Mungkin Cara Kita Berpasrah Salah

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tiap sesuatu.”

(Ath-Tholaq: 2-3). 




   Gangguan tidur malam –raiso turu wengi- akhir akhir ini sejenak berhembus lewat di sela tongkronganku, mungkin karena pandemi ini membuat kegiatan belajar mengajar esuk hari masih belum maksimal, hingga membuat diri saya pribadi merasa tidak ada beban untuk melekan wengi sampai mentok pagi dan tidur loss paginya.

  Awak’ku lak rusak ngene terus, bersitan hati itu muncul dan kemarin saya coba untuk nurok’ke badan agak awal malam. jam 10 malam coba saya tidurkan badanku, loh, loh, sampai larut jam 2 malam ko masih belum bisa tidur, susah sekali to badan ini di suruh istirahat malam.

  Kejadian ini coba ku rangkai dalam fokus fikiranku bulan lalu tentang ke-pasrahan. Bisakah urusan tidur ini ku tempelkan pada konsep pasrah ?

  Koyo’e ko ya nyambung ya, begini : Dalam arti maenstrem, tawakkal adalah berserah, menyerahkan segala urusan kita kepangkuan maha penguasa. Yah saya setuju dengan arti ini, namun ihwal tawakkal yang sering di fahami sekian banyak orang adalah ikhtiar dulu, baru tawakkal atau penyerahan tersebut terletak di akhir sebuah usaha, di akhir pekerjaan,- ikhtiar dulu baru tawakkal.

  Peletakan tawakkal di akhir usaha menurut hemat saya telah mereduksi esensi tawakkal itu sendiri, karena tawakkal merupakan penyerahan apapun usaha kepada yang  maha kuasa sejak dari awal ikhtiar, sebelum dan bersamaan ikhtiar sampai akhir usaha. Dan pada semua proses itulah tawakkal seharusnya berada. karena manusia sejak dari awal sebuah usaha pasti menyadari bahwa ia adalah makhluk yang lemah, makhluk yang tidak berdaya tanpa pertolongon tuhan, hal apapun yang di kerjakanya.

   Kesombonganlah manusia yang meletakkan tawakkal itu di akhir sebuah usaha saja. Ikhtiar, usaha dan bekerja tanpa sedari awal menyandarkannya kepada yang Maha Kuasa, bahwa manusia tak akan pernah tahu usaha yang sedang ia lakukan akan berakhir bagaimana kecuali hanya pada prasangka dari ikhtiarnya, dari sebagimana memanage sebuah usahanya, tidak benar benar tahu hasil dari usaha itu.

   Dan inilah esensi dari tawakkal atau mewakilkan atau memasrahkan segala hal usaha, yang pengetahuan dan ilmu manusia tidak sanggup menjangkaunya, atau cara manusia menghadapi wilayah kehidupan yang akalnya tidak sanggup mengaksesnya, di serahkan kepada Maha Subjek Tunggal itu.

   Mungkin, Penjelasan pasrah dapat disederhanakan dengan contoh orang yang mau tidur. Ketika hendak tidur, kita pasrah, tidak tahu, besok kita akan bangun lagi atau tidak, pasrah dan akhirnya tertidur. Mungkin jika berfikir bagaimana caranya tidur, yang ada malah gak tidur.

  Sebelum tidur (:berusaha), sedari mapan turu sudah berserah, besok akan terbangun dan masih bisa melihut dunia atau tidak (:usaha ini akan sesuai harapan dalam arti berhasil, sukses atau gagal), ikhtiarnya berupa usaha mendapatkan hasil dari jerih yang di lakukan (:bangun pagi, sukses). Sehingga

‘’

Ketulusan sesungguhnya tidak dibentuk berdasarkan restu terhadap kenyataan yang dihadapi, tapi melalui kepasrahan.

Namun, kepasrahan bukan berarti menyerah begitu saja pada keadaan.

Pasrah adalah upaya dan usaha maksimal, serta kerja keras, yang membuat Tuhan merasa berat untuk tidak mengabulkan atau tidak menganugerahkan restu-Nya.


   Sehingga, ketika hal yang diharapkan tidak kunjung datang, atau merasa bahwa hidup ini terlalu berat,tidak muncul, pisuhan seperti ‘dunia ini kejam’ atau ‘hidup ini tidak adil’. Padahal, mungkin beberapa dari kita belum tahu, sesungguhnya kesuksesan dan kebahagiaan bukanlah hasil dari kerja keras yang kita lakukan, atau Semakin berat kerja tidak selalu menghasilkan upah yang lebih besar, jika tanpa accoord, tanpa agreement, tanpa kun-Nya sang Maha Menguasa. Dan sudah ada ajaran leluhur ’nek wes rejeki ora bakal nek ndi-ndi’, atau ungkapan ikhlas ‘yo wes, ancen durung rejekine’.

  Jadi intinya terus bergerak, terus berusaha dan terus produktif hidup dengan kesadaran bahwa kita semua tak berdaya tanpa di beri kuasa oleh-Nya.

Dan aku bisa tidur woyy, malam ini !!! :)

Di tulis oleh lerespati

Tags

Post a Comment

3 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.