Neoliberalisme
Disinilah kemudian
ekononom seperti Freidich von Hayek ingin mengembalikan liberalisme yang sempat
“terinterupsi” oleh pemikiran Keynes -Seorang Ekonom Universitas Cambridge yang
mengajarkan, bahwasanya kepentingan orang paling pintar dan bijak sekalipun tidak
selalu sesuai dengan kepentingan umum. Ia lalu menawarkan konsep walfare
state (negara kesejahteraan)-. Dia ingin ingin liberalisme lahir kembali,
dan karenanya disebut liberalisme baru, alias neo-liberalisme.
Bersama muridnya,
Milton Friedman, Hayek menginginkan suatu sistem ekonomi yang sama dengan
kapitalisme abad ke-19, dimana kebebasan individu berjalan sepenuhnya dan
campur tangan sesedikit mungkin dari pemerintah dalam kehidupan ekonomi.
Regulator utama dalam kehidupan ekonomi adalah mekanisme pasar, bukan
pemerintah.
Mekanisme pasar dapat
menjadi alat untuk memecahkan masalah sosial.
Yang “baru” tidak saja
kemunculannya kembali. Yang bangkit kembali adalah juga gagasanya tentang
kedaulatan pasar yang tidak hanya berhenti pada masalah-masalah ekonomi, tetapi
juga pasar sebagai ideologi untuk mengatur kehidupan sosial, politik, dan
hukum. Pendidikan, kesehatan, dan air. Jadi “neo-nya” ini adalah soal kebaruan
dan soal penambahan unsur yang diliberalkan.
Sebenarnya secara
filosofis dan historis, neo-nya ini juga tak baru-baru amat, kalau ditilik dari
kemunculan liberalisme di Eropa yang juga diawali dari gerakan intelektual,
sosial, dan politik. Jadi liberalisme klasik pun mulanya bukan gerakan ekonomi.
Namun, bila liberalisme
klasik ala Adam Smith hanya ngurusi pabrik dan perusahaan dagang,
Freidrich von Hayek menuntut pengaturan ulang keputusan-keputusan politik,
produk hukum, dan lembaga-lembaga sosial lainya. Semua harus dibiarkan bebas
ditentukan oleh mekanisme pasar.
Itulah mengapa, agenda
neoliberali menuntut agar bidang-bidang seperti pendidikan atau kesehatan
publik sebaiknya diprivatisasi atau diswastakan saja. Bila lembaga-lembaga ini
dikelola oleh swasta, maka pasti lebih efisien dan terjadi persaingan yang
sehat, sehingga konsumen pendidikan dan kesehatan diuntungkan. Kompetisilah
yang membuat manusia hidup, berkembang, dan dinamis. Bukan subsidi.
Dalam agenda
neoliberal, privatisasi bukan hanya sebagai strategi agar sebuah organisasi efisien,
melainkan sudah menjadi tujuan. Memang tidak semua privatisasi, swastanisasi,
liberalisasi, atau deregulasi berwajah neoliberalisme.
“Tetapi neoliberalisme memang punya tujuan agar berbagai bidang kegiatan dalam masyarakat digerakkan oleh motif pengejaran kepentingan diri privat. Itulah mengapa etos publik, solidaritas sosial, tindakan afirmatif terhadap kelompok miskin dan tersingkir adalah omong kosong besar bagi agenda neoliberal” tulis Herry Priyono di Koran Kompas.
Ditulis Oleh : Fikri Ainul
