Barometer pantas atau nggak pantas pada akhirnya memang tentang ukuran. Dan ukuranku, ukuranmu dan ukurannya pasti akan berbeda. Sawanganku, sawanganmu dan sawangane pasti tidak sama.
Hal ini berdasar karena latar belakang dan referensi
setiap individu dalam mengukur suatu hal pada umumnya bersifat subjektif,
sehingga dapat di maklumi jika kemudian konklusinya akan berbeda.
Begitu kompleksnya poin-poin atau
referensi-referensi yang dijadikan pijakan seseorang, akan berimbas pada
kompleksnya bentuk keputusan dan sikap yang di jalaninya.
Perngertian bahwa sebuah kepantasan bersumber dari
ukuran subjektif yang sangat kompleks, seharusnya bisa membuat seseorang
bersikap easy going dan open mind atas segala perbedaan itu.
Akan tetapi nggak berarti sikap tersebut bisa dijadikan
ukuran pribadi seseorang tentang sebuah kepantasan, tetapi lebih kepada adanya
pengertian dalam jiwa seseorang, bahwa sebuah kepantasan memiliki wajah yang
yang beragam di tangan yang beragam pula, sehingga tidak di perlukan adanya
upaya ngotot harus semisal mengikuti aku.
Di sisi lain juga tidak lantas bahwa seseorang bebas
leluasa melegitimasi dirinya untuk menohok-nohokan sesuatu yang di anggap
pantas ke wajah publik. Karena publik yang wajahnya beragam itu tidak akan
semuanya nyaman dengan sebuah kepantasan yang dicipta seseorang berdasar
standar pribadi.
“ Biarkanlah mereka sebel, jengkel,
salah sendiri nggak pengertian bahwa kita ini berbeda-beda !”.
Statemen semacam ini tentu tidaklah bijak di jadikan sebagai tameng legimitasi diri
untuk memaksakan sebuah kepantasan ke wajah publik.
Dan perlu di ketahui bahwa di hadapan subjektivitas
selalu ada objektivitas. Dan barangkali objektivitas sebenarnya adalah buah
dari banyaknya subjektivitas yang bertumpuk. Atau bisa di katakan bahwa
subjektivitas yang yang kian banyak di jadikan sebagai sudut pandang, sehingga
bertumpukan dalam satu keranjang cara berfikir, maka akan ter-objektivisakan.
Begitulah Gampangnya, mauku, maumu, dan maunya sebagai kehendak-kehendak yang
subjektif itu dinegosiasikan, dalam sebuah kompromi, sampai lahir sebuah kesepakatan
baru dan itulah yang kemudian disebut objektivitas.
Sehingga setiap orang yang subjektif tidak bakal
bisa melepaskan diri dari lingkaran objektivitas tersebut. Jika objektivitas
itu dilanggar, maka seseorang tersebut akan menjadi subjek yang terpinggirkan
dan tersorot, - soal kuat atau tidak menahan tabrakan itu lain hal - .
Seorang siswa dibangku SMA yang tidak mau berangkat
sekolah di saat jam sekolah pasti akan di tabrak oleh objektivitas bahwa anak
SMA harus sekolah di jam sekolah. Akibat ia menabrak objektivitas itu, jadilah
ia sorotan, terpinggirkan. Seorang cewe' yang sudah cukup umur lazimnya
(objektivitasnya) kalau malam Minggu itu diapelin cowok, bukan nyamuk dan
jangkrik. Jika ia tidak diapelin cowok - entah karena maunya tidak pacaran
atau karena keadaan yang tidak kuasa dilawan... :) v -, maka ia menabrak objektivitas,
dan pastilah ia akan menjadi sorotan - minimal disoroti dirinya sendirilah-.
Akan selalu ada tarik-menarik antara subjektif-objektif
itu, misal dalam konteks kepantasan dan ketepatan itu, sisi mana pada diri
seseorang yang memenangkan tarik-menarik magnetik itu, akan menjadi wajahnya
sendiri.
Mau sesubjektif apa pun seseorang menyebut sesuatu
pantas, tapi jika bertabrakan dengan objektivitas, pastilah akan memantik Crash.
Apa pun itu, setiap benturan lekat dengan kemudharatan. Tentu,
menghindari kemudharatan lebih diutamakan, absolutely off course
lah. Otomatis, lantaran kepantasan seseorang terkikis secara tarik menarik
dalam pusaran kepantasan-kepantasan lain, suka tidak suka.
Sampai sini,
Jika orientasi seseorang adalah untuk kesejukan bersama, mengkompromikan diri menjadi langkah yang tak bisa diabaikan.
kompromi dalam pengertian seluas-luasnya, bisa yang sifatnya formalistis maupun
substantif. Because, pada situasi-situasi tertentu, hidup ini kadang
kala memang tidak melulu untuk diri sendiri kok, tetapi untuk orang lain, baik
atas dasar kerelaan maupun keterpaksaan.
Bukankah menjadi penyiram kesejukan jauh lebih mampu
merekahkan senyuman dibanding menjadi pemetik keruhan akibat kokoh berdiri
tanpa kompromi bahwa hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu. Walaupun terkadang
diam-diam menangis di dalam hati ?.
Pada akhirnya, pantas atau tidak pantasnya suatu hal
sering kali memang bukanlah milik seorang belaka, meski itu bertolak dari
subjektivitas yang beririsan dengan hidup orang tersebut.
Salam Gagas Berani !!!
Oleh : Lerespati
