Aku kembali tanpa memperdulikan si bodoh penasaran itu. Mencari mati saja dia. Tetapi entah aku bisa menahan jika ada di posisi itu. Mencarinya saja sudah melewati beberapa kebun. Harus kembali tanpa membawanya. Bagaimana nanti menghadap Tuan Rowherd? Membisu akan membuat aku celaka. Terlebih jika sampai aku dipecat. Menjadi suruhan juru bayar lebih baik daripada mengangkuti barang-barang berat: menurutku. Entah berbeda dengan yang lain. Memiliki tanggung jawab dan risiko besar tinimbang jadi pekerja. Gulden mengalahkan semuanya. Lebih besar, yah, lebih besar bayarannya.
“Maaf, Tuan. Sahaya tidak bisa membawa dia kemari.”
“Kowe ini bagaimana!”
“Dia tidak berani menghadap Tuan”
“Dasar monyet! Sudah saya duga!”
Tuan Rowherd memberikan selembar surat dan memerintah mengantarkannya. Gendon Maksudo-nama yang akan menerima surat ini. Dia pembunuh bayaran Tuan Rowherd. Sudah berapa kali nyawa melayang ditebas parang Gendon. Semuanya tertangkap dan dijadikan mayat mengenaskan. Aku curiga jika isi surat ini perintah membunuh Asuji. Sangat bahaya keadaannya. Cuman Asuji, kenapa harus Gendon yang membunuh. Tidak lama dia akan mati kelaparan, atau mati diserbu warga karena mencuri.
Rumah Gendon ada di samping perkebunan. Bersembunyi di antara tebu-tebu yang menjulang. Tertutupi. Mungkin jika tidak masuk menyingkirkan tebu-tebu yang menghalang akan hilang rumah itu. Mandor yang melihat berteriak mengancam, dan menyapa mengetahui itu aku. Bekas panen tidak dibersihkan. Bisa menjadi pijakan di atas tanah gembos. Memudahkan, tetapi tetap saja terlihat kotor.
Bagaikan rumah kosong: sunyi tanpa suara. Lebih terdengar ketukan berkali-kali. Jantung berdetak hendak keluar karena cepatnya. Rasa takut menyelimuti.
“Apa!” suaranya lantang menendang badan menjauh. Raksasa Gendon kini ada di hadapan. Aku hanya setinggi bulu dadanya. Mati jika kepalan tangannya mencium pelipis kurus ini.
“Ada surat dari Tuan Rowherd.” Sebari memberikan dengan tangan gemetar.
“Iya!” suaranya sama lantang membuatku berlari terbirit. Tebu-tebu ditabrak tanpa sakit. Suaranya menggema di telinga. Meraung-raung. Seperti seekor singa yang kelaparan. Mengincar matanya dengan tatapan lapar.
Mandor tebu yang melihat ikut berlari. Mereka sama terbirit nya dengan aku. Untuk apa mereka berlari? Membisingkan semak-semak dengan gelagatnya yang panik. Barangkali mereka mengira ada binatang buas yang mengejar. Yah, ada binatang buas terkurung dalam rumah reyot. Belum lama meraung. Dan para mandor juga ikut terbawa.
Mereka berhenti saat aku berhenti. Membungkuk sambil mengatur napas yang tersenggal-senggal. Ada juga yang menggerutu menggaruk-garuk kepalanya. Bukan karena gatal, namun bingung menerpa isi kepala. Dan akhirnya ada yang bertanya:
“Hadeh, Sodo, kamu kenapa lari?”
“Saya lihat ada singa di sana, Pak”
“Mana mungkin ada singa yang mencari makan di tengah perkebunan tebu,” dia menyela cepat. Apa yang dia katakan mengandung kejanggalan padi diri sendiri. “Mungkin saja dia membutuhkan pemanis agar hidupnya tidak muluk-muluk sadis.” Tambahnya.
Rasa-rasanya mulut ini tidak kuasa lagi menahan tawa. Namun ketakutan akan ditebas parang yang menggantung di pinggang mandor. Dicincang seperti daging segar nantinya jika aku menertawai.
“Bukan mencari pemanis. Tetapi singa mencari daging segar seperti bapak-bapak ini.”
“Setan alas!” salah satu dari mereka mencabut parang dari pinggangnya. Mengangkat tinggi-tinggi. Mengancam berkali-kali ingin mencincang tubuh ini.
Aku lari menjauh, meninggalkan mereka yang mulutnya masih mengutuk. Tidak mengejar. Mereka bercakap sebentar lalu kembali ke tengah-tengah perkebunan. Sudah aman sekarang. Langkah tidak lagi secepat barusan. Mengatur napas yang keluar-masuk cepat. Lelah dua kali berlari dari serangan: singa raksasa dan mandor tertipu.
