Pak, Buk, Anakmu Dapat Juara !

Banyak orang tua yang berasumsi prestasi anak adalah sebuah kebanggaan dan pencapaian yang rasanya jauh melebihi kebanggaan dan prestasi yang mereka raih sendiri.

Prestasi yang diraih anak adalah pencapaian yang lebih membanggakan, karena pencapaian itu dimaknai sebagai ukuran keberhasilan orang tua yang sukses membentuk anaknya menjadi pribadi yang berprestasi. Prestasi anak adalah penanda bagi kegemilangan masa depan.

Akan tetapi sedari kecil dulu, hingga sekarang  aku mengalami situasi yang agak berbeda. Beberapa kali aku juga pernah mendapat prestasi kecil-kecilan, Mulai sejak MI hingga di bangku MA saat ini.

Respon raihan prestasi tersebut -meskipun memang hanya prestasi kecil saja- tidak aku merasakan tanggapan orang tuaku yang berbinar bangga dan gembira atau melonjak kegirangan. Menurut tanggapanku sementara, capaian-capaian yang kuraih itu bagi mereka tampaknya biasa saja.

Saat itu, betapa aku jengkel luar biasa. Padahal anak Sebaya ku yang sekadar juara satu di tingkat Kecamatan saja begitu dirayakan oleh orang tuanya, sampai bahkan di ceritakan ke tetangga dengan begitu girangnya, karena bangga terhadap capaian anaknya. 

Frasa  hiyo sajalah yang sering keluar dari bibir orang tuaku, dan hal itu yang sering saja membayang-bayangi capaian-capaianku hingga sekarang.

Di dunia pendidikan modern ada asumsi bahwa penghargaan dan pengakuan terhadap capaian yang diraih oleh anak akan secara positif membantunya berkembang dengan percaya diri.

Jelas, asumsi semacam ini tampaknya berbeda dengan prinsip yang dipegangi oleh orang tuaku, atau bisa juga difahami jenis penghargaan yang diberikan oleh orang tuaku berbeda dengan orang lain. Orang tuaku tampaknya memiliki filosofi dan pendekatan sendiri menghadapi raihan prestasi anak-anaknya.

Orang tuaku menanggapi kesuksesan dan capaian anak-anaknya secara biasa saja, flat, tanpa lonjakan kegembiraan dan tidak terang-terangan melontarkan pujian dan kebanggaan. Tentu saja filosofi dan pendekatan semacam ini memerlukan pembacaan situasi dan pemahaman -pribadi saya sendiri sebagai yang terlibat- dengan tepat, seolah harus ditambah catatan: Syarat dan ketentuan berlaku.

Balakangan aku paham, kalau di setiap prestasi dan capaian yang aku raih orang tuaku menampakkan ekspresi kegirangan yang berlebihan, mungkin aku akan merasa bahwa versi diriku saat itulah yang terbaik dan bisa membahagiakan orang tua.

Rasa menemukan versi diri yang terbaik tersebut tentunya sedikit banyak akan menghalangiku untuk berkembang lebih baik lagi. Bisa jadi, karena aku sudah merasa puas dengan versi diri dan capaian saat itu, aku akan menganggap bahwa hanya dengan cara seperti itulah nantinya aku akan sukses menghadapi dan menjalani hidup. Padahal, betapa beragam dan luasnya kenyataan dan kemungkinan dalam hidup ini.

Narai datar hiyo itu secara tak sadar membuatku selalu penasaran dan tertantang, sampai di titik prestasi apa atau jenis keberhasilan mana yang nantinya akan membuat orang tua sampai bisa berkata aku bangga le dengan rasa puas dan merasa bahwa aku sudah memenuhi harapan mereka. Rasa semacam ini sementara aku fahami bisa menjadi stimulus yang sangat kuat untuk tidak berhenti setelah mencapai prestasi tertentu, namun terus menggali dan mencari kemungkinan prestasi hidup yang lain yang bisa dicapai, dalam bidang yang beragam.

Dan perlahan aku juga mulai bisa mengerti, kalau dulu orang tua menyambut semua prestasi dan juara yang kuraih dengan pujian-pujian yang membuat terlena, mungkin tertanam dalam kesadaranku bahwa kesuksesan hidup ini sama dengan kemenangan dan keunggulan atas yang lain. Bisa jadi pada akhirnya terbentuk cara pandang menang-kalah, pemenang-pecundang, atau superior-inferior dalam diriku untuk mengelola kehidupan. Yang akhirnya, hidup di mataku akan menjelma menjadi medan perang dimana orang lain tidak lebih adalah musuh, saingan, atau tantangan untuk ditaklukkan demi kemenangan dan keunggulanku. Lalu lenyaplah kesadaran saling dan sesama, yaitu saling mengisi, berbagi, sadar kita sesama manusia yang saling mendukung dan saling bekerja sama.

Respon hiyo yang sering diucapkan orang tua, lama-lama melahirkan sebentuk visi dalam diri ini bahwa capaian dan prestasi yang kita raih dalam hidup ini hakikatnya tidak melulu berbanding nikmat dan anugerah, namun implisit dibaliknya ada amanat dan tanggung jawab.

Kalau kita sudah berprestasi, hiyo, benar, capaian yang bagus fase hidup, lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau juara satu, kira-kira amanah dan tanggung jawab apa yang kita pikul?, sekadar memamerkan prestasi itu kepada orang lain saja? Mau menjadikannya modal untuk meraih keuntungan atau kemenangan dalam skala yang lebih besar? Ataukah mau menjadikannya bekal untuk menebar kemanfaatan kepada orang lain? Jadi, prestasi yang kita raih pada dasarnya baru koma, belum titik.

Pertanyaan hiyo kepada capaian dan prestasi yang kita raih dalam hidup juga akan menjadi rem untuk mengontrol dan mengekang kegembiraan dan kepuasan berlebihan yang pada akhirnya justru akan kontraproduktif dengan perkembagan diri lebih lanjut.

Letupan perasaan saat sukses tampaknya lebih mudah membuat seseorang terlena dan lebih sering membuat seseorang kehilangan kewaspadaan hidup. Pertanyaan hiyo ini akan menjadi penepuk punggung yang menyadarkan kita bahwa perjuangan belum berakhir, kehidupan belum selesai dan masih banyak hal lain perlu dikerjakan. Persis seperti petunjuk Al-Quran, Faidza faraghta fansab (Maka apabila engkau telah sesesai dari satu urusan, kerjakanlah urusan yang lainnya dengan sungguh-sungguh), jangan berhenti di capaian dan keberhasilanmu saat ini, segera bersiap untuk lebih serius dan intens menjangkau capaian-capaian selanjutnya.

Pada puncaknya, tanggapan hiyo akan dapat menggiring pada kesadaran akan hadirnya Allah sebagai yang haqiqi menakdir prestasi. Pernyataan hiyo ini seakan mengontrol saya pribadi untuk tidak terlalu berbangga, menepuk dada, dan merasa prestasi yang diraih adalah murni hasil upaya sendiri.
Nampaknya, jika dilanjutkan, kata hiyo ini dengan nada yang tepat akan menjelma menjadi hiyo, Terus mau apa? Mau pamer? Mau membanggakan diri? Mau menegaskan keunggulan atas yang lain? Mau diakui? Emangnya prestasi yang diraih itu hasil usahamu belaka?.
Dalam suatu kesempatan saya pernah berfikir, dengan logika yang sederhana Orang yang selalu menang dan sukses, biasanya emosi dan ketangguhan mentalnya kurang teruji untuk menghadapi kekalahan dan kegagalan.

Mungkin kekhawatiran orang tua kalau anaknya kurang tangguh menghadapi kerasnya kehidupan, atau beliau ingin anak kesayangannya tidak hanya siap menerima prestasi dan kesuksesan, namun juga mampu bertahan menghadapi kesulitan, kekalahan, dan kegagalan yang kini aku fahami.

Cerita Daniel Goleman -penulis Emotional Intellegence- tentang seorang siswa cerdas dan berprestasi bernama Jason, nampaknya referensi yang setidaknya menjadi tonggak pemahamanku. Ia bersekolah di Coral Spring High School, Florida. Dalam setiap mata pelajaran yang diikuti, Jason selalu memperoleh nilai A. Cita-citanya adalah masuk ke kampus bergengsi, Harvard University.

Sampai suatu ketika, David Pologruto, guru fisikanya, memberikan nilai B. Jason tidak siap dan tidak terima terhadap nilai dari gurunya ini. Ia menganggap nilai tersebut menghalangi keinginannya masuk Harvard dan merusak kesempurnaan prestasinya. Akhirnya Jason menusukkan pisau dapur ke perut gurunya itu.

Walaupun nampaknya akhir-akhir ini dengan fikiran yang negatif terhadap orang tua saya mengapa sejak dulu setiap saya cerita meraih ini-itu, tanggapanmu selalu saja hiyoo? Maksude apa to?.
Sepertinya analisa jahatku mengatakan, beliau akan menjawab, aku kui kuatir dan sedikit takut kalau kamu minta imbalanya aneh-aneh Le. Awakmu biasane nk jaluk ora iso di semayani, tur jaluke larang-larang, duite enak tak pakai liyane wae, tur koe type orang sek bosenan ko le. Jadi kalau dilanjutkan, hiyo Mau nagih syukuran? Hadiah? Traktiran?, Untungnya terus kamu diam, jadi aku lega.
Loooo....... hualahhhh....

Ditulis Oleh : Lerespati
Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.