Sambil terdengar lantunan suara ini, menyanyikan lagu yang aku buat sendiri, terdengar pula teriakan dari dalam rumah yang dilewati:
Wong jowo iku kudu iso segala-galane. Rak mung numpang mangan ning duwure bumine pengeran! Ngising ngotori bumine pengeran! Kudu iso menggawe, usaha, kreatip, lan ngelakoni apo wae seng iso gawe berkah urip mu! Ben sesok nek duwe bojo rak klantang-klantung ora jelas. Lan berkahe uripmu, iso gowo penak anjog akherat.
Aku berhenti menengok. Mematung menatap jendela rumah yang terlihat di sana ada pak kumis marah-marah; menerangkan makna hidup seorang laki-laki di atas bumi pertiwi. ‘nyucur keringet, tandane menggawe’, satu kalimat terbesit di kepalaku. Memikirkan betapa susahnya terlahir menjadi calon tulang punggung keluarga sejak kecil. Memang adil rupanya takdir mengatakan: laki-laki berjuang, dan perempuan menunggu siap sambil ter-lentang.
Sodo Darmo Patuhi, nama seorang anak desa yang bekerja menjadi suruhan juru bayar pabrik gula berkebangsaan Belanda. Masih berusia lima belas tahun, bertatih mencari uang demi keluarganya. Menjadi sumber penghasilan di usianya yang muda.
Aku duduk di kursi kayu kotor. Bersender di geribik rumah tua. Menatap rumput-rumput yang sudah besar tinggal di sana. Mata berkedip entah sudah berapa kali. Aku masih saja memikirkan tentang uang, uang, dan uang. Tidak ada pilihan lain selain berangan, tanpa bisa melakukan. Banyak sawang menempel di kursi yang aku duduki. Tidak peduli. Badan telanjur lemas membawa waktu.
“Mas, jenengan kerso ngombe?” suara adik perempuanku yang masih kecil menawari. Tidak menjawab, aku hanya mengangguk memberi isyarat.
“Uwes, Mas.” Terdengar lagi suara perempuan. Hampir setengah umur; sekitar empat puluhan. Randah, ibuku, aku, memijat lembut punggung lemas ini sambil berucap. “Ora usah dipikiri. Urip pancen koyo ngene iki,” lanjutnya.
“Enjeh, Ma.”
Adik perempuanku keluar membawa kendi dan sepotong bambu. Hanya sepotong. Dia menaruhnya di bawah, dekat kaki kotor bekas tahan yang menempel. Tanpa Alas kaki. Dengan suara lembutnya Putri mempersilahkan kakaknya meminum.
Teguk demi teguk air mengalir di tenggorokan. Berceceran keluar dari gelas bambu. Membasahi dada tanpa selapis pakaian pun. Aku menutupnya dengan membuka mulut segar. Di dalam tubuh yang sudah hampir mengering terguyur kaget. Lantas aku memeluk adikku-Putri; Putri Asih. Berterima kasih. Dan disusulnya pelukan itu dengan ibunya.
Mungkin jika kehendak merestui mulut berbicara dengan malam, akan bising tidak henti-henti. Semua bercerita. Entah sanggup atau tidak. Barangkali karena sunyinya, semua orang terlelap. Aku mengambil beberapa kayu untuk dibakar. Menghangatkan tubuh dari belaian angin malam. Asap yang keluar akibat bakaran bisa pula untuk mengusir nyamuk. Emak sudah menyiapkan kayu sampai bertumpuk. Tinggal mengambil, dan mencarinya lagi esok. Putri sudah bertualang dalam mimpinya. Namun tangannya masih menepuk-nepuk mencari nyamuk yang menggigit. Segeralah aku menyalakan api. Menyebar cepat dalam tumpukan kayu. Asap mengejar nyamuk-nyamuk yang mengganggu. Dan sudah bisa tidur sekarang.
