“Ndut, bok yoo manut wae karo bapak, kuliah !”, ujar Peno menasehati adiknya, Ndindut yang baru saja menghujankan alasan kepada Kaji Pi’i, bapaknya, lantaran enggan disuruh melanjutkan kuliah.
“Aku
tidak seperti sampeyan, Mas”,
balas Ndindut sembari melototkan pandanganya ke wajah Peno. “Aku ora betah nekuni
buku-buku. Aku ora nyaman dikejar-kejar tugas utowo diweden-wedeni ujian. Aku ora
seneng karoan rutinitas awet esuk sampai sore tanpa mempedulikan dinamika dan
pasang-surut lahir-batinku, Mas !”.
“Ya,
golek’o jurusan lan model kuliah seng sesuai karo keinginanmu Ndut”, tegas Peno kembali meyakinkan
adiknya.
“podo
wae, Mas. kalau tergantung masih sekolah, ora adoh soko rutinitas sing mengancam
iku?”, Bantahnya.
“Sekarang
sekolah itu jenisnya macam-macam, tidak sesederhana yang kau bayangkan”,
Peno coba menjelaskan. “Para ahli dan pelaksana pendidikan juga tidak
seburuk yang kau kira. Pastilah mereka juga sadar tentang situasi yang kau
keluhkan itu. Aku tahu ada banyak jenis dan model sekolah atau kuliah. Salah
satunya mungkin cocok dengan keinginanmu? ”.
“Weslah
Mas, rasane memang sekolah kui dudu bakatku. Ono hal okeh lain sing lebih produktif
sing iso tak lakoni tinimbang maksake diri sekolah. Kalau aku paksakan, kuatir
hasile mung hilang biaya, hilang waktu, dan hilang tenogo”, Jelasnya, “aku pengen
bekerja wae. Aku tahu bahwa aku tidak boleh menghentikan ilmu, tapi bukankah
tidak harus dengan sekolah to Mas? ”.
“golek
ngelmu kui wajib, ananging sekolah kui bakat,” penjelasnya ringkas. -Ndindut
memang tidak sefasih kakaknya dalam berbahasa indonesia, lantaran dari dulu
sejak SMP ndindut memang sudah agak malas-malasan untuk sekolah-.
Peno
terdiam. Sesungguhnya sangat bisa dipahami peno apa yang ada dipikiran adiknya.
Namun membiarkan sang adik berhenti sekolah juga rasanya agak gimana .
“kang
Mas, Kalimat indah iki aku dapatkan bukan dari seorang filosof, guru, atau
orang suci mana pun mas, namun dari Mad Lebong. Ya, Mad Lebong, sosok yang tak
pernah mengenyam pendidikan formal seumur hidupnya. Sak jujur’e aku ora golek
bakat sekolah”. tegas
ndindut.
Sebenarnya
Peno bisa saja mendebatnya dengan aneka teori yang menjelaskan apa itu yang
dimaksud bakat, termasuk bagaimana ia terbentuk dan bisa diubah. Apalagi adiknya
berujar kalau prinsipnya itu hanya dari mad lebong yang agak nggak bisa di
percaya sebenarnya segala statementnya. Namun memperdebatkan teori dalam
situasi semacam ini rasanya hanya akan menambah kerumitan masalah dan tidak produktif,
karena sebenarnya Peno paham situasi yang dirasakannya sekaligus tahu apa yang
diinginkannya.
***
Sebenarnya
terkait masalah yang Ndindut katakan ada bijaknya juga. Pertama,
menunjukkan bahwa Ndindut telah memiliki kesadaran tentang hidupnya, di saat
banyak orang lain hanya mengalir dan mengikut arus saja tanpa berpikir. Kedua,
menunjukkan bahwa Ndindut punya prinsip, tidak tahu ingin berbeda atau ingin
enaknya sendiri, namun Ndindut punya dasar dan argumen atas keputusanya.
Statement
“Mencari ilmu itu wajib, namun sekolah itu bakat”, ada bijaknya. Tidak
semua orang memiliki bakat sekolah dengan sistem yang sementara ini di kenali.
Tidak semua orang betah menjalani rutinitas sekolah, hampir hadir setiap hari,
kesediaan untuk diuji, dan diukur secara kompetitif dan kuantitatif, juga
instruksi untuk setia terhadap kode etik, administrasi, dan birokrasinya. Bagi
orang tertentu, suasana semacam itu memang akan membuat tidak kerasan. Sangat dimaklumi
apa yang Ndindut keluhkan, karena sebenarnya banyak juga yang tidak terlalu
sepakat dengan pakem-pakem atau pembakuan sistem yang mengasumsikan bahwa daya
dan gaya setiap manusia, termasuk dalam dunia pendidikan.
Sekolah
secara umum tidak terlalu telaten yang mengidentifikasi dan melayani keragaman
daya dan gaya ini. Ada tipe orang yang suka menyendiri saat belajar, ada yang
suka belajar bersama dalam keriuhan. Ada yang nyaman belajar dengan cara
dialog, ada yang lebih memilih membaca sendiri, bahkan ada pula yang lebih
paham saat mendengarkan. Ada 'tipe perpustakaan' yang passion belajarnya ada di
dalam penjelajahan pustaka dan referensi, ada pula tipe 'lapangan' yang passion
belajarnya terdapat dalam terjun langsung menjelajahi arena nyata kehidupan.
Banyak
juga yang heran melihat fenomena dan tuntutan-tuntutan ‘penyeragaman’ ini dalam
banyak situasi sehari-hari. Fenomena penyeragaman ini kadang muncul dalam
bentuk aturan yang kaku atau melalui keputusan yang otoriter; yang tidak
menerima kemungkinan pengecualian dan tidak menyiapkan mekanisme untuk mewadahi
keberagaman, termasuk dalam dunia pendidikan. Keheranan ini sebenarnya berkait
pula dengan tanggapan sebagian orang yang sering sekali membandingkan seseorang
dengan orang lain, lalu mengunggulkan yang satu dan menjatuhkan yang lain,
dengan dasar tipe ideal atau standar baku yang ada di kepalanya.
Bahkan
kalau diperhatikan, sering banyak orang tanpa sadar menuntut standar yang sama
kepada semua orang. Kembali ke soal sekolah itu. Sekali lagi banyak yang setuju
dengan keputusan dan sikap sebagaimana yang Ndindut pilih. Mungkin passion-nya
dalam mencari ilmu memang tidak melalui institusi formal yang bernama sekolah,
namun dalam bentuk yang lain. Tetapi tetap saja, jangan bosan dan berhenti
menambah ilmu, karena selain merupakan kewajiban, kualitas dan kemuliaan hidup nantinya
banyak bergantung pada ilmu. Terserah jalan yang dipilih untuk menetapi
kewajiban itu.
Selanjutnya,
pun harus adil dalam menilai. Sekolah mungkin tidak sesuai untuk sebagian
orang, namun bukan berarti tidak sesuai untuk semua orang. Bagi sebagian orang,
sistem sekolah yang engkau keluhkan itu, justru merupakan sistem yang cocok dan
sesuai untuk pertumbuhan dan pengembangan kualitas dirinya. Maka harus diingat,
bahwa prinsip yang sama yang menurut sebagian orang benar sesuai pengalaman
mereka, tidak selalu benar dan sesuai untuk kehidupan orang lain, karena mereka
–yang lain- pun memiliki pengalamannya sendiri. Sehingga tidak boleh
menanam-paksakan prinsip-prinsip dan kebenaran subjektif kepada orang lain,
baik teman atau anak-ananya kelak, tanpa mempertimbangkan situasi dan maqam
hidup mereka masing-masing. Tidak semua orang memiliki etos dan kualifikasi
mental yang sama, karena pengalaman hidup setiap orang tidaklah sama. Setiap
orang memiliki sejarah intelektual, mental, dan sosialnya sendiri-sendiri.
Tidak masalah jika ada seseorang tidak memerlukan ijazah atau gelar. Namun
jangan merendahkan mereka yang memang memerlukan ijazah dan gelar demi masa
depannya. Sulit bagi satu orang untuk memahami situasi orang yang lain.
Bahkan
harus dikatakan: pengalaman hidup dan dialektika dalam dunia pendidikan formal
itu, seperti apa pun bentuknya, juga memiliki manfaat dan kebaikannya sendiri.
Langsung atau tidak, vital atau tidak, kontribusi sekolah dalam kehidupan ini
tidak dapat dianggap kosong belaka, termasuk unsur-unsur simboliknya seperti
gelar dan ijazah. Sebagai kelengkapan hidup, ijazah dan gelar itu, dalam momen
dan situasinya yang tepat, juga memiliki nilai dan urgensinya sendiri. Sebagaimana
semakin tangguh seseorang menghadapi hidup ini jika semakin banyak ilmu, demikian
pula akan semakin tangguh pula seseorang –yang lain- jika memiliki fasilitas
dan andalan hidup yang beragam, termasuk ijazah dan gelar.
Sebagaimana
sering diilustrasikan, ilmu itu ibaratnya senjata, dan sebenarnya ijazah dan
gelar pun dapat diibaratkan sebagai senjata. Semuanya bermanfaat dan membawa
maslahat saat didayagunakan dalam situasi dan arena yang tepat. Tentu saja,
kepemilikan fasilitas dan andalan hidup tersebut juga mempersyaratkan kebenaran
dan kebaikan dalam proses pemerolehannya dan penggunaannya. Jika tidak, maka
lebih baik memang tidak dimiliki saja. Maka, jalankanlah hidup sesuai prinsip
dan kesadaran subjektif, sebagai manusia yang sepenuhnya dewasa dan bertanggung
jawab atas hidupnya.
***
Obrolan
ini terjadi tujuh tahun silam saat Ndindut baru saja lulus SMA. Dan pada
akhirnya, ndindut secara istiqamah memegangi prinsipnya, dihindarinya
dunia akademik-ilmiah, dan kemudian asyik dengan dunia kerja dan bisnisnya,
sampai pada level alhamdulillah.
Yang Peno
ingat setiap kali ada masalah yang harus ndindut jawab, dengan cerdik biasanya
dia berkata “Maaf, takono wong seng sekolah duwur, ora duwur olehku sekolah…”.
Jika kemudian ada pertanyaan “Mengapa kok dulu tidak melanjutkan sekolah?”,
sambil mringis Ndindut akan menjawab “Ora bakat, hehe.”
Bersambung
...
Oleh : Lerespati

