Secara sederhana karsa dapat dimaknai kehendak, kamauan, atau daya dorong untuk memenuhi sesuatu. Sebagai ciptaan yang mempunyai kelengkapan dari mulai tubuh fisik, jiwa, dan ruh (spirit), manusia tentu memiliki karsa yang cukup kompleks. Dalam setiap dimensinya, manusia juga memiliki karsa tersendiri. Namun, dalam kondisi tertentu karsa-karsa ini dapat bersinergi dan harmoni.
Karsa ragawi manusia selain berfungsi untuk melestarikan eksistensinya, juga berfungsi sebagai support-system kehidupan di dalam raga manusia. Misalnya, mulai dari sekedar memperoleh oksigen untuk bernapas, mendapatkan makanan dan minuman untuk energi, sinar matahari untuk meningkatkan imun tubuh, kebutuhan biologis, tidur untuk beristirahat, dan lain sebagainya. Dengan karsa ragawi ini manusia bisa bertahan dan terus lestari hidup di muka bumi.
Dan sementara ini, masyarakat +62 umumnya lebih sering menyebut karsa ragawi ini dengan istilah hawa-nafsu, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai daya dorong diri. Karena secara alamiah, tubuh manusia memiliki standar takaran dan batasan tersendiri terkait dengan karsa atau kehendak untuk memenuhi setiap kebutuhannya. Dalam artian setiap tubuh memiliki kapasitas wadah yang berbeda satu sama lain.
Selain raga, manusia juga memiliki ruh (spirit). Ruh ini mempunyai karsa yang identik dengan karsa dari Ruh Raja Semesta (Allah SWT), yakni yang membawa setiap manusia pada kesempurnaan hidup. Apa yang dikehendaki oleh ruh (spirit) bagi diri manusia pastilah segala sesuatu yang membawa harmoni dan membuat jiwa manusia semakin berevolusi menuju kejernihan.
Ruh (spirit) inilah yang kemudian berkehendak mengendalikan jiwa fisik agar dapat menunaikan misi kehidupan dan tahu untuk apa fungsi diri diciptakan di muka bumi ini. Jiwa manusia sebagai entitas yang memiliki kebebasan berkehendak (free will), dimungkinkan untuk memiliki karsa yang melampaui, melebihi, atau mungkin tidak selaras dengan karsa ragawi (sesuai kebutuhan), maupun karsa ruh (spirit) yang membawa pada kesempurnaan hidup.
Dengan kebebasan berkehendak inilah kemudian pilihan jiwa manusia tergantung pada tataran kesadarannya. Jika yang dimiliki hanya kesadaran nalar, maka karsa akan selaras dengan apa yang dibentuk oleh nalar (pikiran) seorang manusia, Sehingga karsa tergantung pada selera, life style, ambisi, obsesi pribadi, dll. Sedangkan jika seorang manusia sudah mulai memiliki kesadaran ruhani (spirit), maka berkemungkinan besar karsa akan selaras dengan karsa dari Ilah Mabud (Allah Swt) yang menurut khazanah Jawa dapat dimengerti melalui bahasa rasa "telenging manah" (pusat hati). Karena itu, kesehatan fisik, mental, kelestarian tubuh, dan perasaan suka-duka yang dirasakan oleh jiwa manusia, seringkali bergantung pada bagaimana karsa tersebut dikelola. Dalam artian, selayaknya manusia pada umumnya, karsa atau hawa nafsu tidak perlu dimatikan atau tidak perlu dituruti sama sekali. Lantaran dengan hawa nafsu inilah manusia kemudian tetap bisa menjalani kehidupan di muka bumi.
Untuk menuju sampurnaning hurip, sesungguhnya terdapat dua tantangan yang perlu di atasi sebagai manusia.
Pertama, apabila di dalam tubuh manusia terdapat ketimpangan unsur semesta. Misalnya ada seseorang yang unsur apinya terlalu mendominasi, maka bukan tidak mungkin seseorang ini akan cenderung menjadi ambisius, egois, pemarah, dan seterusnya.
Berikutnya, jika seseorang unsur airnya terlalu besar, bukan tidak mungkin akan memiliki kecenderungan atau hasrat seksual yang berlebihan. Jika unsur anginnya yang terlalu mendominasi, bukan tidak mungkin seseorang sikapnya akan cenderung angin-anginan atau hanya mengikuti arus, tidak ajeg. Kemudian jika unsur tanahnya yang mendominasi, bukan tidak mungkin seseorang akan cenderung kaku, yang seringkali sulit untuk menerima perubahan.
Ketimpangan yang sudah di singgung di atas, setidaknya dapat diatasi dengan menyelaraskan ke empat unsur semesta dalam diri seorang manusia. Caranya di antara adalah dengan mulai mengatur makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, tidak melihat atau mendengar sesuatu yang negatif, laku prihatin seperti puasa, dan lain sebagainya, dengan harapan semua unsur bisa seimbang alias tidak ada salah satu yang ngelindih
Tantangan kedua, jika sebagai manusia seseorang hanya hidup dengan berbekal kesadaran nalar atau pikiran, maka kemungkinan besar akan berpotensi terjebak dalam keakuan atau egoisme. Karena karsa bisa saja membesar tanpa kendali, disebabkan pengaruh imajinasi, ilusi ataupun halusinasi yang berasal dari pikiran. Yang paling umum terjadi, saat seseorang berimajinasi, berilusi, meng-halu adalah seolah-olah seorang manusia dapat meraih kebahagiaan dengan semakin banyak mendapatkan, memiliki, dan mengonsumsi sesuatu, tetapi saat itulah justru karsanya bertransformasi menjadi keserakahan yang kemungkinan besar bisa menghancurkan diri sendiri dan orang lain di sekitar.
Pada hakikatnya, Sang Pencipta melalui spirit-Nya, banyak menuntun umat manusia untuk mempunyai karsa yang natural alias alamiah. Misalnya saja apa yang menjadi kehendaknya sudah sesuai dengan takaran dan batasan kebutuhan ragawinya, tidak berlebihan atau tak melebihi kapasitas wadah yang dimiliki. Jadi, Sang Pencipta tidak meminta umat manusia untuk mematikan karsa ragawi atau hawa nafsu, lantaran bahwa hawa nafsu itilah yang memungkinkan kelestarian raga manusia, sekaligus sebagai wadah jiwa untuk hidup di muka bumi.
Kemudian Sang Pencipta-lah yang mendorong dan mengarahkan umat manusia untuk melakukan tindakan hamemayu hayuning bawana. Senada dengan pandangan al-Asyari, bahwa tidak ada manusia yang bebas secara hakiki, yang manusia tersebut bebas menentukan nasibnya sendiri, buktinya manusia tidak menguasai yang bahkan perbuatannya sendiri sekalipun. Jadi, hidup manusia bukan dalam kekuasaan manusia seutuhnya.
Lebih lanjut, al-Asyari mengajak umat manusia untuk memahami kadarnya sendiri apabila hidupnya ingin bahagia yang selaras dengan QS Al-Qamar ayat 49 yang artinya, Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut kadar (ukuran).
Karena itu, untuk menjaga keselarasan antara karsa ragawi, karsa jiwa, dan karsa Sang Pencipta (Ruhani), maka manusia memerlukan laku spiritual yang membawa pada kesadaran untuk tansah eling lan waspada. Keterhubungan dengan Sang Pencipta inilah yang kemungkinan besar akan menentukan sejauh mana manusia memiliki keselarasan dalam karsa. Inilah kemudian yang bisa menuntun manusia meraih “sampurnaning hurip.
Ditulis Oleh : Lerespati

The next pak rukhan sih
ReplyDelete