Amben Kelawu (Bagian 5)

Pikiranku beralih kepada Asuji. Manusia lemah itu, terancam hidupnya sekarang. Mau lari ke mana dia jika tau akan dibunuh. Berlayar pun dia tidak mampu; menaiki dokar, atau hanya berjalan kaki. Mungkin hanya itu. Dan harus mencuri uang perusahaan juga perabot berharga dahulu. Lagi-lagi ada pekerja tua yang terjatuh di tengah jalan: tanpa beralas kaki, tanpa pakaian: membawa sekarung beras yang masih berkulit. Berbaring lemas sambil merintih. Tidak ada yang membantu. Aku pun sama malasnya; bosan setiap hari melihat ada saja yang seperti itu. Memaksa diri sendiri melakukan pekerjaan berat, padahal sudah rapuh sekarat. Tubuh tua lebih sedikit membutuhkan makanan. Namun lebih lemah jika harus menahan.

Mandor yang melihat seketika mencaci pria tua itu. Menendang pantatnya agar segera berdiri. Namun apalah daya pria tua yang sudah kehabisan tenaga. Hanya bisa memohon diberi waktu istirahat sebentar tanpa melawan. Bukan hanya pria tua itu saja jika membahas tentang perlawanan, tetapi anak muda dan pria dewasa pula tidak berani. Mandor itu pun masih saja menendang. Dia sama takutnya jika majikan mengetahui pekerjaannya tidak beres. Akan dipecat dan hidup belangsak menjadi gembel.

Aku memberanikan diri mendekat. Berbicara dengan nada memohon agar orang tua itu dimaafkan. Malah aku terkena tamparan keras. Terkejut sekujur tubuh ini dan langsung berlari menjauh. Wajah terasa terbakar. Dimana hilangnya rasa kasihan orang-orang berkedudukan tidak terlalu tinggi itu. Mereka sudah mulai berani membantai kawannya sendiri. Hanya untuk sepeser bayaran. Ya. Hanya sepeser, namun bukan persoalan berapa mereka dibayar. Tetapi kesengsaraan yang akan mereka terima jika tidak selesai menjalani tugas. Seperti halnya aku ini: takut berhadapan dengan raksasa Gendon Maksudo. Jika bukan karena perintah Tuan mana mungkin aku berani menghampiri singa kelaparan itu.

Tuan Rowherd duduk di teras rumahnya sambil membelai-belai rambut buntut sapi koleksinya. Seperti biasa dengan pedang yang tergeletak di atas meja.

“Tuan, sahaya sudah sampaikan surat Tuan kepada Gendon Maksudo.”

“Bagus.”

“Adakah perintah selanjutnya untuk sahaya, Tuan?”

“Nee, kowe tunggu saja di gudang, yah.”

“Baik, Tuan.”

Aku beranjak meninggalkan Tuan Rowherd. Pekerjaan pertama sudah selesai dilaksanakan. Tinggal menunggu perintah selanjutnya.

Beginilah bekerja menjadi suruhan; hanya melakukan apapun yang diinginkan Tuan. Mungkin jika aku perempuan, sudah berderai keringat satu ranjang dengan Tuan Rowherd. Terlebih jika cantik gemulai, memiliki tubuh semok, dan berkulit putih. Sudah dari dulu menjadi pemuas nafsu ganasnya. Ada apa pula dengan otak ini sehingga memikirkan hal yang tidak akan pernah terjadi. Banyak gadis Eropa lainnya yang memiliki paras cantik luar biasa; bagaikan bunga tulip yang mengalahkan rimbun bunga mawar. Namun kenapa malah memilih gadis pribumi yang perawakannya pun seperti tulang kambing. Lagi-lagi karena kedudukan dan jabatan. Penduduk Eropa sudah memiliki pengakuan lebih sekalipun mereka masih gadis. Dan pribumi:- tidak ada pengakuan sekalipun sudah berusia lanjut. Seperti inikah keadilan bagi bangsa subur paru-paru dunia? Ya, memang sebuah keadilan bagi seluruh rakyat kaya.

Aku duduk di ranjang menghadap para pekerja di sawah. Merenung sendirian memikirkan nasib diri sendiri dan keluarga. Cerita Asuji! Aku teringat cerita itu. Dia melihat Tuan Rowherd telanjang di dalam kamar itu. Mungkinkah dia sendirian? Atau bersama gadis di dalam? Pertanyaan kotor itu merusak pikiran saja. Untuk apa memperdulikan kehidupan Tuan jika kehidupan sendiri masih berantakan. Semakin banyak pula masalah jika ikut campur. Hanya mereka, mereka yang sedang bekerja di tengah panasnya sinar matahari, yang selalu membuatku bersyukur akan pekerjaanku ini.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.