Mengenyam rutinitas belajar dengan banyak varian garapan PR kehidupan dari Allah di tahun ini, mengingatkanku pada pohon karsen (;kersem) di depan rumah dulu. Sewaktu kecil, pohon itu menjadi ladang kebahagiaanku bersama teman-temanku. Terbayang dulu harus berjuang memanjatnya saat melihat buah karsen yang tampak segar dan siap petik melambai-lambai di antara dedauan. Mungkin dulu tingginya sekitar hanya 3-4 meter saja. Namun teringat saat itu bagaimana harus bersusah-payah memanjatnya, bahkan seringkali sampai bisat-biset karena saking susahnya manjat. Betapa terlihat tinggi sekali pohon karsen itu dahalu bagiku dan betapa senagnya kalau bisa memanjat pohon karsen itu.
Selain menikmati persembahan buahnya,
pohon itu dulu adalah juga seringkali jadi tempatku bersembembunyi dari terik siang
matahari yang menyengat, sambil nongkrong dan duduk-duduk di atas ketinggian
dahannya, diterpa angin semilir, sambil ngemil buah karsen. Karena
kewajiban untuk sekolah dan mondok, sedari lulus MI aku menjadi jarang menek
pohon semacam karsen itu –selain karena seiring bertambahnya usia-.
Tiba-tiba dari rekreasi masa lalu yang
seremeh itu, muncul kilasan pandang sederhana. Nampaknya menjalani hidup dengan
segala tantangan dan kesulitannya mungkin seperti memanjat pohon karsen tadi.
Jika kita kuat, pohon itu terasa kecil dan mudah. Jika kita kecil dan lemah,
pohon itu akan tampak besar dan kuat.
Mungkin suatu ketika kita berhadapan
dengan pohon yang sangat besar, tinggi, dan kokoh, betapa melongo dan geleng kepala
kita dihadapannya. Membayangkan naik ke atasnya saja kita sudah merinding.
Padahal bagi orang yang memiliki keterampilan dan kekuatan, memanjat dan
menaiki pohon tersebut bukan sesuatu yang sulit.
Uniknya, biasanya untuk menutupi
kelemahan kita dihadapan pohon yang besar itu, kita justru ‘menyalahkan’ pohon
tersebut. “Mengapa ia terlalu tinggi?” “Mengapa ia terlalu besar?” Bahkan kadang
kita mencari-cari justifikasi atas kelemahan kita di hadapan pohon tersebut,
misalnya dengan menyatakan, “Apa gunanya memanjat pohon itu?”, “Masih banyak
pohon lain yang lebih menarik dipanjat”, “wit kui rusoh, okeh semut e”, dan
lain sebagainya.
Kita sering bersikap seperti rubah
dalam fabel Aesop. - Aesop adalah seorang pengarang dan penutur cerita asal
Yunani dengan masterpiece-nya Aesop’s Fable-. Berisi kisah-kisah
binatang yang dapat berbicara dan bertingkah laku seperti layaknya manusia. Di
antara kisah dalam Aesop’s Fable adalah kisah tentang rubah dan
anggur. Cerita ini berkisah tentang seekor rubah yang suatu ketika melewati
kebun anggur, dan ia pun kemudian berusaha meraih buah anggur yang menggantung
di pohon anggur. Berulang kali meloncat meraih buah anggur tersebut, namun
tetap saja gagal. Akhirnya ia menyerah. Namun agar tidak dianggap gagal, ia
menyatakan bahwa sebenarnya buah anggur tersebut tidak enak. “Anggur itu pasti
masam”, ujarnya. “Mengapa aku harus capek-lelah meraihnya?”
Saat menghadapi masalah, kita lebih
sering menyalahkan situasi dan masalah. Padahal solusi dari masalah itu mungkin
harus diawali dengan bertanya kepada diri sendiri: “Mengapa aku tidak cukup
mampu untuk mengatasi masalah ini?”. Dengan kata lain, dibandingkan menyalahkan
situasi atau orang lain, ada baiknya yang kita lakukan adalah memperbaiki diri,
meningkatkan kualitas diri, sehingga nantinya saat menghadapi masalah yang
serupa kita lebih mampu dan lebih tangkas menyelesaikannya.
Dalam hidup, pasti kita akan
berhadapan dengan aneka masalah. Sebagian bisa kita atasi, sebagian tidak. Kita
juga pasti akan bertemu dan beraktivitas bersama orang lain. Sebagian cocok dan
sesuai dengan kita, sebagian tidak. Ada yang menyenangkan, ada yang
menyebalkan. Ternyata kunci menghadapinya tidak terletak pada masalahnya atau
orang yang kita hadapi, namun lebih terletak pada kekuatan dan ketrampilan kita
menghadapinya. Jika kekuatan dan ketrampilan kita cukup, maka masalah apa pun
atau orang seperti apa pun yang menurut kita sulit akan terasa kecil dan mudah
diatasi. Sebaliknya, jika kemampuan dan keterampilan kita lemah, masalah
sekecil apa pun akan tampak besar dan sulit dihadapi.
Perlu diingat pula, kita tidak bisa
memilih-milih masalah. Tidak mungkin kita memilih masalah yang mudah dan kecil
saja atau berhubungan dengan orang yang nyaman dan cocok saja dengan kita.
Karena itu, satu-satunya jalan positif yang bisa kita lakukan dalam hidup ini
adalah setiap waktu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kekuatan,
sehingga kapasitas dan kualitas diri kita senantiasa meningkat dari waktu ke
waktu. Jadikan setiap waktu adalah waktu belajar, setiap orang adalah guru, dan
setiap tempat adalah ruang belajar, hingga buah sikap keseharian kita sesuai
dengan ngendikane Kanjeng Nabi Saw, “Yaumuhu khairun min amsihi”.
Ndak Iyoo Aaa ....!!!
Di tulis oleh : Lerespati


Maaf, bagus
ReplyDelete