Amben Kelawu (Bagian 3)

Apalagi hanya aku-pribumi miskin: tidak punya harta, jabatan, pangkat, dan apapun yang berbau kekuasaan.

Hanya beberapa jam saja tubuh nyaman berbaring, terbangun mendengar suara ayam berkokok, dan burung yang berkicau. Emak sudah siap menanak nasi seadanya. Itu pun hasil dari sawah tinggalan bapak yang hanya seluar kamar tidur. Padi tidak setiap hari tumbuh. Harus menunggu dan memasok agar dapat makan, walau hanya sepuluk nasi. Berkali-kali emak batuk. Barangkali karena asap tungku itu, atau bisa saja memang emak sedang sakit.

“Biar saya saja, mak.”

“Sudah, ndak papa. Kamu harus cepat berangkat ke rumah Tuan Rowherd. Dia bisa marah jika kamu terlambat.”

“Yasudah, mak. Saya pamit dulu.” Aku cium tangan itu. Kasar. Sangat terasa pekerja keras. Bahkan sudah ada coreng hitam bekas tungku.

Para pekerja sama baru berangkat dari rumah. Ada yang baru menyusun dagangannya, dan ada pula yang baru pulang entah dari mana. Biasanya mereka yang pulang pagi habis judi haram di tengah malam. Hendak mengikuti gaya Eropa, padahal uang pas-pasan. Tidak mengambil contoh baik seperti bekerja keras dan giat belajar. Tidak jarang mereka saling mencaci dengan bahasanya masing-masing: Heh, dasar manusia binatang! Anak edan! Semua hilang jika pikiran dipenjara dalam kegilaan sendiri. Semua menjadi gila; karena harta, kemenangan, pangkat. Dan di tengah jalan ada dokar dengan kuda warna kecokelatan. Langkahnya masih semangat. Masih pagi. Tidak manusia maupun hewan semuanya sama. Jika pagi hari, ketika sarapan masih bermula, tenaga pula masih menumpuk.

Piem berjalan cepat menuju rumah Tuan Rowherd. Langkahnya lebih tepat disebut mengingkrig. Belum terlihat Tuan Rowherd di depan rumahnya. Hanya pekerja yang berlalu lalang membawa barang. Tua-muda semuanya sudah mulai bekerja. Hanya aku, aku yang masih saja berdiri menatap bisu.

“Heh, kowe, ke sini!” perintah Tuan Rowherd mengagetkan.

Aku segera menuju ke sana. Berjalan menunduk di hadapan Tuan besar yang sudah rapi. Topi yang bisa ia pakai tidak terlihat di kepalanya. Hanya ada rambut tipis dan sedikit botak.

“Panggilkan Asuji, yah!”

Aku mengangguk patuh. Tak berdaya seorang pribumi jawa di hadapannya. Apalagi hanya aku-pribumi miskin: tidak punya harta, jabatan, pangkat, dan apapun yang berbau kekuasaan. Lihat semua pekerja itu! Hidup dengan keterpaksaan. Diperbudak di dalam buminya sendiri. Tahan-tanah subur hasil garapan nenek moyang ludes ditelan perut bangsa lain. Sakit rasanya. Tetapi bagaimana lagi? Semua sudah telanjur jatuh dalam sergapan raksasa Eropa. Laki-bini bertaruh nyawa bersama anak-anaknya. Tidak peduli berusia berapa. Yang penting mereka bisa mencangkul, memetik, memanen, dan para gadis pula akan dipanen suatu saat nanti.

“Asuji! Kamu dipanggil Tuan Rowherd.”

Ia tidak menjawab. Badannya menggigil; terlebih saat nama Tuan disebut. Matanya dengan liar menatap kesana-sini. Pada wajahnya terlihat suatu harapan: harapan bebas. Entah dari apa. Barangkali dia tidak tahan dengan perilaku Tuan Rowherd. Tetapi selama ini dia baik-baik saja. Hanya hari ini terlihat berbeda.

“Ora! Aku gak mau ketemu Tuan. Takut.” Ucapnya dalam jawa.

Baru kali ini ia berbicara jawa denganku. Biasanya dengan bahasa indonesia. Itu pun masih dengan logat jawa.

“Kamu tau akibatnya jika membantah perintah Tuan?”

Ia mendekat. Menarikku duduk berdampingan dengannya. Wajahnya mulai tenang. Dan mulutnya mulai bercerita. Semuanya dia tuturkan dengan jawa. Semuanya, tanpa diselip indonesia sedikitpun. Mungkin jika diartikan seperti ini:

Semalam saya pulang dari rumah Tuan: sekitar jam sepuluh. Seperti biasa, saya mengecek dan membersihkan dulu barang-barang dan koleksi Tuan sebelum pulang. Takut ada yang hilang.

“Jika memang ada yang hilang?” selaku.

Dia menjawab dengan cepat, tetap dalam jawa: Saya akan kabur dari rumah Tuan. Saya takut jika nanti menjadi tersangka atas barang-barang yang hilang, terlebih jika itu koleksi kebanggaan Tuan. Saya berkeliling di setiap sudut rumah besar itu. Melihat satu persatu tanpa ada yang tertinggal. Aku melihat ada pintu yang terbuka di dekat ruang depan. Pintu itu biasanya terkunci rapat. Kamu sudah tau sendiri, tidak ada yang boleh masuk ke dalam. Tetapi rasa penasaran dengan isi kamar itu tidak bisa tertahan lagi. Melunjak bagai pelajar yang mendengar ketidakadilan. Melunjak sejadi-jadinya. Mendorong paksa raga ini untuk mengintip. Melihat sebenarnya apa yang ada di dalam. Pikiran tertutupi kabut heran. Dari dalam terdengar suara Tuan Rowherd dan seorang gadis. Rupanya belum tidur. Saya mengintip. Terkutuklah saya, Sodo. Tidak patuh pada perintah Tuan. Di sana saya lihat Tuan tanpa pakaian: telanjang seperti binatang. Dan Tuan menyadari mendengar gelotak pintu yang tersenggol. Saya lari ketakutan. Dan di sinilah saya: meringkuk tidak berani kembali ke sana.

Ceritanya membuat aku ikut penasaran. Seperti aliran listrik: menyetrum setiap orang yang mendengarkan.

“Baik, aku akan membantu.”

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.