Nyawang Pantes

   Barometer pantas atau nggak pantas pada akhirnya memang tentang ukuran. Dan ukuranku, ukuranmu dan ukurannya pasti akan berbeda. Sawanganku, sawanganmu dan sawangane pasti tidak sama.

Hal ini berdasar karena latar belakang dan referensi setiap individu dalam mengukur suatu hal pada umumnya bersifat subjektif, sehingga dapat di maklumi jika kemudian konklusinya akan berbeda.

Berangkat dari hal ini, fenomena betapa gilanya masyarakat semisal OI pada sesorang yang bernama Iwan Fals, atau betapa kagumnya masyarakat ma’iyyah pada sosok yang bernama Emha Ainun Najib, pasti akan berbeda bagi sebagian masyarakat yang lain. Iwan Fals atau Cak Nun nggak ada apa apanya di banding Le Min Ho atau artis hallyu lainya bagi para k-dramas dan lain sebagainya.

Begitu kompleksnya poin-poin atau referensi-referensi yang dijadikan pijakan seseorang, akan berimbas pada kompleksnya bentuk keputusan dan sikap yang di jalaninya.

Perngertian bahwa sebuah kepantasan bersumber dari ukuran subjektif yang sangat kompleks, seharusnya bisa membuat seseorang bersikap easy going dan open mind atas segala perbedaan itu.

Akan tetapi nggak berarti sikap tersebut bisa dijadikan ukuran pribadi seseorang tentang sebuah kepantasan, tetapi lebih kepada adanya pengertian dalam jiwa seseorang, bahwa sebuah kepantasan memiliki wajah yang yang beragam di tangan yang beragam pula, sehingga tidak di perlukan adanya upaya ngotot harus semisal mengikuti aku.

Di sisi lain juga tidak lantas bahwa seseorang bebas leluasa melegitimasi dirinya untuk menohok-nohokan sesuatu yang di anggap pantas ke wajah publik. Karena publik yang wajahnya beragam itu tidak akan semuanya nyaman dengan sebuah kepantasan yang dicipta seseorang berdasar standar pribadi.

“ Biarkanlah mereka sebel, jengkel, salah sendiri nggak pengertian bahwa kita ini berbeda-beda !”. Statemen semacam ini tentu tidaklah bijak di jadikan sebagai tameng legimitasi diri untuk memaksakan sebuah kepantasan ke wajah publik.

Dan perlu di ketahui bahwa di hadapan subjektivitas selalu ada objektivitas. Dan barangkali objektivitas sebenarnya adalah buah dari banyaknya subjektivitas yang bertumpuk. Atau bisa di katakan bahwa subjektivitas yang yang kian banyak di jadikan sebagai sudut pandang, sehingga bertumpukan dalam satu keranjang cara berfikir, maka akan ter-objektivisakan. Begitulah Gampangnya, mauku, maumu, dan maunya sebagai kehendak-kehendak yang subjektif itu dinegosiasikan, dalam sebuah kompromi, sampai lahir sebuah kesepakatan baru dan itulah yang kemudian disebut objektivitas.

Sehingga setiap orang yang subjektif tidak bakal bisa melepaskan diri dari lingkaran objektivitas tersebut. Jika objektivitas itu dilanggar, maka seseorang tersebut akan menjadi subjek yang terpinggirkan dan tersorot, - soal kuat atau tidak menahan tabrakan itu lain hal - .

Seorang siswa dibangku SMA yang tidak mau berangkat sekolah di saat jam sekolah pasti akan di tabrak oleh objektivitas bahwa anak SMA harus sekolah di jam sekolah. Akibat ia menabrak objektivitas itu, jadilah ia sorotan, terpinggirkan. Seorang cewe' yang sudah cukup umur lazimnya (objektivitasnya) kalau malam Minggu itu diapelin cowok, bukan nyamuk dan jangkrik. Jika ia tidak diapelin cowok - entah karena maunya tidak pacaran atau karena keadaan yang tidak kuasa dilawan... :) v -, maka ia menabrak objektivitas, dan pastilah ia akan menjadi sorotan - minimal disoroti dirinya sendirilah-.

Akan selalu ada tarik-menarik antara subjektif-objektif itu, misal dalam konteks kepantasan dan ketepatan itu, sisi mana pada diri seseorang yang memenangkan tarik-menarik magnetik itu, akan menjadi wajahnya sendiri.

Mau sesubjektif apa pun seseorang menyebut sesuatu pantas, tapi jika bertabrakan dengan objektivitas, pastilah akan memantik Crash. Apa pun itu, setiap benturan lekat dengan kemudharatan. Tentu, menghindari kemudharatan lebih diutamakan, absolutely off course lah. Otomatis, lantaran kepantasan seseorang terkikis secara tarik menarik dalam pusaran kepantasan-kepantasan lain, suka tidak suka.

Sampai sini,

 Jika orientasi seseorang adalah untuk kesejukan bersama, mengkompromikan diri menjadi langkah yang tak bisa diabaikan. 

kompromi dalam pengertian seluas-luasnya, bisa yang sifatnya formalistis maupun substantif. Because, pada situasi-situasi tertentu, hidup ini kadang kala memang tidak melulu untuk diri sendiri kok, tetapi untuk orang lain, baik atas dasar kerelaan maupun keterpaksaan.

Bukankah menjadi penyiram kesejukan jauh lebih mampu merekahkan senyuman dibanding menjadi pemetik keruhan akibat kokoh berdiri tanpa kompromi bahwa hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu. Walaupun terkadang diam-diam menangis di dalam hati ?.

Pada akhirnya, pantas atau tidak pantasnya suatu hal sering kali memang bukanlah milik seorang belaka, meski itu bertolak dari subjektivitas yang beririsan dengan hidup orang tersebut.

Salam Gagas Berani !!!

Oleh : Lerespati  

Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.