Bil
Kovach berpendapat “makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin
bermutu pula informasi yang didapat masyarakat yang bersangkutan. Terusanya,
makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat”. Saya percaya, apabila
jurnalisme di suatu masyarakat bermutu, maka kehidupan masyarakat itu juga akan
makin bermutu.
Memandang
elemen kesepuluh dari jurnalisme muncul karena apa yang disebut Lily Yulianti
sebagai citizen journalism. Intinya, warga punya hak dan kewajiban ikut
berpartisipasi dalam mencari, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan
informasi.
Media
Siswa secara otomatis mendapatkan peluang yang terbuka. Tidak hanya menjadi
ruang untuk belajar jurnalistik, lebih dari itu ia menjadi sarana bagi Siswa
untuk berpikir kritis. Ide-ide, gagasan-gagasan, sekritis apapun bisa dilempar
ke publik dengan lebih luas. Sehingga ide-ide itu bisa diuji. Tentu saja ide
itu bisa berupa banyak hal, dan bukankah madrasah adalah rumah bagi beragam
ide?
Media
Siswa punya keuntungan sendiri karena berada di institusi pendidikan yang kaya
dengan ilmu pengetahuan. Karena itu, kontenya mesti sejajar dengan kondisi itu.
Kebebasan
pers di Indonesia perlu cepat-cepat diperkuat antara lain dengan mengembangkan
kemampuan jurnalisme dan memperbanyak jumlah wartawan yang memperdalam lmunya.
Pramoedya
Ananta Toer dalam Khotbah dari Jalan Hidup mengatakan, “Orang boleh
pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Ada
dua syarat sederhana bila kau ingin “bekerja untuk keabadian” : kau harus
tahu dan kau harus berani.
Kau
harus benar-benar menguasai isu yang kau tulis. Pakai kata-kata sederhana.
Kalimat-kalimat pendek. Lebih baik kau tulis masalah sehari-hari. Penyair Widji
Thukul menulis masalah sehari-hari bila memulai syairnya. “Tadinya aku pengin
bilang: aku butuh rumah tapi lantas kuganti dengan kalimat: setiap orang butuh
tanah. Ingat: setiap orang!” tulis Thukul dalam Tentang Sebuah Gerakan.
Sederhana
sekali.
Mulailah
dari hal kecil. Kelak tanpa sadar kau akan baca makin banyak buku. Kau akan
wawancara ribuan orang.
Tetapi
tahu saja tidak cukup. Kau harus punya keberanian, punya nyali
untuk menyatakan pikiran kau.
Pramoedya
dan Thukul adalah orang berani. Parm dipenjara Belanda, Soekarno dan Soeharto.
Perpustakaan Pram dibakar tentara. Bukunya habis. Kupingnya budek gara-gara
hajaran serdadu. Thukul bahkan diculik dan hilang hingga hari ini.
Menulis
adalah “laku moral”. Kita bicara soal kebenaran. Kau harus berani menyatakan
kebenaran.
Jadi,
kalau kau mau menulis, hanya dua syarat sederhana. Kau harus tahu sekecil
apapun yang kau tulis. Dan kau harus berani.
“jurnalis
itu seperti sejarawan. Dia menulis sejarah peristiwa hari ini, sebagai
sejarawan, maka sang wartawan harus teliti dan akurat. Apa yang dia tulis akan
menjadi rujukan fakta dikemudian hari. Akurasi adalah mahkota seorang jurnalis”
kata Amarzan Loebis, mantan redaktur senior di Tempo.
