Quraish. 1992. Membumikan Al Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan.  Cetakan I. Bandung: Mizan.  

Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.