Kebutuhan Manusia terhadap Agama



Manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Kedua unsur ini menentukan postur manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna.[1] Unsur jasmani memiliki kelengkapan organik yang berfungsi sebagai mekanisme biologis. Sedangkan unsur rohani memiliki daya pikir (akal, rasio) dan daya rasa (dzauq, qalb) atau akal budi yang berfungsi sebagai mekanisme kejiwaan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Agama merupakan fitrah insani yang asasi. Tanpa agama, manusia akan kehilangan kebutuhan fitrahnya, dan tidak akan dapat menemukan pemenuhan kebutuhan spiritualnya. Kebutuhan manusia akan udara, air, makanan dan lain-lain yang bersifat material sebagai kebutuhan jasmani, pada hakikatnya sama seperti kebutuhan manusia terhadap agama yang bersifat spiritual sebagai kebutuhan rohani. Kebutuhan yang bersifat material dapat mematikan jasmani manusia. Seperti manusia tanpa terpenuhi akan kebutuhan udara, air, makanan dan lain-lain. Demikian halnya kebutuhan yang bersifat spiritual juga dapat mematikan rohani manusia jika tidak terpenuhi kebutuhannya. Kenyataan membuktikan, ketika seseorang berusaha mengejar kepuasan dan kebahagiaan dengan jalan memenuhi kebutuhan material, ternyata yang diperoleh bukan yang ia cari, tetapi yang ia temukan adalah kehampaan dan kegelisahan, akhirnya ia menemukan kepuasan dan ketentraman itu dalam agama. Hal itu membuktikan bahwa agama sangat dibutuhkan oleh manusia.

Secara psikologis manusia membutuhkan ketenangan dan ketentraman batin. Ketenangan dan ketentraman batin tidak akan cukup dengan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Berapa banyak orang yang secara material memiliki kelebihan, kemewahan dan kekayaan yang menumpuk, tetapi ternyata batinnya tidak tenang dan tidak tentram. Sebaliknya berapa banyak orang yang secara material cukup pas-pasan, tetapi ternyata batinya tenang dan tentram. Dengan demikian, agama hadir untuk memberikan ketenangan dan ketentraman batin manusia.

Uraian di atas tidak berarti fungsi agama (Islam) hanya merespons kebutuhan rohani yang bersifat spiritual saja, tetapi agama (Islam) juga merespons kebutuhan jasmani yang bersifat material. Untuk kebutuhan yang disebut akhir ini, Islam merespons dalam bentuk motivasi, etos kerja, nilai etik, dan norma. Hal ini terlihat jelas dalam sistem ajaran mu'amalah. Islam berbicara tentang politik, ekonomi, sosial, budaya dll. Sedangkan respons Islam terhadap kebutuhan spiritual terlihat jelas dalam sistem ajaran aqidah, ibadah, dan Akhlak.

Secara sosiologis, manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup seorang diri tanpa berhubungan dengan orang lain. setiap individu akan membutuhkan individu yang lain dan demikian seterusnya sehingga terjadi saling berinteraksi antara mereka sesamanya. Interaksi itu terjadi dalam segala aktivitas kehidupan. Dalam aktivitas ekonomi misalnya, terjadi interaksi dalam rangka mereka memenuhi kebutuhan ekonomi. Demikian pula dalam aktivitas-aktivitas lainnya seperti, sosial, politik, budaya dll. Di dalam saling berinteraksi itu sangat dimungkinkan akan terjadi disharmoni, karena mereka saling menuntut kepentingan masing-masing. Untuk mencapai kepentingan ekonomi boleh jadi terjadi pemerasan, penipuan dan lain-lain.

Demikian pula dalam bidang-bidang kehidupan yang lain dimana disharmoni sangat dimungkinkan terjadi. Untuk mengatasi kemungkinan terjadinya disharmoni itu diperlukan aturan-aturan. Aturan-aturan itu ada yang dibuat oleh manusia berdasarkan kesepakatan, dan ada aturan yang datang dari Tuhan. Aturan yang dibuat oleh manusia berdasarkan kesepakatan bersifat nisbi dan tidak universal. Sedangkan aturan yang datang dari Tuhan itulah yang disebut agama. Agama sebagai aturan yang berasal dari Tuhan bersifat sakral, mutlak dan universal. Karena itu, aturan agama lebih dijunjung tinggi dan dihormati oleh penganutnya ketimbang dari aturan yang dibuat oleh manusia. Dengan demikian agama secara sosialogis sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mengatur kehidupan mereka, agar terjalin hubungan antar mereka dengan harmonis. Jika terjadi adanya konflik, kekerasan, bahkan peperangan atas nama agama sebenarnya bukan karena kesalahan ajaran agama, tetapi kesalahan manusia dalam memahami dan bersikap terhadap agama.

Secara kultural, agama memberi nilai etik dan norma terhadap kebermaknaan sebuah kultur. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari ada bentuk sapaan dengan ucapan salam ketika berjumpa sesama muslim. Ucapan salam jelas lebih memiliki nilai dan norma yang terkandung di dalamnya sehingga memiliki makna yang luhur ketimbang hanya sekedar teguran atau sapaan biasa menurut adat istiadat. Dengan demikian agama memberikan kebermaknaan terhadap setiap tradisi yang berkembang di tengahtengah masyarakat. Dengan demikian, agama selain dapat melahirkan kultur dan peradaban, dan pada saat yang sama agama juga dapat mewarnai kultur yang telah ada di tengah-tengah masyarakat. 

Dengan agama, manusia dapat mengetahui akan hakikat dan fungsinya, dari mana dia berasal dan apa tugas hidup di dunia ini serta hendak kemana akhir dari kehidupannya. Dengan agama pula manusia dapat mengetahui arah dan tujuan hidupnya. Sebaliknya tanpa agama, manusia tidak mengetahui terhadap hakikat diri dan fungsinya, juga tidak memperoleh kepastian akan kemana arah dan tujuan hidupnya. Dalam hal ini agama datang untuk menuntun manusia dan menjelaskan hakikat dan fungsinya serta arah dan tujuan hidupnya. 

Menurut Naisbit dan Aburdene dalam Megatrent 2000 bahwa abad ilmu pengetahuan dan teknologi, yang kemudian disusul dengan abad komunikasi dan informasi ternyata tidak mampu memberikan makna dalam kehidupan, tetapi yang terjadi adalah ledakan krisis yang mendalam pada berbagai aspek kehidupan.[2] Menurut mereka abad ini adalah abad kemenangan bagi agama. Pertanyaannya, agama dan keberagamaan yang seperti apa yang dapat memenuhi kebutuhan spiritual dan dapat menjamin hubungan yang harmonis dalam masyarakat. Jawabannya: Pertama; Agama yang sesuai dengan fithrah manusia, yang tentu agama yang berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia. Kedua; Agama bukan dalam bentuk formalistik atau institusi keagamaan, tetapi agama dalam bentuk spiritualistik esotorik, dan yang disebut akhir ini adalah tasawuf. 



[1] Lihat: al-Qur`an Surat al-Tin ayat 4-5.

[2] Dikutip oleh Amin Syukur dan Abdul Muhaya, Tasawuf dan Krisis, (Surabaya: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan IAIN Wali Songo, 2001), h. viiviii. 

Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.