Misalnya saya sendiri, seringkali mengalami beberapa momen berhadapan
dengan sesorang yang saya pribadi tahu dan sudah sering kali dengar dari
beberapa teman dekatku, bahwa ia sering kali menjelek-jelekan, memfitnah,
mengada-ada, atau meng-hype keburukanku ke sana kemari. Jelaslah,
saya pribadi pasti marah, panas, jengkel dengan orang semacam ini, akan tetapi seringkali
saya berpura-pura semuanya baik-baik saja, seolah nggak ada masalah. wah,
dalam hati saya begitu nggerundel-nya, ingin sekali misuhi dan me-remuk-kan
mukanya, heehh, juanncu’.
Atau terjebak di tongkrongan dengan beberapa orang
yang diri kita tidak nyaman, entah karena tema perbincangan atau karena type
orang-orangnya, sehingga kita berpura-pura mengikuti alur perbincangan, sembari
sedikit memperlihatkan raut muka yang seolah-olah nyaman berada di tengah mereka.
Atau bertamu di rumah seseorang yang menyuguhkan
makanan dengan sedikit memaksa kita untuk menyantapnya, yang kita tahu tidak
suka dengan suguhan itu, sehingga dengan terpaksa akhirnya berpura-pura
menikmatinya, sambil berbincang-bincang dengan sedikit menganggukan kepala dan senyum
pemanis, seolaah makananya sangat nikmat.
Dan situasi-situasi yang semacam.
Menghadapi situasi tersebut, saya pribadi bukanya
tidak ingin membalas perbuatan buruknya, untuk situasi pertama, atau bukannya
tidak ingin sesegera mungkin beranjak dari tempat tongkrongan tersebut, untuk situasi
kedua, atau bukanya tidak ingin menyepah dan memuntahkan makanan yang masuk ke
perutku itu, untuk situasi ketiga.
Ya memang, pura-pura tidak marah, pura pura nyaman,
atau pura-pura menikamti.
Tujuan kepura-puraan ini semata berdasarkan pada
pemahaman bahwa dengan berpura-pura, maka situasinya akan lebih harmonis, akan
lebih nyaman dalam jangka panjang, dari pada menunjukkan kemuakan dan kekesalan
diri pada mereka.
Terkadang atau bahkan sering kali, menyikapi hidup dengan kepura-puraan itu sedikit perlu, hanya demi sebuah ke harmoni-an, walau hal yang di ati ati itu tak begitu penting, atau bahkan sedikit menyisakan sedikit linu di hati.
Walaupun memang sikap itu terkesan sedikit bermuka
dua, sebab tidak berpangkal dari ketulusan hati dan bersebrangan dengan
perasaan diri kita.
Akan tetapi, setidaknya sikap tersebut memberikan
sedikit banyak manfaat sebagai polesan suasana harmoni di permukaan.
Karena, bagaimanapun atau kepada siapapun juga, mu’asyarah
jamilah harus tetap terjalin, dan relasi sehat juga harus tetap
tersambung. Atau setidaknya sikap berpura-pura itu lebih sedikit
darahnya di banding mengumbar amarah dan dendam.
Dan karena di muka bumi ini, nggak ada orang yang
sudi di permalukan, di hinakan, di singgung, di bantah mentah omong kosongnya
atau di telanjangi sikap buruknya di keramaian. Karena sesalah apapun
seseorang, sejahat apapun seseorang atau sekeji apapun seseorang, pasti akan
berontak dengan melontarkan berjuta-juta alasan –bahkan jika terpaksa sudi
menggadaikan Nama Suci Tuhan- semata hanya demi menjaga nama baiknya, iyo to
?
Apalah gunanya melancarkan benci, dendam, muak dan
kekesalan pada seseorang yang telah menyakitimu dan membuat dirimu tidak nyaman,
jika buahnya hanyalah pertikan baru atau disharmoni, yang justru akan
membuat aura dirimu kian terperosok jauh ke bawah ?
Maka, berpura-pura bisa jadi menjadi pilihan bijak
untuk menghindari pertikain dan disharmoni.
Sekali lagi, kadang kala perlu menundukkan kepala
dan punggung pada seseorang yang kita sendiri tahu tidak begitu penting dan
berdampak pada diri kita, Terkadang perlu tegur sapa pada sekelompok sebaya
yang kita sendiri agak muak dengan sikap dan gaya hidupnya, Terkadang juga perlu
ikut duduk dan berbincang dengan teman di sekeliling kita, yang kita sendiri
sangat tidak begitu nyaman duduk bersebelahan dengan mereka.
So, Berpura-puralah, Berbahagialah !
Oleh : Lerespati
