Selayang Pandang Mengenai Liberalisme (Bagian 2)

 

Neoliberalisme

Disinilah kemudian ekononom seperti Freidich von Hayek ingin mengembalikan liberalisme yang sempat “terinterupsi” oleh pemikiran Keynes -Seorang Ekonom Universitas Cambridge yang mengajarkan, bahwasanya kepentingan orang paling pintar dan bijak sekalipun tidak selalu sesuai dengan kepentingan umum. Ia lalu menawarkan konsep walfare state (negara kesejahteraan)-. Dia ingin ingin liberalisme lahir kembali, dan karenanya disebut liberalisme baru, alias neo-liberalisme.

Bersama muridnya, Milton Friedman, Hayek menginginkan suatu sistem ekonomi yang sama dengan kapitalisme abad ke-19, dimana kebebasan individu berjalan sepenuhnya dan campur tangan sesedikit mungkin dari pemerintah dalam kehidupan ekonomi. Regulator utama dalam kehidupan ekonomi adalah mekanisme pasar, bukan pemerintah.

Mekanisme pasar dapat menjadi alat untuk memecahkan masalah sosial.

Yang “baru” tidak saja kemunculannya kembali. Yang bangkit kembali adalah juga gagasanya tentang kedaulatan pasar yang tidak hanya berhenti pada masalah-masalah ekonomi, tetapi juga pasar sebagai ideologi untuk mengatur kehidupan sosial, politik, dan hukum. Pendidikan, kesehatan, dan air. Jadi “neo-nya” ini adalah soal kebaruan dan soal penambahan unsur yang diliberalkan.

Sebenarnya secara filosofis dan historis, neo-nya ini juga tak baru-baru amat, kalau ditilik dari kemunculan liberalisme di Eropa yang juga diawali dari gerakan intelektual, sosial, dan politik. Jadi liberalisme klasik pun mulanya bukan gerakan ekonomi.

Namun, bila liberalisme klasik ala Adam Smith hanya ngurusi pabrik dan perusahaan dagang, Freidrich von Hayek menuntut pengaturan ulang keputusan-keputusan politik, produk hukum, dan lembaga-lembaga sosial lainya. Semua harus dibiarkan bebas ditentukan oleh mekanisme pasar.

Itulah mengapa, agenda neoliberali menuntut agar bidang-bidang seperti pendidikan atau kesehatan publik sebaiknya diprivatisasi atau diswastakan saja. Bila lembaga-lembaga ini dikelola oleh swasta, maka pasti lebih efisien dan terjadi persaingan yang sehat, sehingga konsumen pendidikan dan kesehatan diuntungkan. Kompetisilah yang membuat manusia hidup, berkembang, dan dinamis. Bukan subsidi.

Dalam agenda neoliberal, privatisasi bukan hanya sebagai strategi agar sebuah organisasi efisien, melainkan sudah menjadi tujuan. Memang tidak semua privatisasi, swastanisasi, liberalisasi, atau deregulasi berwajah neoliberalisme.

“Tetapi neoliberalisme memang punya tujuan agar berbagai bidang kegiatan dalam masyarakat digerakkan oleh motif pengejaran kepentingan diri privat. Itulah mengapa etos publik, solidaritas sosial, tindakan afirmatif terhadap kelompok miskin dan tersingkir adalah omong kosong besar bagi agenda neoliberal” tulis Herry Priyono di Koran Kompas.

Ditulis Oleh : Fikri Ainul

Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.