Sebenarnya ini adalah perenungan yang sudah lama terkait fenomena ini. Iya lho, coba amati di sekeliling, banyak sekali kenyataan ini, bahkan akhir akhir ini, banyak sekian tokoh yang satu persatu mulai kembali ke pangkuan Tuhan SWT – terlepas beliau-beliau meninggal karena covid-19 atau tidak-, saya ulangi lagi : kenapa ya teramat banyak orang baik yang mati muda ?
Saya mulai dengan kata disclaimer,
fikiran saya sementara adalah : boleh jadi itulah cara Tuhan untuk
menyelamatkan hamba hambanya yang baik, dari hidup panjang yang hanya akan
berpotensi menodai bebersihan dirinya. Bukan berarti orang yang yang di beri
umur panjang tidak baik atau semacamnya.
Karena semakin seseorang berseru agar di
beri umur yang panjang, semakin besarlah peluangnya untuk berdusta,
berghibah, berdengki, bersombong diri, berhasud, bernafsu pada hal yang
tidak di perbolehkan, berserakah dan kejelekan lain. Sebaliknya semakin
seseorang berumur pendek, niscaya semakin kecillah potensinya untuk menumpuk
dosa dosa.
Di lain sisi, nampaknya juga kematian
muda para orang orang baik ini juga menumbuhkan kegalauan di banyak orang
perihal semakin sedikitnya sosok teladan nyata dalam hidup. Ataukah
memang dunia ini sudah di penghujung masa usai ?, ibarat orang tua renta yang
sakit sakitan, yang hanya mampu mengedipkan matanya di atas ranjang dengan popok
pembalut di kedua kemaluanya karena memang sudah low bat ?. Nampaknya
toeri probabilitas ini sedikit ada benarnya. Dan.
Nampaknya bahwa dunia ini sudah di
penghujung masa usai mendapakkan legimitasinya bila melirik pada hadist
Nabi yang sering kali di ujarkan di mimbar mimbar pengajian, bahwa : sesungguhnya
Allah tidak mencabut ilmu dengan menariknya dari para pembawanya, namun dengan
dengan mencabut nyawa nyawa para pelimik ilmu, sehingga jika sampai tersisa
sedikit sekali orang berilmu, sehingga minim panutan yang pantas, lantas banyak
sekali manusia yang menjadikan orang orang bodoh sebagai panutan, pada akhirnya
banyak sekali orang yang tersesat karenanya ( terj. Bebas ).
Yah,
walau saya mengerti bahwa pikiran ini tidak sepenuhnya bijak dan pasti cacat
dalam menjangkau fenomena ini. karena memang urusan umur nyawa adalah
hak preogatif tuhan swt. Banyak jugakan orang baik yang kita kenal dan berguru,
yang diberi umur panjang ?.
Seperti ungkapan banyak orang bahwa,
barang yang baik, bagus, dan kualitasnya sangar umumnya terjual (di
ambil) lebih cepat dari pada yang lain, ungkapan ini sering kali untuk
mengibaratkan orang baik yang mati muda. Akan tetapi – sebagai analogi
bandingan – rumput liar yang tumbuh di jalanan walaupun baru setinggi
kelingking, nyatanya juga di tebas, di potong atau di ambil karena mengganggu
pemandangan jalan. Jalan banyak banyak tumbuh rumput liarnya akan terkesan kumuh.
Artinya, tidak orang baik saja yang mati muda, nyata juga banyak orang bisa di
bilang – nggak baik- yang mati muda.
Intinya, entahlah !, semua
masalah tersebut sama sekali tidak berada di lingkar kuasa kita. Pada akhirnya
yang seharusnya kita siapkan adalah sikap waspada kepada diri sendiri, tetap
berbuat baik, mengevaluasi dan berbuat baik lagi, hingga saat giliran panggilan
kematian, semuanya sudah siap dan bisa mengahadapinya dengan gentle.
Wallhu a’lam.
Oleh : Lerespati


bebeb
ReplyDelete