Refleksi Perayaan Hari Raya Di Tengah Pandemi


 Idul Fitri tahun ini nampaknya tidak jauh berbeda dari tahun kemarin, dimana silaturahmi dilakukan tanpa adanya sentuhan ataupun pelukan antar manusia. Meminta maaf dan bertegur sapa kepada sanak keluarga pun dilakukan secara virtual.

Lantas bagaimana kita memaknai Idul Fitri tahun ini di tengah pandemi covid 19?

Idul Fitri adalah momen perayaan kemenangan batin setelah berpuasa sebulan penuh. Kemenangan sejatinya bertempat di hati, tidak hanya di dalam permukaan ekspresi sosial. Silaturahmi, takbir keliling, mudik, dan mengunjungi rumah sanak saudara hanyalah bagian dari ekspresi kegembiraan, bukan serta merta wujud dari rasa syukur.

Banyak orang suka keramaian, seperti mengekspresikan sebuah perayaan keagamaan dengan penuh emosional. Namun, dilarangnya takbir massal melalui festival budaya dan emosional keagamaan seperti mengandung makna tersirat bahwa Tuhan masih ingin disapa dengan penuh keheningan.

Euforia umat muslim dalam mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid biasanya digelar di ruang-ruang publik. Sedangkan Idul fitri kali ini, hanya bisa dilakukan di musholla komplek dengan orang-orang terbatas.

Dalam hal ini masyarakat tak pernah jeda menunaikan ibadah dan memanjatkan do'a dengan harapan anugerah serta rahmat Allah SWT dapat segera mengangkat wabah virus covid-19. Titik inilah manusia harusnya menyadari manusia hanyalah mahluk yang penuh kelemahan sedangkan semua kuasa hanya milik Tuhan yang Maha Perkasa.

Dalam tradisi Islam, silaturahmi lebaran menjadi hal penting. Tradisi ini menekankan saling terbukanya hati dan pikiran dari khilaf dan salah orang lain. Artinya, masing-masing individu dituntut memberikan maaf seluas-luasnya kepada sanak saudara, teman-teman, bahkan semua orang yang pernah berinteraksi langsung ataupun tidak.

Memang, perayaan Idul Fitri secara memiliki makna besar secara sosial.Darii sini terlihat bahwa makna lebaran sangat tinggi, apalagi dibumbui dengan rangkaian tradisi yang sangat kental, seperti karnaval, halal bihalal, reuni, serta yang lainnya dengan segala keunikannya. Semua itu seakan mengurangi nilai sosialnya saat "personal touch" ditiadakan. Namun demikian, adanya "personal touch" tidak mengurangi spirit budaya lebaran, justru memperkaya budaya yang diciptakan masyarakat.

Berkaitan dengan euforia perayaan perayaan Idul Fitri yang tahun ini masih dilarang, mari melirik pendapat Prof. Dr. M. Quraish Shihab yang menjelaskan bahwa Idul Fitri itu maknanya bukan kemenangan. ”Kemenangan dari apa?” tanya beliau. Jika Idul Fitri dimaknai sebagai kemenangan maka sesungguhnya Idul Fitri justru menjadi media manusia untuk melakukan berbagai tindakan yang berlebihan seperti, makan berlebihan, belanja berlebihan, mengeluarkan uang tanpa perhitungan, dan berbagai tindakan berlebihan lainnya. Jika ini yang terjadi maka makna kemenangan tentu kurang tepat.

Menurut beliau, makna Idul Fitri yang pas itu adalah kembali suci. Makna ini menunjukkan bahwa Idul Fitri merupakan bagian penting dari proses manusia yang telah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Puasa sebulan seharusnya mampu menjadikan manusia kembali suci, yaitu manusia yang telah terhapus dosa-dosanya.

Satu hal menarik yang beliau sampaikan berkaitan dengan Idul Fitri yaitu janganlah merayakan Idul Fitri secara berlebihan. Saran ini beliau sampaikan karena banyak masyarakat merasa telah bebas, lepas, dan mendapatkan kemenangan dengan datangnya Idul Fitri.

Untuk itu, berbagai perilaku yang sesungguhnya kurang sesuai dengan spirit Idul Fitri justru dilakukan. Quraish Shihab menyatakan, ”Janganlah seperti mengurai benang yang ditenun satu persatu dengan pelan-pelan. Puasa ramadhan sebulan diibaratkan perempuan yang membuat kain tenun. Dirajutnya sabar, tawakal, kesederhanaan, kedisiplin, kejujuran, dan berbagai nilai positif lainnya. Semua tenunan akan terurai satu demi satu dengan hilangnya sabar, tawakal, kesederhanaan, kedisiplinan, dan sebagainya pada saat Idul Fitri”. Menarik sekali merenungkan pendapat pakar tafsir Indonesia tersebut.

Perjuangan puasa selama sebulan ibarat merajut benang tenun. Karena itu, janganlah kita mengurainya sendiri. Saat ini semua orang berbondong-bondong menyambut Idul Fitri. Pertanyaan penting yang layak diajukan, yaitu Masihkah tersisa kuat ”rajutan” nilai-nilai ramadhan dalam diri kita? Jika memang masih kuat, itulah harapan kita. Tetapi jika telah terurai satu persatu, marilah segera kita perbaiki kembali. Jangan sampai puasa ramadhan selama sebulan penuh yang kita jalani menjadi kehilangan maknanya yang substansial.

Mungkin penjelasan Prof. Dr. M. Quraish Shihab di atas cukup untuk memotivasi diri kita yang mungkin masih belum bisa terima jika lebaran tahun ini dirayakan secara terbatas sebagaiamana lebaran tahun lalu.

Pada akhirnya, konsep dasar dari perayaan lebaran adalah ketika kita mampu memberi maaf kepada sesama. Wabah covid-19 ini sama sekali tidak mengurangi ”megahnya tradisi Idul Fitri, karena dengan adanya imbauan ”lebaran di rumah saja” tetap menampakkan esensi dari perayaan Idul Fitri. Dan perlu kita sadari bahwa Pandemi memberikan hikmah yang besar kepada kita.

Penulis : Lerespati

Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.