“Tulisan
ini mencoba mengulas hubungan antara Islam dan sains. Ada beberapa pendapat
mengenai hubungan keduanya. Ada yang berpandangan bahwa antara Islam dan sains
saling bertentangan antara satu dengan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa
Islam dan sains memiliki keselarasan bahkan memperkuat antara satu dan lainnya.
Namun dalam tulisan ini akan memperkuat pendapat yang mengatakan bahwa Islam
dan sains memiliki keselarasan antara satu dengan lainnya. Metode pengumpulan
data dalam tulisan ini adalah studi pustaka. Sumber data dalam tulisan ini
adalah buku, jurnal, dan literatur lainnya yang memiliki kaitan. Tulisan ini
menyajikan beberapa fakta bahwa, Islam dan sains memiliki keselarasan bahkan memperkuat
satu dengan lainnya. Kedua, Islam memiliki keselarasan dengan sains, hal ini
dibuktikan dengan keselarasan ayat-ayat al-Qur’an, sebagai sumber utama Islam.”
Hubungan antara Islam dan sains dapat diketahui melalui
banyak sudut pandang. Keduanya ini mempunyai pengaruh pada manusia, di
antaranya: Islam dan Sains sama-sama memberikan kekuatan, sains memberi manusia
peralatan dan mempercepat laju kemajuan, Islam menetapkan maksud tujuan upaya
manusia dan sekaligus mengarahkan upaya tersebut. Sains membawa revolusi
lahiriah (material), Islam membawa revolusi batiniah (spiritual). Sains
memperindah akal dan pikiran, Islam memperindah jiwa dan perasaan. Sains
melindungi manusia dari penyakit, banjir, badai, dan bencana alam lain. Islam
melindungi manusia dari keresahan, kegelisahan dan rasa tidak nyaman. Sains
mengharmoniskan dunia dengan manusia dan Islam menyelaraskan dengan dirinya.
Seiring berkembangnya zaman, Eropa modern membangun sebuah
sistem yang realistis, bahwa pengalaman yang diungkapkan dengan menggunakan
akal saja tidak mampu memberikan semangat yang ada dalam keyakinan hidup, dan
ternyata keyakinan itu hanya dapat diperoleh dari pengetahuan personal yang
bersifat spiritual.
Hal inilah yang kemudian membuat akal semata tidak
memberikan pengaruh pada manusia, sementara agama selalu meninggikan derajat
orang dan mengubah masyarakat.
Dasar dari gagasan-gagasan tinggi kaum muslim adalah wahyu,
Bagi intelektual muslim, basis spiritual dari kehidupan adalah tentang
keyakinan. Demi keyakinan inilah seorang muslim yang kurang tercerahkan pun
dapat mempertaruhkan jiwanya.
Al-Qur'an sebagai wahyu Allah yang bersumber langsung dari
Allah telah memberikan informasi-informasi tentang alam semesta, khususnya yang
berhubungan dengan matahari, bulan dan bumi. Ada 20 ayat yang menyebut kata
matahari, dan ada 463 ayat yang menyebut kata bumi serta ada 5 ayat yang
menyebut kata bulan. Belum lagi ayat yang menjelaskan tentang langit,
pergantian siang dan malam, serta ayat yang menyebut tentang bintang-bintang.
Dalam hal ini Islam secara terang melalui al-Qur’an
mendorong umatnya untuk senantiasa melakukan pembaharuan di berbagai aspek
kehidupan. Sebab dengan mempelajari dan mengembangkan sains (ilmu pengetahuan)
umat Islam dapat mencapai kesadaran akan keagungan Allah. dan sains dapat
mengharmoniskan dunia dengan manusia, dan Islam menyelaraskan dengan dirinya.
Tinjauan Umum tentang
Islam dan Sains
1. Pengertian Islam dan
Sains
Kata Islam memiliki konseptual yang luas, sehingga ia
dipilih menjadi nama agama (din) yang baru diwahyukan Allah. melalui Nabi
Muhammad kata Islam secara umum mempunyai dua kelompok kata dasar yaitu
selamat, bebas, terhindar, terlepas dari, sembuh, meninggalkan. Bisa juga
berarti: tunduk, patuh, pasrah, menerima. Kedua kelompok ini saling berkaitan
dan tidak dapat terpisah satu sama lain.
Adapun kata Islam secara terminologi dalam Ensiklopedi
Agama dan Filsafat dijelaskan bahwa Islam adalah agama Allah yang
diperintahkan-Nya kepada Nabi Muhammad untuk mengajarkan tentang pokok-pokok
ajaran Islam kepada seluruh manusia dan mengajak mereka untuk memeluknya.
Harun Nasution menerangkan bahwa Islam adalah agama yang
ajaran-ajarannya diwahyukan kepada seluruh masyarakat melalui Nabi Muhammad
sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaranajaran yang bukan hanya
mengenai satu segi tetapi mengenai bebagai segi dari kehidupan manusia. Sumber
dari ajaran-ajaran yang mengadung berbagai aspek itu adalah al-Qur’an dan
hadis.3
Kata sains dalam Webste’s New Word Dictonary berasal ari bahasa
latin yakni scire, yang artinya mengetahui. Jadi secara bahasa sains adalah
keadaan atau fakta mengetahui.4 Sains juga sering digunakan dengan arti
pengetahuan scientia. Secara istilah sains berarti mempelajari berbagai aspek
dari alam semesta yang teroganisir, sistematik dan melalui berbagai metode
saintifik yang terbakukan. Ruang lingkup sains terbatas pada beberapa yang
dapat dipahami oleh indera (penglihatan, sentuhan, pendengaran, rabaan, dan
pengecapan) atau dapat dikatakan bahwa sains itu pengetahuan yang diperoleh
melalui pembelajaran dan pembuktian.5
Asal Pengetahuan
Ada sebuah pertanyaan tentang pengetahuan manusia, apakah
dalam diri manusia terdapat sejumlah pengetahuan yang bersifat fitri? Ada tiga
teori untuk menjawabnya.6 Teori pertama, dalam diri setiap manusia terdapat
banyak konsep dan banyak pula hal-hal yang muktasabah (diperoleh melalui
usaha). Seperti yang diterangkan Allah dalam Q.S al-Nahl: 78, “Dan Alah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun,
dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” Secara
lahiriyah ayat tersebut menerangkan bahwa
“Sesungguhnya ketika kamu dilahirkan, kamu belum mengetahui
sesuatu apapun.” Artinya lembaran hati manusia masih dalam keadaan putih
bersih, maka manusia diberi penglihatan, pendengaran, dan hati agar manusia
dapat menuliskan berbagai hal dalam lembarannya hatinya.
Teori kedua, sesungguhnya manusia ketika dilahirkan sudah
mengetahui segala sesuatu tanpa terlewatkan. Sebagai penjelasan, roh manusia
sebelum ditempatkan di badan, ia berada di alam lain, yakni alam ide. Ide
adalah hakikat dari segala sesuatu yang ada di alam semesta dan roh telah
mengetahuinya. Ketika roh itu dimasukkan ke dalam badan maka muncullah penghalang
yang memisahkan roh dari pengetahuan-pengetahuan ide tersebut. Rupanya teori
kedua ini terpengaruh dari teori plato tentang ide, ia mencontohkan seorang
bayi dilahirkan telah mengetahui segala sesuatu, adapun kemudian adanya proses
pembelajaran adalah untuk mengingatkan sesuatu yang terlupakan.
Teori ketiga, manusia mengetahui sesuatu melalui fitrahnya.
Sehingga pengetahuan yang diperoleh melalui cara ini sangat sedikit, prinsip
berfikir itu bersifat fitrah. Dalam prinsip berfikir ini manusia membutuhkan
guru untuk membuat bangunan intelektualitas manusia agar sedemikian rupa.
Sehingga cukup dengan menyodorkan beberapa hal saja sudah cukup baginya untuk
mengetahui tanpa harus ada dalil dan bukti. Teori ketiga inilah yang umumnya
dipakai oleh para filsuf muslim.
Ilmu Pengetahuan dan
Agama Islam
Hubungan antara Islam dan sains dapat diketahui dengan dua
sudut pandang. Pertama, apakah konsepsi dalam Islam melahirkan keimanan dan
sekaligus rasional, atau semua gagasan ilmiah itu bertentangan dengan
agama.
Sudut pandang kedua, merupakan landasan dalam membahas hubungan
antara Islam dan sains, yakni bagaimana keduanya ini berpengaruh pada manusia.
Agama dan sains sama-sama memberikan kekuatan, sains memberi manusia peralatan
dan mempercepat laju kemajuan, agama menetapkan maksud tujuan upaya manusia dan
sekaligus mengarahkan upaya tersebut. Sains membawa revolusi lahiriah
(material), agama membawa revolusi batiniah (spiritual). Sains memperindah akal
dan pikiran, agama memperindah jiwa dan perasaan. Sains melindungi manusia dari
penyakit, banjir, badai, dan bencana alam lain. Agama melindungi manusia dari
keresahan, kegelisahan dan rasa tidak nyaman. Sains mengharmoniskan dunia
dengan manusia dan agama menyelaraskan dengan dirinya.
Muhammad Iqbal menerangkan bahwa manusia membutuhkan tiga
hal: pertama, interpretasi spiritual tentang alam semesta. Kedua, kemerdekaan
spiritual. Ketiga, prinsip-prinsip pokok yang memiliki makna universal yang
mengarahkan evolusi masyarakat manusia dengan berbasiskan rohani.”
Mengingat hal tersebut, Eropa modern membangun sebuah
sistem yang realistis, bahwa pengalaman yang diungkapkan dengan menggunakan
akal saja tidak mampu memberikan semangat yang ada dalam keyakinan hidup, dan
ternyata keyakinan itu hanya dapat diperoleh dari pengetahuan personal yang
bersifat spiritual. Hal inilah yang kemudian membuat akal semata tidak
memberikan pengaruh pada manusia, sementara agama selalu meninggikan derajat
orang dan mengubah masyarakat.
Dasar dari gagasan-gagasan tinggi kaum muslim adalah wahyu,
wahyu berperan menginternalisasi (menjadikan dirinya sebagai bagian dari
karakter manusia dengan cara manusia memperlajarinya) aspek-aspek lahiriahnya
sendiri. Bagi intelektual muslim, basis spiritual dari kehidupan adalah tentang
keyakinan. Demi keyakianan inilah seroang muslim yang kurang tercerahkan pun
dapat mempertaruhkan jiwanya.
Will Durant (Penulis History
of Civilization) pernah mengatakan:
Harta itu membosankan, akal dan kearifan hanyalah sebuah
cahaya redup yang dingin. Hanya dengan cintalah kelembutan yang terlukiskan
dapat menghangatkan hati.
Bisakah sains dan agama saling menggantikan posisi
masing-masing? Pengalaman sejarah telah menunjukkan bahwa akibat dari
memisahkan keduanya telah membawa kerugian yang tidak dapat ditutup. Agama
harus dipahami dengan perkembangan sains, sehingga terjadi pembaruan agama dari
cengkrama mitos-mitos. Agama tanpa sains berakhir dengan kemandekan. Sehingga
apabila agama tanpa sains hanya akan dijadikan alat orang-orang munafik
mencapai tujuannya.
Sains tanpa agama bagaikan lampu terang yang dipegang
pencuri yang membantu pencuri lain untuk mencuri barang berharga di tengah
malam. Atau bahkan sains tanpa agama adalah pedang tajam ditangan pemabuk yang
kejam.7
Dinamika Pemikiran di
Abad Pertengahan
Ketika dunia barat mengalami masa kegelapan, khususnya di
bidang ilmu pengetahuan akibat doktrin dari gereja, pada saat yang sama, geliat
keilmuan Islam mengalami kemajuan seiring banyaknya pengkajian (research) dan
pengembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat sehingga melahirkan peradaban
yang bernilai tinggi. Ada dua faktor yang mempengaruhi kemajuan ini: pertama,
faktor internal bahwa Islam sangat mendorong umatnya untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan, ditandai dari wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah
perintah iqra’ yang menunjukkan bahwa dunia Islam memberikan perhatian yang
besar terhadap research dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dorongan faktor eksternal ialah diperoleh melalui kekuatan
sistem pendidikan yang integral dan dinamis, di antaranya ketersediaan
perpustakaan yang memadai pada setiap lembaga pendidikan. Kuatnya dukungan dari
penguasa yakni menyediakan sarana yang lengkap untuk para ilmuan dalam
mengembangkan teori-teori bahkan akan menghargai dengan sangat tinggi setiap
temuan-temuan yang ada.
Pembahasan diatas membuktikan bahwa pada saat Eropa berada
pada abad pertengahan (zaman kegelapan), umat Islam tengah mengalami kejayaan
dan kemajuan peradabannya, kemajuan inipun dirasakan nonmuslim termasuk Barat.8
Seiring dengan mundurnya umat Islam di akhir abad pertengahan, sentuhan dunia
barat dengan Islam pada akhirnya memunculkan tranformasi intelektual dari dunia
Islam ke dunia Barat, sehingga melahirkan gerakan renaissance, reformasi,
rasionalisme,dan aufklarung di dunia Barat.
Dengan demikian, kemajuan sains dan teknologi serta
semangat intelektualisme yang berkembang begitu pesat di Barat pada saat ini,
tidak terlepas dari kontribusi kemjaun umat Islam pada masa sebelumnya.9
Salah satu faktor utama bagi timbulnya majunya peradaban
Islam ketika abad pertengahan adalah membanjirnya proses penerjemahan berbagai
literatur ke dalam bahasa Arab. Di antara literatur yang diterjemahkan tersebut
adalah buku-buku India, Iran, dan buku Suriani-Ibrani, terutama sekali
buku-buku Yunani. Pada pusat-pusat kebudayaan seperti Syria, Mesir, Persia,
juga Mesopotamia, pemikiran filsafat Yunani ditemukan oleh orang muslim. Namun
kota Baghdad yang menjadi pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyah menjadi jalur utama
masuknya filsafat Yunani ke dalam Islam, dan di sinilah timbul gerakan
penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Berkat adanya usaha-usaha
penerjemahan tersebut, umat Islam telah mampu mewarisi tradisi intelektual dari
tiga jenis kebudayaan yang sangat maju, yakni Yunani, Persia, dan India.
Warisan intelektual tersebut dimanfaatkan dalam membangun suatu kebudayaan ilmu
pengetahuan yang lebih maju, seperti yang terlihat dalam berbagai bidang ilmu
dan mazhab filsafat pemikiran Islam.
Di Bagdad, dibuka jasa penerjemahan. Bagi penerjemah
buku-buku bahasa asing, akan dibayar dengan emas seberat buku yang
diterjemahkan. Selain itu, di Baitul Hikmah, terdapat 400 ribu judul buku.
Fenomena ini kemudian melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang
menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Berhasilnya pencapaian kemajuan Islam di berbagai bidang,
khususnya ilmu pengetahuan yang demikian pesat dan beragam itu adalah berkat
dorongan internal (faktor teologis) dan faktor eksternal yang antara lain
berupa sentuhan dengan peradaban dan budaya luar yang berupa kontak intelektual
dengan filsafat dan budaya Yunani pada masa itu. Persentuhan antar kebudayaan dimaksud
sebenarnya sudah berlangsung sejak masa Umayyah, namun kemudian mencapai
puncaknya pada era Abbasiyah berkat terlembagakannya upaya-upaya penterjemahan,
yang kemudian dikenal dengan nama Khizāna al-Ḥikmah
maupun Bait al-Ḥikmah.10
Menurut Iqbal Dawami mengutip Myer, setidaknya ada empat
hal yang menjadi akar atau potensi munculnya peradaban Islam dalam hal ilmu
pengetahuan:11
Di tengah kemunduran Yunani dan munculnya Islam,
berkembanglah sebuah kebudayaan yang memainkan peranan penting setelah
kebudayaan Yunani dan juga merupakan sebuah perpaduan dari elemen-elemen timur,
yaitu peradaban Helenisme, yang mulai muncul di permukaan setelah 300 SM.
Tempat yang menjadi pusat intelektualnya adalah Alexandria. Sebuah institusi
penelitian yang besar, de museum, telah dibangun di kota ini.
Filsafat Yunani mengalami stagnasi sejak tahun 529 M
seiring dengan penutupan Akademi Athena secara resmi oleh Justianian.
Akademi Jundishapur di Parsi, sebuah akademi yang menjadi
pusat pertukaran dan sinkretisme pengetahuan terbesar pada abad ke-7 M.
Institusi ini menjadi surga bagi para Nestorian (pengikut Nestorius) yang
diusir dari Edessa pada tahun 489 M dan juga bagi para Platonis yang terusir.
Para Nestorian itu membawa bersama mereka ke Jundishapur terjemahan-terjemahan
Syiria dari berbagai macam karya, khususnya karya-karya dalam bidang
pengobatan. Di Jundishapur pula Kisra Anushirwan memerintahkan penerjemahan
karya-karya Aristoteles dan Plato ke dalam bahasa Parsi.
Aktivitas para
Nestorian. Pada pertengahan pertama abad kelima masehi, pendeta Suriah,
Nestorius, dipecat dan diusir dari kota Antioch ke wilayah Arab dan kemudian ke
Mesir. Para pengikutnya dengan tulus dan penuh dedikasi mereka pindah sambil
mengajarkan ilmunya ke wilayah Timur, tepatnya kota Edessa. Di sana terdapat
sebuah akademi kedokteran yang sedang berkembang. Akademi itu menjadi pusat
bagi aktivitas Nestorian dan memperoleh dukungan dari Akademi Nisbis di
Mesopotamia dan juga dari Akademi Jundishapur.
Selain hal-hal di atas, munculnya akar peradaban Islam
boleh jadi lantaran semangat keagamaan yang tinggi dalam memajukan ilmu
pengetahuan, karena ayat suci al-Qur’an sendiri telah memotivasi kaum muslimin
agar mereka selalu membaca dan membaca.
Al-Kindi: Biografi,
Pemikiran, dan Karya
Para cendekiawan muslim, salah satunya al-Kindi, memiliki
reputasi dan pengaruh yang diakui tidak hanya di dunia Islam abad pertengahan
bahkan juga mewarnai filsuf-filsuf barat modern.
Sedemikian besarnya
pengaruh filsuf-filsuf muslim ini hingga W. Montgomery Watt mengambil
kesimpulan bahwa tanpa keberadaan mereka, ilmu pengetahuan dan filsafat orang-orang
Eropa tidak akan bias berkembang seperti ketika
dulu nenek moyang mereka mengembangkannya
untuk pertama kalinya.12
Al-Kindi, alkindus,13 nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’kub ibn
Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn Ismail Al-Ash’ats ibn Qais Al-Kindi, lahir di
Kufah, Iraq sekarang, tahun 801 M, pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809
M) dari Dinasti Bani Abbas (750-1258 M). Nama Al-Kindi sendiri dinisbahkan
kepada marga atau suku leluhurnya, salah satu suku besar zaman pra-Islam.
Menurut Faud Ahwani, Al-Kindi lahir dari keluarga bangsawan, terpelajar, dan
kaya. Ismail Al-Ash’ats ibn Qais, buyutnya, telah memeluk Islam pada masa Nabi
Muhammad dan menjadi sahabat Rasul. Mereka kemudian pindah ke Kufah. Di Kufah, ayah Al-Kindi, Ishaq ibn Shabbah,
menjabat sebagai gubernur, pada masa Khalifah Al-Mahdsi (775-785 M), Al-Hadi
(785-876 M), dan Harun Al-Rasyid (786-909 M), masa kekuasaan Bani Abbas
(750-1258 M). Ayahnya meninggal saat Al-Kindi masih kecil.
Al-Kindi melewati masa kecilnya di Kufah dengan menghafal
al-Qur’an, mempelajari tata bahasa Arab, kesusastraan Arab dan ilmu hitung.
Keseluruhan yang dipelajarinya di masa itu merupakan kurikulum pelajaran wajib
bagi semua anak-anak zamannya di wilaah Kufah. Di ibu kota pemerintahan Bani
Abbas ini, al-Kindi mencurahkan perhatiannya untuk menerjemah dan mengkaji
filsafat serta pemikiranpemikiran rasional lainnya yang marak saat itu.14
Para cendikiawan berbeda pendapat tentang wafatnya
al-Kindi, Mustaffa ‘Abd al-Raziq misalnya mengatakan bahwa wafatnya al-Kindi
pada tahun 252 H, sementara Massignon, Henry Corbin dan Nellino sepakat bahwa
wafatnya al-Kindi terjadi pada tahun 260 H. Sedangkan Yaqut al-Himawi percaya
bahwa al-Kindi Wafat sesudah berusia 80 tahun atau lebih sedikit.15
Para sejarawan memberi julukan kepada Al-Kindi sebagai
“Filsuf Arab” disebabkan dia adalah satu-satunya filsuf muslim keturunan Arab
asli yang bermoyang kepada Ya’qub ibn Qahthan yang bermukim di kawasan Arab
Selatan. Al-Kindi termasuk filsuf Islam yang sangat produktif. Dia telah
menulis banyak karya yang meliputi berbagai macam bidang ilmu. Ibnu Nadhim
mengatakan bahwa al-Kindi telah merilis 260 judul karya seperti, Filsafat,
Logika, Kosmologi. Akan tetapi, sedikit
saja jumlah karya al-Kindi yang sampai ke tangan orang-orang setelahnya.
Sebagian riwayat mengklaim bahwa karya-karya al-Kindi hilang semasa
kepemimpinan Khalifah al-Mutawakkil. Dalam sejarah hidupnya, di samping dikenal
sebagai filsuf, al-Kindi juga tersohor sebagai kimiawan, seorang ahli musik,
astronom, dokter, ahli geografi, bahkan seorang ahli musik. Dalam
karya-aryanya, ia banyak menyoroti masalah logika dan matematika. Ia juga
menulis ulasan-ulasan atas buku Aristoteles.16
Al-Kindi telah menulis hampir seluruh ilmu pengetahuan yang
berkembang pada saat itu. Tetapi, di antara sekian banyak ilmu, ia sangat menghargai
matematika. Hal ini disebabkan karena matematika, bagi alKindi, adalah
mukadimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukadimah ini begitu
penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam
filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini meliputi
ilmu tentang bilangan, harmoni, geometri dan astronomi.17
Adapun beberapa karya yang tulis al-Kindi adalah sebagai
berikut: Pertama, fil al-falsafat al-Ula, Kedua, Kitab al-Hassi ’ala Ta’allum al-Falsafat.
Ketiga, Risalat ila al-Ma’mun fi al-’illat wa Ma’lul. Keempat, Risalat fi
Ta’lif al-A’dad. Kelima, Kitab al-Falsafat alDakhilatn wa al-Masa’il
al-Manthiqiyyat wa al-Mu ’tashah wa ma Faruqa al-Thabi’yyat. Keenam, Kammiyat
Kutub Aristoteles, Ketujuh, Fi alNafs, dan lainnya.18
Al-Kindi juga adalah salah satu orang yang terkenal di
bidang pengobatan. Dalam dunia pengobatan al-Kindi menghasilkan karya antara lain:19
Risalah fi’illat
Nafts ad-Daman tentang homoptesisi (batuk darah dari saluran pernapasan).
Risalah fi
Asyfiyat as-Sumum tentang penawar racun.
Risalah ‘illat
al-Judwan wa Asyfitatuhu, tentang penyakit lepra dan pengobatannya.
Risalah fi
‘Adhat al-Kalb al-Kalib, tentang rabies.
Risalah fi
‘illat Baharin al-Amradah alHaddah, tentang sebab igauan dalam
penyakit-penyakit akut.
Al-Kindi juga dikenal sebagai cendekiawan yang mahir dalam
bidang musik. Al-Kindi bahkan pernah menyusun notasi yang mirip dengan skala
nada kromatik, sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut:20
Symbols: A. B. J.
D. H.
W. Z.
H. T.
Y. K.
L.
Notes : a.
b♭ b.
c. c♯ d. e♭ e. f.
f♯ g.
a♭
Notasi fonetis di atas telah digunakan jauh sebelum notasi
fonetik diadopsi oleh Eropa Barat, bahkan sebelum masa al-Farabi. Kaum Muslim
menggunakan notasi fonetis tersebut sejak awal abad ke-9 pada masa al-Ma’mun
(w. 833) dan Ishaq al-Maushili (w. 850). Notasi tersebut juga ditemukan dalam
karya-karya al-Kindi.
Selain itu juga, al-Kindi berjasa dalam mengembangkan ilmu
mantiq di dunia Islam. Lebih dari itu, al-Kindi juga menjadikannya sebagai
basis filosofis untuk pengembangan keilmuan yang mereka bangun.21 Dari uraian
di atas dapat dijadikan bukti bahwa wawasan keilmuan al- Kindi sangatlah luas.
Sains dan Ayat-ayat
al-Qur’an
Ketika kita berbicara tentang sains dan teknologi, maka
kita tidak boleh melupakan peran cendekiawan Islam terhadap khazanah
intelektual Timur dan Barat. Sebagai
contoh Ibnu Sina, al-Ghazali, al-Biruni, alTabari, Nasiruddin, Abu al-Wafa,
Al-Battani, dan Omar Khayam yang berasal dari Persia. Al-Kindi, orang Arab,
al-Khawarizmi adalah dari Khiva,
al-Farghani dari Trasoxiania (Yordania), al-Farabi dari Khurasan, al-Zarkali (Arzachel),
al-Betragius (al-Bitruji), dan Averroes (Ibn Rusyd) adalah Arab Spanyol. Kita
tidak bisa menafikan sumbangan intelektual Muslim tentang matematik, ilmu
kedokteran, ilmu astronomi, ilmu falak, ilmu arsitektur, ilmu geografi, dan
lain-lain.22
Pada abad pertengahan, dunia Islam telah memainkan peranan
penting baik di bidang sains teknologi. Harun Nasution menyatakan bahwa
cendekiawan-cendekiawan Islam tidak hanya mempelajari sains-teknologi dan
filsafat dari buku Yunani, tetapi menambahkan ke dalam hasil-hasil penyelidikan
yang mereka lakukan dalam lapangan sains-teknologi dan hasil pemikiran mereka
dalam ilmu Filsafat. Dengan demikian, lahirlah ahli-ahli ilmu pengetahuan dan
filsuf-filsuf Islam, seperti, al-Farazi (abad VIII) sebagai astronom Islam yang
pertama kali menyusun Astrolabe (alat yang digunakan untuk mengukur tinggi bintang)
dan sebagainya. Para ilmuwan tersebut memiliki pengetahuan yang bersifat
desekuaristik, yaitu ilmu pengetahuan umum yang mereka kembangkan tidak
terlepas dari ilmu agama atau tidak terlepas dari nilai-nilai Islam. Ibnu Sina
misalnya, di samping hafal al-Qur‘an dia dikenal ahli di bidang kedokteran.
al-Biruni, seorang ahli filsafat, astronomi, geografi, matematika, juga
sejarah. Ibnu Rusyd, yang oleh dunia
barat dikenal dengan Averous, dia bukan hanya terkenal dalam bidang filsafat,
akan tetapi juga dalam bidang Fiqh. Bahkan kitab fiqih karangannya, yakni Bidayatul
Mujtahid dipakai sebagai rujukan umat Islam di berbagai negara.23
Begitu tingginya nilai ilmu dalam peradaban manusia, Allah
menegaskan dalam al-Qur‘an bahwa Dia akan meninggikan derajat orangorang yang
berilmu dan beriman sebagaimana dalam Al-Mujadalah ayat 11, Allah Berfirman:
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapanglapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orangorang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat di atas menunjukkan kepada kita betapa Islam
memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu. Apapun bentuk ilmu itu, selama
bisa memberikan kemanfaatan, maka ilmu tersebut harus dicari. Allah dan
RasulNya tidak menyebut suatu disiplin ilmu tertentu yang menjadi penyebab seseorang
akan diangkat derajatnya oleh Allah, demikian juga tidak menyebut dengan
menunjuk ilmu-ilmu tertentu untuk dipelajari.
Islam dan Sains tidak saling bertentangan, bahkan
sebaliknya yakni memiliki keselarasan. Ada banyak ayat yang telah ditafsirkan
oleh cendekiawan atau pengkaji al-Qur’an terkait dengan kesesuaiannya dengan sains.
Salah satu yang telah diteliti untuk menguatkan argumentasi
di atas adalah ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesesuaian dengan teori
Heliosentris. Teori ini beranggapan bahwa matahari adalah merupakan pusat
peredaran planet-planet, termasuk di dalamnya adalah bumi, sedangkan bulan
adalah mengelilingi bumi yang kemudian bersama-sama bumi berputar mengelilingi
matahari. Sedangkan matahari hanyalah berputar mengelilingi sumbunya saja.24
Al-Qur'an sebagai wahyu Allah yang bersumber langsung dari
Allah telah memberikan informasi-informasi tentang alam semesta, khususnya yang
berhubungan dengan matahari, bulan dan bumi. Ada 20 ayat yang menyebut kata
matahari, dan ada 463 ayat yang menyebut kata bumi serta ada 5 ayat yang
menyebut kata bulan. Belum lagi ayat yang menjelaskan tentang langit,
pergantian siang dan malam, serta ayat yang menyebut tentang
bintang-bintang.
Terkait dengan teori Heliocentris, ada beberapa ayat yang
menjelaskan tentang gerak matahari, bulan dan bumi, yaitu surat Yunus: 5, surat
Yasin: 38, dan surat al-Naml: 88. Beberapa ayat tersebut adalah:
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan
bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan
bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah
tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan
tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
Secara khusus Allah menjelaskan perjalanan matahari dalam
surat Yāsīn ayat 38:
Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah
ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Sedangkan mengenai
gerak bumi, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Naml: 88
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap
di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan
Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Selain itu, ada juga kajian yang telah menafsirkan ayat
al-Qur’an yang memiliki kesesuaian dengan ilmu geologi yang ditulis oleh
Izzatul Laila. Ia mengatakan bahwa lempeng-lempeng litosfer bergerak dan saling
berinteraksi satu sama lain. Pada tempat-tempat tertentu saling bertemu dan
pertemuan lempengan ini menimbulkan gempa bumi. Sebagai contoh adalah Indonesia
yang merupakan tempat pertemuan tiga lempeng: Eurasia, Pasifik dan
Indo-Australia. Bila dua lempeng bertemu maka terjadi tekanan (beban) yang
terus menerus. Dan bila lempengan tidak tahan lagi menahan tekanan (beban) maka
lepaslah beban yang telah terkumpul ratusan tahun itu, akhirnya dikeluarkan
dalam bentuk gempa bumi.
Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Zalzalah, 99: 1–4:25
“Apabila bumi ‘digoncangkan dengan goncangan (yang
dahsyat).’ Dan bumi telah ‘mengeluarkan beban-beban beratnya.’ Dan manusia
bertanya: ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan
beritanya.”
Beban berat yang dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi
merupakan suatu proses geologi yang berjalan bertahun-tahun. Begitupun
seterusnya, setiap selesai beban dilepaskan, kembali proses pengumpulan beban
terjadi.
Proses geologi atau ‘berita geologi’ ini dapat direkam baik
secara alami maupun dengan menggunakan peralatan geofisika ataupun geodesi.
Sebagai contoh adalah gempa-gempa yang beberapa puluh atau ratus tahun yang
lalu, peristiwa pelepasan beban direkam dengan baik oleh terumbu karang yang
berada dekat sumber gempa. Pada masa modern, pelepasan energi ini terekam oleh
peralatan geodesi yang disebut GPS (Global Position System).
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
antara Islam dan sains tidak bertentangan satu sama lain. Bahkan, antara Islam
dan sains memiliki keselarasan dan dapat mempertegas antara satu dan yang
lainnya.
Keselarasan Islam dan sains dapat dibuktikan dengan banyak
hal. Salah satunya dengan produk berupa tokoh-tokoh Islam yang cemerlang dan
memiliki kontribusi dalam bidang sains. Beberapa nama terkenal Islam tersebut
diantaranya Ibnu Sina yang memiliki kontribusi dalam banyak bidang seperti
kedokteran, filsafat, dan lain sebagainya.
Selain itu juga, ayat-ayat al-Qur’an, sumber utama dalam
Islam, memiliki keselarasan dengan penemuan-penemuan sains masa kini.
Beberapa diantaranya seperti ayat-ayat tentang bulan,
bintang, dan matahari.
Al-Qur’an telah lama memuat ayat-ayat yang berbicara
tentang hal tersebut, dan telah dibuktikan kebenarannya oleh sains modern.
BEBERAPA REFERENSI:
Ma’luf,
al-Munjid fi al-Lughah wa al’-a’lam, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1975), hlm. 347
Effendi,
Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Cet I, (Palembang: Univ. Brawijaya, 2001), hlm.
500.
Harun
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, Cet 1 (Jakarta:
UI
Press, 1979), hlm.17
Lihat
Pengertian Sains, https://alif.id//read//muhammad-ishom/pengertian-sainsb2157114p/
Jurnal
Dakwah Tabligh, Vol. 14, No 1, Juni 2013, STAIN Palopo, karya Baso
Hasyim,
Islam dan Ilmu Pengetahuan (Pengaruh Temuan Sains Terhadap Perubahan Islam),
129
Murtadha
Muthahhari, Fitrah, (Jakarta, Lentera: 2008), 45
Murtadha
Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam tentang Jagat
Raya,
(Jakarta: Lentera Basritama, 2002 ), 10-17
Jurnal
Islam Futura, Transformasi Intelektual Islam ke Barat, 24
Syamsul
Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan,
(Jakarta:
Kencana, 2016), 36
Salahuddin,
“Bait Al-Ḥikmah Dan Kontribusinya Dalam
Perkembangan Tradisi Keilmuan Islam Pada Era Abbasiyah,” HUNAFA: Jurnal Studia
Islamika 8, no. 1 (2011): 156, https://doi.org/10.24239/jsi.v8i1.92.153-173.
M.
Iqbal Dawami, “Kontribusi Penerjemah Pada Zaman Keemasan Islam,” Adabiyyāt:
Jurnal Bahasa dan Sastra 7, no. 1 (2008): 97–98,
https://doi.org/10.14421/ajbs.2008.07106.
Abubakar
Madani, “Pemikiran Filsafat Al-Kindi,” Lentera IXX, no. 2 (2015): 107.
Sri
Sudewi dan Sri Mardikani Nugraha, “Sejarah Farmasi Islam dan Hasil Karya
Tokoh-Tokohnya,” Aqlam: Journal of Islam and Plurality 2, no. 1 (2017): 61,
https://doi.org/10.30984/ajip.v2i1.511.
Madani,
“Pemikiran Filsafat Al-Kindi,” 108.
Aravik
dan Amri, “Menguak Hal-Hal Penting Dalam Pemikiran Filsafat alKindi,” 194.
Madani,
“Pemikiran Filsafat Al-Kindi,” 108–9.
Nuning
Khamidah, “Integrasi Pendidikan Karakter Berbasis Agama Islam dalam
Pembelajaran Matematika di Madrasah Ibtidaiyah,” Al-Bidayah: Jurnal Pendidikan
Dasar Islam 6, no. 2 (2014): 244–45.
Aravik
dan Amri, “Menguak Hal-Hal Penting Dalam Pemikiran Filsafat alKindi,” 194.
Sudewi
dan Nugraha, “Sejarah Farmasi Islam dan Hasil Karya TokohTokohnya,” 61.
Rahmat
Hidayatullah, “Kontribusi Musik Arab-Islam Terhadap Musik Eropa Abad
Pertengahan,” Bayan: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam VI, no. 1 (2016): 20.
M.
Muslih, “Sains Islam Dalam Diskursus Filsafat Ilmu,” Kalam: Jurnal Studi Agama
dan Pemikiran Islam 8, no. 1 (2014): 5, https://doi.org/10.24042/klm.v8i1.162.
Muhammad
AR., “Sains, Teknologi, Dan Nilai-Nilai Moral,” Elkawnie: Journal of Islamic
Science and Technology V 2, no. 2 (2016): 120–21,
www.jurnal.arraniry.com/index.php/elkawnie.
Nurul
- Anam, “Al-Qur’an Dan Hadits: Dialektika Sains-Teknologi Dan Ilmu Agama,” Al-Adalah
7, no. 1 (2008): 214.
Slamet
Hambali, “Astronomi Islam Dan Teori Heliocentris Nicolaus
Copernicus,”
Al-Ahkam 23, no. 2 (2013): 228, https://doi.org/10.21580/ahkam.2013.23.2.24.
Izzatul
Laila, “Penafsiran Al-Qur’an Berbasis Ilmu Pengetahuan,” Epistemé: Jurnal
Pengembangan Ilmu Keislaman 9, no. 1 (2014): 59–60,
https://doi.org/10.21274/epis.2014.9.1.45-66.
