Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Kajian Naratif

 Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur semua bidang kehidupan (QS Al-Maidah: 3). Islam menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan perundang-undangan, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar (al-Wasli, 2001:33)

Islam juga agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tunggi darinya. Al Islamu ya’lu wa la yu’la alaihi. Umat Islam disebut sebagai khoiru umat., sebagaimana diungkapkan dalam Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 110. Ungkapan khoiru umat  ini tidak hanya menjadi sebuah slogan kebanggaan semata, tetapi telah dibuktikan oleh umat Islam dengan menguasai sebagian besar wilayah di dunia dan membangun sebuah peradaban yang tak tertandingi pada masanya. Ketika orang-orang Eropa masih tenggelam dalam peradaban yang teramat gelap gulita, dunia Islam telah menjadi pusat peradaban yang menerangi seluruh dunia dengan cahaya gilanggemilangnya (Hasjmi, 1975: 36)

Kemajuan peradaban ini ditandai dengan revolusi ilmiah yang terjadi secara besar-besaran di dunia Islam. Cerdik cendikia pun bermunculan dalam berbagai disiplin pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun non-agama (pengetahuan umum). Tidak hanya menyangkut permasalahan fiqih dan teologi, tetapi juga dalam bidang filsafat, matematika, astronomi, kedokteran dan lain sebagainya. Dalam bidang hukum dikenal beberapa ulama besar yang mazhab mereka diikuti oleh sebagian besar umat Islam di dunia hingga sekarang, seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbal. Dalam bidang filsafat dan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi muncul nama-nama  Geber (Jabir Ibnu Hayyan), Hunayn Ibnu Ishaq, Tsabit Ibnu Qurro, al-Razi,  Al Kindi, Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu Washiyah, Al Khawarizmi, Al Farghani, Ibnu Rusyd dan Ibnu Khaldun (Hasjmi, 1975. 1975: 171).

Sumbangan pemikiran Islam terhadap peradaban dunia telah diakui secara terbuka, obyektif, dan simpatik oleh para sarjana Barat (Mulyadhi, 2000: 3). Satu hal yang menarik adalah para cerdik cendikia tersebut mempunyai pandangan yang menunjukkan adanya kesatupaduan antara ilmu, iman dan amal. Spirit yang mendasari mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, faktor yang dominan adalah dorongan agama (Mulyadhi, 2000: 12). Dorongan agama ini mewujud pada  keinginan untuk merealisasikan keimanan mereka dan mengimplementasikannya dalam amal shaleh yang lebih luas. Tradisi ilmiah dalam masyarakat muslim pada saat itu mempunyai nilai yang sangat “Islamis” karena kuatnya pengaruh dari kitab suci al-Qur’an.

Namun kegemilangan peradaban umat Islam tersebut, pada saat ini telah berlalu dan  hanya  menyisakan  nostalgia keindahan sejarah. Sedikit demi sedikit umat Islam mulai mengalami kemunduran dan kelemahan di berbagai bidang. Dimulai dengan terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam dan saling berebut kekuasaan di kalangan kerajaan yang mengakibatkan merosotnya kekuasaan khalifah serta melemahnya posisi umat Islam sampai akhirnya terjadi tragedi yang menjadi catatan hitam dalam sejarah, jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu Khan yang diikuti dengan pengrusakan pusat-pusat kegiatan ilmiah dan pembantaian secara besar-besaran terhadap para guru dan ilmuwan. Juga jatuhnya Andalusia yang diikuti dengan pembasmian kebudayaan dan identitas Islam sampai ke akar-akarnya (Quthub, 1988: 10).  Hal ini mengakibatkan umat Islam kehilangan harmoni dan tidak menentu arahnya. Kepahitan ini ditambah lagi dengan kekalahan umat Islam dalam perang Salib III sehingga konsekuensi yang harus diterima adalah hancur dan hilangnya ruh peradaban. Lebih tragis, kekhalifahan Turki Usmani jatuh pada tahun 1924.  Umat Islam pun mengalami kemunduran yang serius dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan kebudayaan yang diikuti kekalahan dalam kehidupan intelektual, moral, kultural, dan ideologi.  

Revolusi industri di Inggris dan revolusi sosial politik di Perancis pada paruh kedua abad ke-18 yang merupakan titik awal pencerahan (renaissance) di Eropa menuju peradaban modern mengantarkan Barat mencapai sukses luar biasa dalam pengem-bangan teknologi masa depan. Sedangkan Umat Islam malah mengalami kemunduran-kemunduran sistemik dalam alur peradabannya. 

Sejak terjadinya pencerahan di Eropa, perkembangan ilmu-ilmu rasional dalam semua bidang kajian sangat pesat dan hampir keseluruhannya dipelopori oleh ahli sains dan cendikiawan Barat. Akibatnya, ilmu yang berkembang dibentuk dari acuan pemikiran falsafah Barat yang dipengaruhi oleh sekularisme, materialisme dan humanisme sehingga konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri tidak bisa terhindar dari pengaruh pemikiran sekulerisme, materialisme dan humanisme dengan menghilangkan segala kemungkinan nilai-nilai transendental.  Konsep pemikiran demikian dikonsumsi oleh umat Islam, yang karena posisinya sebagai umat yang kalah, cenderung silau dan  tergantung kepada Barat. Umat Islam,  mengidap penyakit yang oleh Abulhassan Banisadr disebut Westomania, penyakit kejiwaan yang menganggap Barat segalagalanya (Amien, 1990: 70). Umat Islam mempelajari sains Barat tanpa menyadari kaitan tali-temali historis Barat dan ilmu-ilmu Barat, sehingga umat Islam pun terjatuh dalam hegemoni Barat (imperialisme cultural) dan proses ini mengakibatkan esensi peradaban Islam semakin tidak berdaya di tengah kemajuan peradaban Barat yang sekuler.

Hegemoni peradaban Barat yang didominasi oleh pandangan hidup saintifik (scientific worldview) tersebut, menurut Adnin Armas, membawa dampak yang sangat negatif terhadap peradaban lainnya, termasuk Islam (Adnin, 2005). Pada tataran epistemologi, terjadi proses westernisasi yang dikatakan Syed Naquib al-Attas sebagai “virus” yang terkandung dalam ilmu pengetahuan Barat modernsekuler, dan ini merupakan tantangan terbesar bagi kalangan kaum muslimin saat ini (Daud, 1998).

Saat ini telah muncul kesadaran bahwa paradigma ilmu pengetahuan yang  telah terpengaruh oleh sekularisme, materialisme dan humanisme telah menjadikan pengetahuan modern menjadi kering dan kehilangan nilai-nilai transendental (terpisah dari nilainilai tauhid dan teologis). Akibatnya, terjadi pengasingan dan pemisahan dalam kehidupan manusia. Manusia memahami alam sebatas realitas cembung dengan mengandalkan akal semata tanpa memberi peluang kepada kemungkinan-kemungkinan transenden mempengaruhi seseorang (Syaefuddin, 1987: 46).

Manusia modern menderita pengasingan (alienation) dan anomali. Terdapat ketidakseimbangan, ketidakharmonisan dan ketidaktertiban. Akibatnya dunia saat ini dihadapkan pada krisis multidimensi, yaitu sebuah krisis yang jangkauan wilayahnya  mendunia, cakupan aspeknya beragam, dan mempunyai bobot permasalahan yang amat tinggi. Haidar Bagir dan Zainal Abidin dalam pengantar buku Filsafat Sains menurut Al Qur’an menyebut krisis tersebut sebagai krisis global umat manusia (Haidar dan Zainal Abidin, 2003). Krisis-krisis tersebut meliputi krisis ekologi, krisis ekonomi, krisis politik, krisis moral maupun krisis kepribadian. Jiwa manusia kini mengalami schizophrenia kerohanian, yang tidak mempunyai jalan keluar kecuali dengan kembali menghidupkan nilai-nilai transendental . 

Pada sisi lain, ada kecenderungan keilmuan Islam yang bersentuhan dengan nilai-nilai teologis dan fiqih, terlalu berorientasi pada religiusitas dan spiritualitas tanpa mempedulikan betapa pentingnya ilmu-ilmu umum yang dianggap sekuler. Ada kecenderungan pemikiran dikotomik di kalangan umat Islam.  Sains umum (sains modern Barat) sering dianggap rendah status keilmuannya (Kartanegara, 2005: 20).

Demi menjaga identitas keislaman, ada kecenderungan umat Islam bersikap defensif dan eksklusif. Ini terjadi misalnya di Pondok Pesantren dan Madrasah yang cenderung hanya menekankan pengkajian keilmuan keislaman. Pada sisi lain di lembaga pendidikan umum cenderung mengabaikan pengkajian keilmuan keislaman. Hilangnya aspek kesakralan dari konsep ilmu umum serta sikap keilmuan muslim yang defensif menyebabkan terjadinya stagnasi . Hal ini   berbahaya bagi perkembangan keilmuan Islam. Karena itu, muncullah sebuah gagasan untuk mempertemukan kelebihan-kelebihan di antara keduanya, sehingga lahir keilmuan baru yang modern tetapi tetap bersifat religius dan bernafaskan tauhid, gagasan ini kemudian dikenal dengan istilah "Islamisasi Ilmu Pengetahuan".  

Gagasan ini sangat popular semenjak awal dicanangkannya dan hingga sekarang masih menjadi pembicaraan di kalangan umat Islam, baik yang mendukung maupun yang menolaknya. Gagasan ini juga sangat urgen mengingat semakin meningkatnya kesadaran para intelektual akan perlunya upaya mentransendenkan ilmu pengetahuan. Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai spiritual dalam ilmu pengetahuan  setidaknya diungkapkan  oleh Alexis Carrel, pemenang hadiah nobel dalam bidang kedokteran yang didalam bukunya, Man the Unknown mengungkapkan bahwa manusia adalah makhluk misterius yang belum sepenuhnya terungkap, karena ada sisi lain (sisi rohani) yang menyertai jasmani manusia (Quraisy, 1992: 68).

Memperkokoh tesis Carrel, telah terbit sebuah buku yang menghimpun para piskolog, ahli fisika, dan ahli astronomi yang sepakat bahwa kita sekarang memerlukan kembali penghayatan yang sifatnya keagamaan (Fikri, 2004).  Jauh sebelumnya , Albert Einstein  juga mengatakan, “Science without Religion is blind, and Religion without science is lame” , ilmu tanpa agama adalah buta, agama  tanpa ilmu pengetahuan lumpuh (Suriasumantri, 2007: 271).

Fenomena kesadaran para intelektual ke semangat ilmu pengetahuan yang memiliki nilai spiritual menunjukkan bukti bahwa pada akhirnya manusia akan  mencari sesuatu yang fitrah, yaitu kembali kepada Tuhan, karena pada hakekatnya dalam diri manusia ada naluri rohani seperti yang dinyatakan  dalam al Qur’an.  

          “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;    tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan mansusia menurut      fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang          lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ar Ruum : 30)

 

Sayyid Quthb dalam tafsir Fi zhilalil Qur’an menyatakan, fitrah dan agama Allah  (Islam) mempunyai keselarasan (Quthb, 2004).

Maka ketika kembali kepada Islam adalah suatu yang selaras dengan jiwa kemanusiaan. Dan dengan demikian Islamisasi ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan hakiki manusia. 




Pada sisi lain, Islamisasi ilmu pengetahuan memiliki posisi urgen dalam kerangka mewujudkan peradaban kemanusiaan yang dilambari nilainilai tauhid. Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan sebuah proyek besar menghadirkan Islam sebagai Rahmatan Lil ’alamien, sekaligus untuk membuktikan bahwa al Islamu ya’lu wa laa yu’la alaihi dan umat Islam sebagai khoiru ummat. 
Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.