Ora Usah Takon Doso

 Mad Lebong datang kedodoran membawa ayam jago, ‘’ Yoo mangan geden !.’’  Ujar Mad Lebong sambil meringis memandang Suthobi, Man Pithi, Daem dan beberapa orang yang ada di ronda jaga.

“Oleh pitik soko ngendi Mad ?.” tanya Suthobi. Sebenarnya Suthobi, juga orang di ronda jaga tahu, ayam itu pasti hasil nggentho. “Biasane piye leh bi, seko kandange kaji Pi’i, angger beleh !.” Suthobi dan beberapa orang di pos ronda jaga yang kebetulan lapar, akhirnya mengiyakan tawaran Mad Lebong. “ bumbu-bumbu ne durung ono em, jupukke ning warunge bojomu ah, aku tak jupuk parang karo peso !.” Seru Man Pithi.

Sambil menunggu Daem dan Man Pithi pulang mengambil bumbu-bumbu dan parang, Suthobi mengeluh ke Mad Lebong, “aku warek mangan dosa Mad, angger karo awakmu ko nyekek barang haram terus !.” Sebenarnya Suthobi juga tahu akan jawaban mad lebong itu, setiap ia nggento jawabanya pasti sama, “Ora usah takon dosa Bi, aku sek nanggung, hehe.”

Sebentar saja, Man Pithi dan Daem sudah datang, segera Suthobi memegang parang dan Daem memegang kedua kaki ayam, sementara Mad Lebong bernyanyi nggak jelas sambil memandang ke arah jalan. Sesaat Man Pithi dan Daem menyembelih ayam yang di bawakan Mad Lebong tadi, sementara beberapa orang lainya sibuk menyiapkan bumbunya, Mad Lebong diam-diam pergi meninggalkan ronda dengan motor Astrea legendnya, karena ia melihat Kaji Pi’i dari arah barat berjalan kaki, nampaknya ingin ke ronda jaga.

Mad Lebong berhenti tak jauh dari arah timur ronda, sesampainya Kaji Pi’i di pos ronda, mad Lebong berteriak keras ke arah ronda ”jiii..!, pitikmu tak jupuk siji ning kandang, jare arep di ijoli Suthobi!.”

Sontak, Suthobi ketika mendengar itu misuh “ ehh Mad Lebong bajingan...!, ora usah takon dosa mbahmu..! nk por-por e aku sek ngijoli.” Mad Lebong cekikikan sambil menghidupkan motor Legendnya dan berteriak “ aku turahi Bi..!, hahaha.”

***

Selain dari cerita di atas, Frasa “ ora usah takon dosa / ojo takon dosa”, yang sering aku dengar dari cerita wewayangan terasa begitu menarik. Dalam berbagai adegan wayang, khususnya saat suasana genting dan membutuhkan penyelesaian, frasa ini kerap digunakan. Atau sering dalam Hadist Nabi di redaksikan dengan “...Fala Talumanna Illa Nafsaka...”. Secara harafiah, frasa yang berasal dari bahasa Jawa ini berarti “tidak usah / Jangan tanya dosa”, atau yang dari bahsa arab kurang lebih  berarti “ .. Maka Janganlah Engkau Salahkan Kecuali Hanya Dirimu Sendiri...”.

Dibalik frasa “ora usah takon dosa” ini ada peringatan kepada seseorang untuk tidak bertanya atau komplain “Apa salahku ? ” atau “Apa dosaku? ”. Kalau dibuat dalam kalimat lebih lengkap, arah dari frasa “ora usah takon dosa” ' ini mungkin seperti berikut: “Jangan tanya dosa, selama ini engkau sudah tahu kesalahan apa saja yang kau lakukan. Inilah akibat yang harus kamu tanggung ”.

Atau bisa pula seperti ini: “Jangan tanya dosa, kamu sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tapi yang buruk kau terjang juga. Sekarang rasakanlah akibatnya ”.

Atau mungkin pula seperti ini: “Jangan tanya dosa, inilah inilah yang harus kamu hadapi. Setuju atau tidak setuju, hadapilah item ini, jangan mengeluh. ”

“ora usah takon dosa” hakikatnya tanggapan terhadap orang yang sedang atau akan menghadapi situasi buruk sebagai akibat dari perbuatan atau kelakuannya sendiri. Frasa ini bernilai himbauan kepada seseorang untuk menerima segala akibat yang akan atau sedang ditanggung, peringatan bahwa selama ini ia telah melakukan kesalahan-kesalahan hingga layak mendapatkan balasan seperti yang dirasakan sekarang.

“ora usah takon dosa” juga merupakan sindiran, mengapa selama ini tidak muhasabah dan instropeksi, sehingga jalan yang dicapai salah, keputusan yang diambil keliru, atau tindakan yang dilakukan justru merugikan diri sendiri dan orang lain. Sekarang, mau atau tidak, akibat harus ditanggung, beragam kepahitan harus dipanen.

Ketika pandemi Covid-19 menyerang, ketika bencana alam melanda, ketika kesulitan demi kesulitan hidup menerpa, banyak orang mengeluh, “Apa salah dan dosaku, Tuhan?”. Keluhan semacam ini senggaknya mengindikasikan dua hal: Pertama, kurangnya kesadaran dan kemampuan untuk muhasabah, membaca kembali lurus-bengkoknya jalan hidup yang selama ini dijalani. Kedua, menganggap diri sudah baik dan benar sehingga tidak layak mendapatkan anugerah kesulitan hidup dari Tuhan.

Selain menakdir pandemi, Allah menganugerahkan pengetahuan kepada para ahli tentang virus Covid-19 ini, lalu para ahli memberi petunjuk kepada kita tentang bagaimana menghadapi virus ini agar tidak tertular. Kalau kita mengabaikan petunjuk dari ahli tersebut, kemudian terpaparlah kita oleh virus sehingga menjadi penderita, maka “ora usah takon dosa”.

Lebih jauh keluhan “Apa salah dan dosaku?” ini juga mengandung konotasi menyalahkan tuhan, menyalahkan Tuhan tentang apa yang sedang terjadi. Samar tersirat disitu gugatan kepada Tuhan bahwa “Aku ini sudah baik dan benar, mengapa Tuhan masih begitu tega menghukum aku?” Padahal, apa ukuran kita sudah pasti baik dan benar? Dan apa yang terjadi pada kesulitan yang menimpa ini adalah siksaan yang benar-benar dari Tuhan dan bukan akibat perbuatan kita sendiri?.

Maka jawaban yang tepat untuk menjawab keluhan “Apa salah dan dosaku, Tuhan?” adalah “ora usah takon dosa”. Tidak dalam arti harfiah bahwa kita memang tidak punya dosa, namun dalam arti “Bukankah kita sudah tahu seperti apa dan sebanyak apa dosa-kesalahan yang telah kita lakukan?”.

Allah sudah menyatakan melalui Rasul dan kitab suci-Nya, bahwa dosa dan maksiat akan menggelapkan hidup pelakunya sendiri. Jika terus merutinkan dosa atau maksiat, dan kemudian hidup terasa gelap dan gelisah, maka “ora usah takon dosa”, atau  “...Fala Talumanna Illa Nafsaka...”.

Allah menganugerahkan akal budi sebagai bekal untuk kita kegiatan kehidupan di muka bumi ini. Kalau kita justru mengharamkan pemanfaatan akal-budi itu untuk memahami ayat-ayat-Nya , baik yang tertulis maupun yang tergelar, dan akibatnya begitu kacau-balau tata hidup kita, maka “ora usah takon dosa” ”, atau  “...Fala Talumanna Illa Nafsaka...”.

Oleh : Lerespati

 

Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.