‘’
Bayaran mereka hanya beberapa gulden saja. Seharusnya mereka kaya, lebih kaya dari bangsa asing perengut tanah orang.
Para
Eropa itu menarik tangan pekerja dengan paksa. Tas yang digenggam tangan kiri
pekerja lepas terjatuh. Berusahalah si pekerja jawa menggapai tas itu, tetapi
kaki kuat bersepatu menginjak tanpa kasihan. Merengek kesakitan meminta ampun:
tolong, Tuan, sahaya hanya ingin mengambil tas, Tuan. Tidak digubris wajah memelas
itu. Tangan yang kuat mengangkat badan kurus tak bertenaga. Dalam mulut
kotornya keluar kata-kata: Dasar tidak berguna, pekerja macam apa kowe ini?
Bagaimana bisa menjawab. Bibir sudah terbuka kalah cepat dengan tangan yang
mendorong. Dia hanya bisa memaki dalam hati. Mengutuk Tuan sialan itu. Pekerja
kembali bangkit. Membawa tas tergopoh mengikuti Tuan.
Kereta berlalu lalang. Pedagang selonjoran di tepi
jalan. Ada juga yang menggunakan kuda sambil menenteng parang,
mengayun-ayunkan, seperti sedang pamer kemampuan. Di samping pohon nangka ada
anak-anak bermain senang. Mereka semua berteriak, tetapi berhenti melihat Tuan
lewat. Wajahnya seperti takut. Aura menakutkan terpampang walau wajah tidak
melihat. Begitu menakutkan mendengar kesadisan para totok. Tidak pernah melihat
langsung, melihat dengan mata kepala, tetap menakutkan. Orang tua selalu
memaksa untuk hormat. Menunduk sejadi-jadinya. Meringkuk dalam gubuk reyot.
Sewaktu-waktu bisa saja dirobohkan. Disulap menjadi latar kosong. Hanya tanah,
tahan berbatu dengan kayu-kayu di atasnya.
“Hoy, sedang lihat apa, kowe? Ayo
cepat!”
“Enjeh, Tuan”
Pemandangan itu mengalihkan fokus. Rasanya ingin
sekali melihat mereka tersenyum. Berlarian sambil bermain. Mengobrol dengan
ibunya, mengambil kutu-kutu lalu membunuhnya dengan gigi. Sambit-menyambit
tukang bangunan. Mengirim semen dengan tali karet. Ditopang ember penuh,
mengguyur lubang tanam. Kambing mengembik ditarik pekerja pasar. Sapi melenguh
meminta makan. Ayam berkokok menotok muntahan Gundik kelelahan. Ada yang aneh
rupanya Tuan Rouwherd ini. Dia meminta singkong pada pedagang pasar. Mau diapakan
singkong itu? Tuan Rouwherd berjalan mendekati sapi yang melenguh entah sudah
berapa kali. Dia memberikan singkong kepada sapi itu. Berhentilah lenguh-an
sapi, digantikannya suara remuk singkong dalam mulut.
Sepertinya ulah tuan Rowherd telah membuat pasokan
pangan hanya gula. Sungai-sungai yang jernih mengaliri kebun tebu sampai
habisnya. Warga meminum air kecokelatan. Kotor. Seperti minuman binatang.
Terbentang luas di sana tebu-tebu yang menjulang. Pekerja banyak yang tidak
berpakaian-telanjang dada di bawah terik matahari. Bayaran mereka hanya
beberapa gulden saja. Seharusnya mereka kaya, lebih kaya dari bangsa asing
perengut tanah orang. Lihat saja bagaimana cara berpakaian antara penduduk
kaya, dan mereka yang berlaga kaya. Uang hasil rampasan dari tenaga pribumi-pemilik
kekayaan berlimpah. Dokar-dokar itu, yang mereka pakai berlalu lanang, melintas
di depan penduduk pribumi, hanya hiasan yang mereka pamerkan pada pemiliknya
sendiri.
Tuan Rowherd masuk ke dalam rumah gedong miliknya.
Rumah itu dibangun berkat pekerjaannya sebagai juru bayar pabrik gula. Jabatan
yang dianggap sangat penting oleh pribumi dimanfaatkan. Mereka terkadang
meminta bayaran pada calon pejabat, tidak cukup dengan uang, mereka meminta
anak gadis untuk dijadikannya Gundik. Tanah kaya, bukan hanya dikuasai oleh
mereka-mereka: sinyo totok, Indo, tetapi bangsa sipit juga mengambil kesempatan
berbisnis. Berlagak menurunkan harga pasar, agar mendapat konsumen berlebih.
Mungkin bukan tenaga dan modal yang tidak dimiliki pribumi, tetapi kecerdasan
dalam berbisnis.
Aku membawa tas milik Tuan Rowherd masuk ke dalam.
Gading gajah yang diawetkan menyapa pertama kali. Awal-awal sudah melihat
kerusakan dari bangkai-bangkai binatang. Semua dipajang pada dinding, meja, dan
di bawah tangga menuju loteng. Tidak muluk-muluk sebagian badan, ada pula yang
utuh. Musang kebun, terpampang menyeringai di atas lemari piring. Matanya yang
tidak pernah mengedip seakan mengawasi.
Asuji terlihat membersihkan debu-debu yang merekat
pada perabotan rumah. Dia meringis menyapa. Aku hanya mengangguk menghormati.
Takut dia tersinggung karena tidak dibalas. Tuan Rowherd sepertinya tidak akan
turun lagi. Biasanya dia tidak akan berlama jika ingin keluar. Aku melangkah
meninggalkan rumah. Para pekerja lain sedang sibuk mengerjakan apa yang
seharusnya mereka kerjakan. Anak-anak yang dipungut dari pinggir jalan juga
ikut membantu, walau hanya mencangkul tanah. Penanam bibit lebih mudah dikerjakan
oleh anak-anak seusia mereka. Mungkin inilah satu sisi kebaikan Tuan Rowherd: memungut
anak-anak tak berbapak-ibu ikut bekerja. Mendapat makanan gratis, dan digaji
pula. Mereka dididik menjadi pekerja yang kuat. Banyak janda berterima kasih,
bersyukur karena anaknya bisa mencangkul. Kebisaan yang menurut mereka
berharga, biasa saja bagi mereka yang bersepatu.
“Sodo, sod, bisa tolong bantu saya?” ia memanggil dan berkata sambil masih berlari.
Napasnya tersenggal-senggal di tenggorokan.
“Iya, dengan senang hati.”
Asuji membawaku ke arah gudang. Belum tampak maksud ia
meminta bantuan. Ada dua orang wanita tua di dalam. Satu berbaring, dan yang
lain berdiri membeku. Asuji melambai meminta aku mendekat. Ia mengangkat badan
keriput itu. Ia tunjukkan dari mulut tak bergigi wanita tua keluar busa. Aku
terburu mencari pohon kelapa. Memanjat, dan mengambil beberapa biji. Dikupas
pada ujung dengan golok yang tergeletak. Aku meminta Asuji meminumkan wanita
tua itu. Ia meneguk tak berdaya. Badan kurus itu sekuat tenaga menghabiskan isi
kelapa. Sedikit-demi sedikit, sampai habis. Ia menarik napas dalam-dalam,
membuangnya perlahan dari mulut. Dadanya naik turun bak ombak laut. Dari
mulutnya berucap: terima kasih, Sodo.
“Sewangsule, Buk.”
Para pekerja yang
sudah tua terkadang jatuh di tengah-tengah waktu. Mereka tidak terlalu kuat
menangkis sinar matahari. Tidak jarang pula, mereka berbusa seperti kejadian
barusan.
Penulis : MR. Marzuban
