Setelah bererapa kurun waktu, gerakan Dakwah Wali Songo mulai terbangun. Dalam konteks kesejarahan, keberadaan Wali Songo di satu sisi berkaitan erat dengan kedatangan muslim asal Champa yang ditandai kemunculan tokoh Sunan Ampel, sesepuh Wali Songo; di sisi lain, berkaitan juga dengan prose menguatnya kembali unsur-unsur budaya asli Nusantara dari zaman prasejarah yang berjalin-berkelindan dengan pengaruh budaya Hindu-Buddha dan tradisi keagamaan muslim Champa. Melalui prinsip dakwah yang kemudian oleh para ulama-peneliti, disebut dengan “al-muhafazhah ‘alal qadimish shalih wal akhdu bil jadidil ashlah”, unsur-unsur budaya lokal yang beragam dan dianggap sesuai dengan sendi-sendi tauhid, diserap ke dalam dakwah Islam. Gerakan dakwah Wali Songo menunjuk pada usaha-usaha penyampaian dekwah Islam melalui cara-cara damai, terutama melalui prinsip maw’izhatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan, yaitu penyampaian ajaran agama Islam melalui cara dan tutur bahasa yang baik. Dewasa itu, ajaran Islam dikemas oleh para ulama sebagai ajaran yang sederhana dan dikaitkan dengan pemahaman oleh para masyarakat setempat, atau Islam “dikebumikan” sesuai adat budaya dan kepercayaan penduduk setempat lewat proses asimilasi dan sinkretisasi. Yang menunjukkan bekas jejak-jejak dakwah bersifat asimilatis dan siskretik, dalam dakwah Islam ala Wali Songo itu justru kaum sufi yang sangat terbuka, luwes, dan adaptif dalam menyikapi keberadaan agama Islam, yang tentunya memiliki karomah luar biasa.
Dalam gerakan Dakwah Wali Songo juga terdapat pengaruh Sufisme dengan usaha-usaha yang bersifat asimilatif dan sinkretik dalam dakwah Islam ala Wali Songo, secara teoritik maupun faktual dapat disimpulkan sangat sulit dilakukan oleh mubaligh-mubaligh penyebar dakwah Islam dari golongan saudagar maupun ulama fiqih dengan bermacam-macam mazhabnya. Peranan sufisme dalam proses penyebaran Islam terlihat jejaknya dari lahirnya sastra-sastra sufistik pasca-Wali Songo yang ditulis dalam bentuk tembang, kidung, syair, dah hikayat. Di kalangan pengamal sufisme di Nusantara, terdapat dua paham pemikiran besar yang masing-masing dianut sebagai “grand-theory” oleh kaum sufi semenjak era Wali Songo. Pertama, adalah paham wujudiyyah. Menurut Khan Sahib Khan dalam Cakrawala Tasaus (1987) paham wujudiyah mengajarkan doktrin bahwa manusia (alam) berasal dari pengetahuan Illahi dan akan mendapat pengalaman dari dunia untuk kemudian menuju ‘Ain-Nya. Dalam artian, kita sebagai manusia hanya diperintahkan untuk menganut ajaran yang telah disampaikan oleh Pembawa Risalah untuk mengikutinya, kemudian mendapat balasan baik jika menjalaninya sesuai dengan norma-norma yang terkandung, begitu pula sebaliknya. Doktrin paham wujudiyah yang termasyhur, mengatakan bahwa alam ini tidak diciptakan dengan sebab, melainkan ada di dalam pengetahuan Tuhan; dan pengetahuan Tuhan akan abadi seperti Zat-Nya sendiri. Melalui pendekatan sufisme, dakwah Islam era Wali Songo memasuki ranah adat-imtiadat yang berhubungan dengan tradisi keagamaan baru-pengaruh Islam Champa yang mengalami proses asimilasi mengagantikan tradisi keagamaan lama seperti tradisi agama Hindu-Buddha yang disebut Sradha, misal, yaitu upacara “meruwat arwah” seseorang setelah dua belas tahun kematiannya, menjadi tradisi baru Islam yang disebut Nyadran atau Nyradha, yaitu upacara ”mengirim doa kepada arwah” orang mati setiap tahun yang biasa disebut di Pesantren-Pesantren sebagai Haul. Pada era itu pula, masyarakat islam Jawa masih terpengaruh oleh pengetahuan-pengetahuan lama seperti ilmu nujum, ramalan, hitungan mengenai hari baik (weton) yang tersimpan dalam kitab yang disebut Tapuk Cakarai, dengan cepat diserap ke dalam pengetahuan Jawa yang berkaitan dengan ilmu nujum, ramalan, petungan nagadina yang dikenal dengan nama Kitab primbon.
Selain itu, Wali Songo juga mengembangkan dakwah Islam melalui Asimilasi Pendidikan model dukuh, asrama, dan padepokan dalam bentuk pesantren-pesantren, peselukan-peselukan, peguron-peguron juga model pendidikan masyarakat yang terbuka lewat langgar, tajuk, masjid-masjid, dan permainan anak-anak. Salah satu proses islamisasi dengan hasil menakjubkan yang dilakukan Wali Songo melalui pendidikan adalah usaha mengambil alih lembaga pendidikan Syiwa-Buddha yang disebut “asrama” atau “duduh” yang diformat sesuai ajaran Islam menjadi lembaga pendidikan pondok pesantren.
Tidak hanya itu, Wali Songo juga menyebarkan Islam lewat Seni dan Budaya. Seni pertunjukkan yang potensial menjadi sarana komunikasi dan tranformasi informasi kepada publik, terbukti dijadikan sarana dakwah yang efektif oleh Wali Songo dalam usaha penyebaran dalam berbagai nilai, paham, konsep, gagasan, pandangan, dan ide yang bersumber dari agama Islam.
Dapat kita simpulkan berdasarkan uraian di atas, bahwa kepercayaan Kejawen sebelum adanya Islam tentu saja masih kental dengan norma-norma yang didasarkan pemikiran rasional. Dan kepercayaan Kejawen setelah adanya Islam mengalami perombakan-perombakan tanpa menghilangkan budaya-budaya lama, namun tetap selaras dengan ajaran dan norma-norma Islam.
Ditulis Oleh : MR. Marzuban
