Amben Kelawu (Bagian 1)

‘’

Bayaran mereka hanya beberapa gulden saja. Seharusnya mereka kaya, lebih kaya dari bangsa asing perengut tanah orang.

Para Eropa itu menarik tangan pekerja dengan paksa. Tas yang digenggam tangan kiri pekerja lepas terjatuh. Berusahalah si pekerja jawa menggapai tas itu, tetapi kaki kuat bersepatu menginjak tanpa kasihan. Merengek kesakitan meminta ampun: tolong, Tuan, sahaya hanya ingin mengambil tas, Tuan. Tidak digubris wajah memelas itu. Tangan yang kuat mengangkat badan kurus tak bertenaga. Dalam mulut kotornya keluar kata-kata: Dasar tidak berguna, pekerja macam apa kowe ini? Bagaimana bisa menjawab. Bibir sudah terbuka kalah cepat dengan tangan yang mendorong. Dia hanya bisa memaki dalam hati. Mengutuk Tuan sialan itu. Pekerja kembali bangkit. Membawa tas tergopoh mengikuti Tuan.

Kereta berlalu lalang. Pedagang selonjoran di tepi jalan. Ada juga yang menggunakan kuda sambil menenteng parang, mengayun-ayunkan, seperti sedang pamer kemampuan. Di samping pohon nangka ada anak-anak bermain senang. Mereka semua berteriak, tetapi berhenti melihat Tuan lewat. Wajahnya seperti takut. Aura menakutkan terpampang walau wajah tidak melihat. Begitu menakutkan mendengar kesadisan para totok. Tidak pernah melihat langsung, melihat dengan mata kepala, tetap menakutkan. Orang tua selalu memaksa untuk hormat. Menunduk sejadi-jadinya. Meringkuk dalam gubuk reyot. Sewaktu-waktu bisa saja dirobohkan. Disulap menjadi latar kosong. Hanya tanah, tahan berbatu dengan kayu-kayu di atasnya.

“Hoy, sedang lihat apa, kowe? Ayo cepat!”
“Enjeh, Tuan”

Pemandangan itu mengalihkan fokus. Rasanya ingin sekali melihat mereka tersenyum. Berlarian sambil bermain. Mengobrol dengan ibunya, mengambil kutu-kutu lalu membunuhnya dengan gigi. Sambit-menyambit tukang bangunan. Mengirim semen dengan tali karet. Ditopang ember penuh, mengguyur lubang tanam. Kambing mengembik ditarik pekerja pasar. Sapi melenguh meminta makan. Ayam berkokok menotok muntahan Gundik kelelahan. Ada yang aneh rupanya Tuan Rouwherd ini. Dia meminta singkong pada pedagang pasar. Mau diapakan singkong itu? Tuan Rouwherd berjalan mendekati sapi yang melenguh entah sudah berapa kali. Dia memberikan singkong kepada sapi itu. Berhentilah lenguh-an sapi, digantikannya suara remuk singkong dalam mulut.

Sepertinya ulah tuan Rowherd telah membuat pasokan pangan hanya gula. Sungai-sungai yang jernih mengaliri kebun tebu sampai habisnya. Warga meminum air kecokelatan. Kotor. Seperti minuman binatang. Terbentang luas di sana tebu-tebu yang menjulang. Pekerja banyak yang tidak berpakaian-telanjang dada di bawah terik matahari. Bayaran mereka hanya beberapa gulden saja. Seharusnya mereka kaya, lebih kaya dari bangsa asing perengut tanah orang. Lihat saja bagaimana cara berpakaian antara penduduk kaya, dan mereka yang berlaga kaya. Uang hasil rampasan dari tenaga pribumi-pemilik kekayaan berlimpah. Dokar-dokar itu, yang mereka pakai berlalu lanang, melintas di depan penduduk pribumi, hanya hiasan yang mereka pamerkan pada pemiliknya sendiri.

Tuan Rowherd masuk ke dalam rumah gedong miliknya. Rumah itu dibangun berkat pekerjaannya sebagai juru bayar pabrik gula. Jabatan yang dianggap sangat penting oleh pribumi dimanfaatkan. Mereka terkadang meminta bayaran pada calon pejabat, tidak cukup dengan uang, mereka meminta anak gadis untuk dijadikannya Gundik. Tanah kaya, bukan hanya dikuasai oleh mereka-mereka: sinyo totok, Indo, tetapi bangsa sipit juga mengambil kesempatan berbisnis. Berlagak menurunkan harga pasar, agar mendapat konsumen berlebih. Mungkin bukan tenaga dan modal yang tidak dimiliki pribumi, tetapi kecerdasan dalam berbisnis.

Aku membawa tas milik Tuan Rowherd masuk ke dalam. Gading gajah yang diawetkan menyapa pertama kali. Awal-awal sudah melihat kerusakan dari bangkai-bangkai binatang. Semua dipajang pada dinding, meja, dan di bawah tangga menuju loteng. Tidak muluk-muluk sebagian badan, ada pula yang utuh. Musang kebun, terpampang menyeringai di atas lemari piring. Matanya yang tidak pernah mengedip seakan mengawasi.

Asuji terlihat membersihkan debu-debu yang merekat pada perabotan rumah. Dia meringis menyapa. Aku hanya mengangguk menghormati. Takut dia tersinggung karena tidak dibalas. Tuan Rowherd sepertinya tidak akan turun lagi. Biasanya dia tidak akan berlama jika ingin keluar. Aku melangkah meninggalkan rumah. Para pekerja lain sedang sibuk mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Anak-anak yang dipungut dari pinggir jalan juga ikut membantu, walau hanya mencangkul tanah. Penanam bibit lebih mudah dikerjakan oleh anak-anak seusia mereka. Mungkin inilah satu sisi kebaikan Tuan Rowherd: memungut anak-anak tak berbapak-ibu ikut bekerja. Mendapat makanan gratis, dan digaji pula. Mereka dididik menjadi pekerja yang kuat. Banyak janda berterima kasih, bersyukur karena anaknya bisa mencangkul. Kebisaan yang menurut mereka berharga, biasa saja bagi mereka yang bersepatu.

“Sodo, sod, bisa tolong bantu saya?”  ia memanggil dan berkata sambil masih berlari. Napasnya tersenggal-senggal di tenggorokan.

“Iya, dengan senang hati.”

Asuji membawaku ke arah gudang. Belum tampak maksud ia meminta bantuan. Ada dua orang wanita tua di dalam. Satu berbaring, dan yang lain berdiri membeku. Asuji melambai meminta aku mendekat. Ia mengangkat badan keriput itu. Ia tunjukkan dari mulut tak bergigi wanita tua keluar busa. Aku terburu mencari pohon kelapa. Memanjat, dan mengambil beberapa biji. Dikupas pada ujung dengan golok yang tergeletak. Aku meminta Asuji meminumkan wanita tua itu. Ia meneguk tak berdaya. Badan kurus itu sekuat tenaga menghabiskan isi kelapa. Sedikit-demi sedikit, sampai habis. Ia menarik napas dalam-dalam, membuangnya perlahan dari mulut. Dadanya naik turun bak ombak laut. Dari mulutnya berucap: terima kasih, Sodo.

“Sewangsule, Buk.”

Para pekerja yang sudah tua terkadang jatuh di tengah-tengah waktu. Mereka tidak terlalu kuat menangkis sinar matahari. Tidak jarang pula, mereka berbusa seperti kejadian barusan.

Penulis : MR. Marzuban

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.