Sesungguhnya, agama, dan kepercayaan tidak sekadar hiasan,
melainkan konsumsi hati dan subyektif sehingga orang dengan bebas dapat
berekpresi menurut cara masing-masing. Bahkan agama sering dikaitkan dengan
kolektif, hingga ada orang yang dianggap “lebih beragama” karena memiliki
kolektif relatif besar (agama dominan).
Sebaliknya, kepercayaan Jawa sering dianggap minor, sehingga
posisinya kurang menguntungkan. Posisi kepercayaan dianggap “kurang beragama”,
biarpun sebenarnya juga beragama. Namun
demikian, paling tidak, di Jawa ini agama cenderung dianggap produk politik,
sebagai warisan masa lalu yang memiliki “pedoman” atau kitab. Adapun
kepercayaan adalah produk kultural, yang tidak memiliki pedoman (kitab) khusus.
Agama adalah kesatuan sistem kepercayaan dan praktik-praktik yang
berkaitan dengan hal ikhwal dan sakral, yaitu hal-hal yang disisihkan dan
terlarang, kepercayaan dan praktik-praktik yang menyatukan seluruh orang yang
menganut dan menyakini hal-hal tersebut kedalam satu komunitas. Karasteristik
agama selalu berfikir pada hal-hal yang ghaib.
Sebelum mengenal Tuhan, orang Jawa telah memiliki paham animisme.
Paham ini dianggap sebagai pilar pengetahuan Tuhan. Paling tidak, orang Jawa
akan menghayati yang menguasai animis (anima) atau roh. Paham animisme,
belakangan ini mencuat menjadi kaum abangan (istilah Geertz). Anehnya,
paham animisme yang berkembang menjadi pemahaman dinamisme (keyakinan pada
kekuatan benda sakti). Walaupun keduanya saling berdampingan, namun keduanya
tetap berbeda. Yang satu ditujukan pada fenomena di alam apakah kekuatan-kekuatan
kosmis, seperti angin, sungai, binatang, langit, dan lain-lain atau segala
jenis yang ada di permukaan bumi, seperti tanaman, bintang, batu, dan
sebagainya. Atas alasan ini, maka agama seperti ini diberi nama “naturisme”.
Sedangkan yang satunya lagi ditujukan pada hal-hal spiritual, seperti roh,
jiwa, setan, dewa-dewi, tuhan-tuhan.
Sebelum mengenal Tuhan, orang Jawa memahami dunia kasar (wadhog)
dan dunia halus. Ketika orang Jawa meninggal, diyakini rohnya itu memiliki
kekuatan. Roh tersebut dapat membantu dan juga mengganggu hidupnya. Agama roh
itu disebut “animisme”.
Ismawati (2002:5-6) menyatakan bahwa orang Jawa termasuk masyarakat
ber-ketuhanan. Sejak zaman prasejarah, orang Jawa telah memiliki paham
aminisme, yaitu suatu kepercayaan tentang adanya roh atau jiwa pada
benda-benda, tumbuhan, hewan, dan manusia itu sendiri. Kepercayaan seperti itu
adalah agama mereka yang pertama. Di Jawa, paham animisme masih terasa ketika
orang-orang datang ke kuburan, membakar kemenyan, dengan lantunan doa-doa (manta)
Jawa. Ketika orang jawa ke kuburan, lalu pulang membuat sesaji di senthong,
dengan tujuan roh nanti akan hadir “makan sesaji” itu. Pekerti semacam ini,
jelas merupakan bentuk aimisme Jawa. Animisme Jawa ini sulit dihilangkan,
karena sudah mentradisi. Akan tetapi pengkajian yang dilakukan sistem animisme
ini tetap penting, karena ponsulat yang menjadi landasan juga dapat ditemukan
di kalangan sejarawan-sejarawan agama yang tidak menerima apa yang dinamakan
animisme.
Dhavamony (1999:67-79) menyatakan, animisme, sebagaimana digunakan
dan dipahami oleh E.B.Tylor, mempunyai dua arti. Pertama, dia dapat
dipahami sebagai suatu sistem kepercayaan di mana manusia religius, khususnya
orang-orang primitif, membutuhkan jiwa pada manusia dan juga pada semua mahluk hidup
dan benda mati. Kedua, animisme dapat dianggap sebagai teori yang
dipertahankan oleh Tylor dan pengikut-pengikutnya, bahwa ide tentang jiwa
manusia merupakan akibat dari pemikiran mengenai beberapa pengalaman psikis.
Kepercayaan akan mahluk-mahluk berjiwa meliputi dua bentuk: kepercayaan bahwa
manusia memiliki jiwa yang tetap bertahan sesudah kematiannya dan kepercayaan
bahwa ada makluk-mahluk berqiwa lainnya (mahluk-mahluk yang dipribadikan),
kepercayaan tentang mahluk-mahluk berqiwa memiliki kemungkinan tentang adanya
malaikat, jin, ataupun kehidupan yang ada di planet lain.
Di Jawa, banyak leluhur yang dijadikan tumpuan persembahan,
tentunya ketika Islam belum tersebar. Pemujaan tokoh-tokoh mistis sering
terjadi. Persembahan dan pemujaan mereka lakukan dalam bentuk ritual. Orang
Jawa yang masih memuja Dwi Sri, Nyi Rara Kidul, Mbah Cikal Bakal, Penemuan
ajaran Kejawen, dan sebagainya. Leluhur yang biasanya telah tiada
biasanya dijadikan kiblat atau paling tidak perantara hidup.
Selain pemuja leluhur, orang Jawa juga memiliki keyakinan yang
disebut dinamisme. Dinamisme adalah upaya orang Jawa menyakini
benda-benda seperti keris, tombak, songsong, batu akik, akar bahar, kuku macan
sebagai jimat (Ismawati, 2002:10). Keyakinan semacam ini sampai sekarang masih
sering dilakukan oleh orang Jawa di berbagai wilayah, terutama di daerah yang
belum tersentuh oleh agama resmi, terlebih agama Islam. Pemeliharaan
benda-benda bertuah, seperti pusaka menjadi sipat kandel, wesi kuning,
sebagai tameng bahaya, jelas potret dinamisme. Misalnya saja, ada yang bertapa
di Kedhung Sana Kulon Progo, untuk mendapatkan keris sakti dan jarik
lurik. Dengan demikian, dinamisme Jawa pun dapat dikatakan sebuah bagian dari
agama Jawa itu sendiri.
Ditulis Oleh : MR. Marzuban
