Terkadang modernitas
datang di sebuah dunia yang tak
terduga. Terkadang tak jelas dari luar atau dari dalam ia muncul. Kita dengar kisah Djasi’ah misalnya. Ia tokoh utama dalam Emak, memoar yang ditulis Daoed Joesoef tentang ibunya yang dikenangnya
dengan penuh rasa cinta itu.
Perempuan ini datang dari keluarga petani di Sumatera utara, dan menikah dengan Mochammad Joesoef,
seorang pengusaha susu lembu
yang juga berladang.
Pasangan
suami-istri itu buta huruf Latin. Berakar di lingkungan Nahdlatul Ulama, keluarga itu membesarkan
kelima anaknya dengan
ritual Islam yang lazim. Tradisi tak boleh diabaikan. Nasihat Djasi’ah kepada anaknya “Kau harus berlaku sebagai batang air...”. Sebab, sekalipun sungai itu tetap
terus mengalir ke muara dan semakin menjauhi mata
airnya, “ia tidak pernah memutuskan
diri barang sedetik dari sumbernya itu..”.
Dengan kata
lain, antara muara dan sumber, antara arah dan asal, tak jatuh bayang-bayang. Tapi kita kemudian
tahu bahwa ada bayang-bayang
lain di kampung di tepi kota
Medan itu, Dalam empat
dasawarsa pertama abad ke-20 itu, ketika hutan masih rimbun dan sungai masih bersih. Di sana,
dunia modern tampak tumbuh tak
terduga. Djasi’ah
adalah bagian dari yang tak terduga itu. ia punya lima anak, tiga di antaranya
perempuan, dan di antara anaknya yang lelaki adalah Daoed Joesoef, orang Indonesia
pertama yang mendapat gelar Doctorat d’Etat dengan sebutan cum laude pula, dari
Universitas Sorbonne, Prancis. Daoed Joesoef sadar, ia telah bisa melintasi
dunia kampung di Medan itu dan masuk ke kancah akademi di Eropa Barat karena ia
adalah bagian dari kehidupan baru yang dibangun oleh seorang emak yang
menakjubkan.
Djasi’ah digambarankannya sebagai seorang perempuan yang bertubuh langsing
semampai, berambut ikal dan panjang, berkulit bersih yang terawat. Tapi
perempuan ini juga seorang yang merupakan bagian dari argumen tentang pelbagai
persoalan hidup: pendidikan, lingkungan, agama dan masyarakat, ilmu pengetahuan.
Mungkin dengan demikian ia kedengaran terlampau menakjubkan. Tapi rasanya
bukan hanya imajinasi pengarang ketika dikisahkan bagaimana perempuan ini
berani menentang apa yang dianggap lazim dan baik oleh masyarakat sekitarnya. Djasi’ah
belajar naik sepeda. Dengan demikian ia jadi perempuan pertama di kampung itu
yang berperilaku demikian, seraya mengenakan serual panjang. ia tahu orang akan
bergunjing sebab itu, tapi ia tak peduli. ia tetap naik sepeda, seperti ia
tetap mempertahankan anaknya yang perempuan bersekolah di Meisjes
Vervolgschool. Si Daoed juga dikirimnya ke sekolah Belanda, yang oleh orang
kampung disebut sekolah kafir.
Djasi’ah memang tak terduga-duga, tapi dunia modern datang kepadanya tak
hanya dalam bentuk sepeda, atau tonil dari betawi, atau topi baret. Dunia itu juga tak datang dalam
sebuah ruang yang kosong.
Sebab di sana terbentang sebuah masyarakat kolonial yang tegang. Di sana telah hadir
Soelaiman, yang kemudian
dibuang ke Digul oleh pemerintah, dan Mas Singgih, yang bekerja diam-diam di kalangan kuli perkebunan
untuk mencetuskan perjuangan
politik.
Kolonialisme
sering membawa hal-hal yang tak diniatkannya sendiri. Sang penjajah hendak menetapkan posisi si terjajah di dalam dunia dan sejarah yang
terpisah, yang satu Barat dan yang lain Timur, yang satu modern dan yang lain tradisional, yang satu maju, yang lain asli. Terkadang kategori
itu melekat, tapi tak jarang si terjajah
merasa terancam, terjepit, dan ia
pun menerobos keterpisahan itu.
Hasilnya
adalah sebuah mimicry, seperti ketika bunglon mengubah warna tubuhnya mengikuti latar tempatnya
menempel. Si bunglon ingin selamat. Orang
bisa mencemoohnya, tapi pada
saat itu, yang menyamar sebenarnya yang membebaskan diri. Modernitas sebagai mimicry itulah mungkin yang mendorong Soelaiman menempuh jalan Belanda dengan belajar tata buku dan hitung dagang, bahasa Belanda serta Inggris. Seperti Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer: Seorang
perempuan yang menerobos batas gender, kelas, warna kulit, dan menyamakan diri setaraf dengan sang
Tuan.
Djasi’ah bukan Nyai Ontosoroh. Dunianya -sebagaimana dikenang oleh seorang
anak- tak memantulkan ketegangan masyarakat kolonial seperti yang digambarkan
Bumi Manusia. Kampung itu teramat damai, rumah terasa teramat rukun, kebun,
bunga, tetangga dan hutan terasa sebagai bagian dari sebuah harmoni agung, sebuah
gambaran idyllic yang hanya bisa ditangkap oleh nostalgia.
Tapi Emak juga tampaknya bisa menangkap modernitas sebagai mimicry, meskipun
kiasan batang air yang saya kutip diatas tetap melekat pada dirinya. Dengan itu, baginya modernitas tampak tumbuh dari dalam, tanpa
konflik, bukan dari luar, dari Barat.
Di keluarga
Joesoef yang salih itu, Islam dan ritualnya memang tak menjadi lekang. Di sini agama dihayati sebagai akal, dan sebab itu bisa menangkap apa yang
universal. Dengan akal, Djasi’ah,
seorang perempuan tak terpelajar di kampung Kota Medan pada awal abad ke-20, bisa menyimpulkan hal
yang sama dengan yang
disimpulkan seorang filosof Jerman abad ke-19.
Kenapa
tidak? Kini orang masih belum capek bergumam tentang bentrok peradaban seraya
bimbang, mungkinkah ada sesuatu
yang universal di percakapan kita, sesuatu yang bias menjangkau orang lain di mana saja,
siapa saja. Dewasa ini, dengan
semangat bentrok peradaban,
bahkan agama diangkat bukan
sebagai salam, tapi sebagai perisai untuk menutup diri.
Pada saat
seperti ini, tak ada salahnya kita ingat Emak yang Pandai memasak. Dari arah
dapurnya ia menemukan kiasan lain. Baginya, lebih baik agama ibarat garam: meresap, menyebar, dan memberikan manfaat di mana-mana, tanpa
kelihatan.
Oleh : Syadad K Nabil

